Ketua DGB UI, Eko Prasojo. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Ketua DGB UI, Eko Prasojo. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Satu Juta Sarjana Nganggur di 2026, Guru Besar UI: IPK Tinggi Saja Nggak Cukup

Ilham Pratama Putra • 12 Agustus 2026 14:55
Ringkasnya gini..
  • Guru Besar UI menyoroti isu sekitar satu juta sarjana menganggur.
  • Perguruan tinggi diminta menjaga relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri.
  • Mahasiswa perlu dibekali hard competence sekaligus soft skill.
Jakarta: Fenomena satu juta lulusan S1 perguruan tinggi yang menganggur menjadi perhatian serius dunia pendidikan. Persoalan tersebut dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperbanyak lulusan sarjana, tetapi juga memastikan kompetensi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
 
Ketua Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Indonesia (UI) Eko Prasojo mengatakan perguruan tinggi perlu terus menjaga relevansi pendidikan dengan kebutuhan industri dan profesi. Hal itu menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja.
 
"Saya pikir ada dua hal. Yang pertama bagaimana kita menjaga tetap relevan dengan kebutuhan industri dan profesi. Itu melalui perubahan kurikulum, learning outcome atau output pembelajaran dan seterusnya," kata Eko dalam Temu Akbar Guru Besar UI, Rabu, 12 Agustus 2026.
 
Baca juga: Pengangguran Sarjana Tembus 1 Juta Orang  


Menurutnya, perguruan tinggi tidak bisa hanya berfokus pada kompetensi akademik atau hard competence. Mahasiswa juga perlu dibekali kemampuan nonakademik atau soft skill yang dapat menunjang mereka ketika masuk ke dunia profesional.
 
"Kemudian kita terus membangun soft skill dari mahasiswanya. Soft skill itu kemampuan dasar mahasiswa untuk bicara, untuk menulis, untuk memimpin, berinteraksi dengan orang dan seterusnya," jelasnya.
 
Eko menilai kompetensi akademik tetap menjadi fondasi utama lulusan perguruan tinggi. Namun, kemampuan tersebut perlu dilengkapi dengan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, kemampuan berinteraksi, hingga kemampuan beradaptasi.
 
"Yang pertama tadi hard competence itu adalah learning outcome pembelajaran apakah itu di bidang sosial, humaniora, kedokteran atau mungkin saintek. Tapi yang paling penting adalah memperkuat juga soft skill mahasiswa," ujarnya.
 
Pada kesempatan yang sama, Rektor UI Heri Hermansyah mengatakan persoalan ketenagakerjaan dan keterterapan lulusan merupakan bagian dari tantangan bangsa yang membutuhkan kontribusi perguruan tinggi. Menurutnya, para Guru Besar memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman yang dapat digunakan untuk memberikan alternatif solusi berbasis data.
 
"Para Guru Besar ini secara individu banyak yang menjadi konsultan ataupun diminta menjadi tim untuk mengkaji berbagai hal dari stakeholder kita, baik dari pemerintah, dunia usaha, ataupun dunia industri," kata Heri.
 
Baca juga: Lowongan Kerja King’s College London di KEK Singhasari 2026: Syarat dan Cara Daftarnya  

Heri mengatakan kontribusi tersebut kini ingin diperkuat melalui konsolidasi para Guru Besar UI. Dengan demikian, kepakaran yang dimiliki tidak hanya bergerak secara individu, tetapi dapat dihimpun untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat.
 
Ia menegaskan Guru Besar UI memiliki posisi sebagai Guru Bangsa. Karena itu, para akademisi dituntut memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan nasional sekaligus menawarkan solusi berdasarkan keilmuan dan data, termasuk keterserapan lulusan.
 
"Tujuan kita sebenarnya sebagaimana tadi menyampaikan hal-hal yang menjamin efektivitas dari berbagai kebijakan pemerintah," pungkas Heri.
 
Diketahui, angka pengangguran pada lulusan Sarjana masih tinggi. Dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Mei 2026 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat 1.033.182 lulusan DIV, S1, S2, S3 nganggur.
 
BPS mencatat komposisi angkatan kerja pada Mei 2026 terdiri atas 148,19 juta orang penduduk bekerja dan 7,22 juta orang penganggur.
 
Pengangguran adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang dalam seminggu terakhir tidak
bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan; mempersiapkan usaha baru; sudah diterima bekerja/sudah siap berusaha tetapi belum mulai bekerja/berusaha; atau merasa tidak mungkin
mendapatkan pekerjaan (putus asa). 
 
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) hasil Sakernas Mei 2026 sebesar 4,65 persen. Hal ini dapat diartikan terdapat sekitar lima orang penganggur dari 100 orang angkatan kerja. 
 
Apabila dilihat berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, selama periode November 2025 sampai Mei 2026, distribusi pengangguran menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan didominasi oleh tamatan Sekolah Menengah Atas. 
 
Pada Mei 2026, lulusan SMA yang menganggur mencapai 28,00 persen atau 2.021.600. Kemudian, lulusan SMK juga masih banyak menganggur dengan persentase mencapai 22,39 atau 1.616.558 orang. 
 
Diikuti lulusan SD ke bawah yang menganggur 17,18 persen atau 1.240.196 orang. Selanjutnya, lulusan Sekolah Menengah Pertama dengan jumlah penganggur 15,65 persen atau 1.130.030 orang. 
 
Lulusan Diploma IV, S1, S2, S3 yang menganggur mencapai 14,31 persen atau 1.033.182 orang. Jumlah ini naik dari Februari 2026 yang sebesar 14,27 persen. 
 
Distribusi pengangguran terendah adalah tamatan Diploma I/II/III yaitu sebesar 2,48 persen atau 179.056 orang. 
 
Sementara itu, orang yang bekerja berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan paling tinggi adalah lulusan SD ke bawah mencapai 35,40 persen atau 52.459.260 orang. Lalu, lulusan Sekolah Menengah Atas sebesar 20,72 persen atau 30.701.548 orang.
 
Selanjutnya lulusan Sekolah Menengah Pertama sebesar 17,58 persen atau 26.051.802 orang. Diikuti lulusan Sekolah Menengah Kejuaruan sebesar 13,12 persen atau 19.443.128 orang.
 
Lulusan Diploma IV, S1, S2, S3 yang bekerja mencapai 10,75 persen atau 15.930.425 orang. Terakhir lulusan Diploma I/II/III yang bekerja sebesar 2,42 persen atau 3.586.198 orang.
 
Meski begitu, BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Mei 2026 turun 0,03 persen poin dibandingkan dengan Februari 2026 sebesar 4,68 persen.
 
Jumlah angkatan kerja Indonesia pada Mei 2026 mencapai 155,41 juta orang. Dari jumlah tersebut, 148,19 juta orang telah bekerja, sedangkan 7,22 juta orang masih menganggur. 
 
Dibandingkan Februari 2026, jumlah penduduk yang bekerja meningkat sekitar 22 ribu orang. Sementara itu, jumlah pengangguran berkurang 24 ribu orang.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan