Mahasiswa ITS menggagas baterai ramah lingkungan. DOK ITS
Mahasiswa ITS menggagas baterai ramah lingkungan. DOK ITS

Mahasiswa ITS Gagas Baterai Ramah Lingkungan Kurangi Limbah B3

Pendidikan Ramah Lingkungan inovasi ITS
Renatha Swasty • 27 April 2022 17:07
Jakarta: Baterai berperan penting dalam penyimpanan energi untuk kehidupan sehari-hari. Namun, limbah baterai berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.
 
Sebanyak lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas baterai ramah lingkungan berbahan dasar mikroalga dan grafena. Inovasi itu untuk
menggantikan baterai kering.
 
Ketua tim Ersyad Dhillullah menjelaskan baterai sel kering yang banyak dijumpai di pasaran memiliki bahan dasar seng-karbon (zinc-carbon). Baterai zinc-carbon tersebut merupakan baterai tertua dan paling banyak digunakan untuk keperluan rumah tangga.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Jika sudah tidak dapat digunakan lagi, baterai tersebut akan menjadi limbah Bahan Beracun dan Berbahaya atau B3,” tutur Ersyad dalam keterangan tertulis, Rabu, 27 April 2022.
 
Ersyad menjelaskan meskipun digolongkan sebagai limbah B3, baterai bekas ini biasanya hanya dibuang ke tempat pembuangan sampah umum tanpa ada klasifikasi sampah lebih lanjut atau bahkan proses daur ulang. “Tentunya hal tersebut dapat membahayakan lingkungan dan juga kesehatan manusia,” ujar dia.
 
Ersyad bersama tim lalu menggagas Battery Microalgae Graphene (BMG) sebagai alternatif ramah lingkungan untuk menggantikan baterai zinc-carbon. BMG menggunakan kombinasi mikroalga (Chlorella Sp.) sebagai elektrolit dan grafena sebagai katoda.
 
“Dengan digunakannya elektrolit ramah lingkungan, BMG mampu mengurangi jumlah limbah kimia berbahaya,” papar Ersyad.  
 
BMG menghasilkan listrik ketika anoda mengalami reaksi oksidasi dan katoda grafena mengalami reaksi reduksi. Ersyad menyebut grafena digunakan karena efektif meningkatkan pengangkutan elektron dan ion.
 
Sehingga, penggunaan grafena dapat meningkatkan sifat kelistrikan baterai, memberikan stabilitas kimia yang lebih baik, serta konduktivitas listrik dan kapasitas energi yang lebih tinggi. Ersyad dan tim meyakini inovasi yang mereka gagas ini tidak termasuk mahal.
 
Meski, harus merogoh kocek lebih di awal, penerapan teknologi itu mampu memberikan daya tahan lebih kuat dan tahan lama. Sehingga lebih ekonomis.
 
“Dari hasil pengujian kinerja, BMG menunjukkan 26,67 persen lebih kuat dan memiliki kemampuan untuk bertahan 40 persen lebih lama dari baterai zinc-carbon lain yang ada,” beber mahasiswa Departemen Teknik Kimia ini.
 
Tim beranggotakan tiga mahasiswa Departemen Teknik Kimia lainnya, yaitu Eigiant Andarta Atmadja, Gustiana Merdikaningrum, Muhammad Rafli Revansyah, serta mahasiswa Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Mochammad Arsy Algifany Fudam. Ke depan, tim berharap BMG dapat segera diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk mendukung pengembangan green technology.
 
Ersyad dan tim juga berhasil meraih medali emas dalam ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2022 kategori Innovation Science. Inovasi mereka berjudul Battery Microalgae Graphene (BMG) - A Combination Paste of Chlorella Sp. and Graphene for an Eco-Friendly Battery: Durability Improvement of Zinc Carbon Battery.
 
Baca: Antasena ITS dan Ditjen ILMATE Kenalkan Mobil Ramah Lingkungan Gunakan Hidrogen
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif