Ilustrasi. Foto Pexels.com
Ilustrasi. Foto Pexels.com

Bikin Bangga! Pelajar Eropa dan Asia Pilih Indonesia untuk Pertukaran Pelajar AFS, Ini Alasannya

Ilham Pratama Putra • 05 Agustus 2026 16:37
Ringkasnya gini..
  • Sebanyak 17 pelajar asing asal Italia, Jepang, Spanyol, dan Swiss mengikuti AFS Year Program 2026–2027 selama 10 bulan di Indonesia.
  • Minat pelajar internasional ke Indonesia sangat tinggi, namun terkendala keterbatasan jumlah keluarga angkat (host family).
  • Bina Antarbudaya mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang untuk menjadi host family guna memperkenalkan budaya Indonesia.
Jakarta: Indonesia semakin dikenal sebagai destinasi favorit program pertukaran pelajar internasional. Kekayaan budaya, keragaman masyarakat, hingga keramahan penduduk menjadi alasan banyak pelajar mancanegara memilih menghabiskan hampir satu tahun belajar dan tinggal di Indonesia.
 
Tahun ini, sebanyak 17 pelajar asal Italia, Jepang, Spanyol, dan Swiss mengikuti AFS Year Program 2026-2027. Selama sekitar 10 bulan, mereka akan tinggal bersama keluarga angkat (host family) dan bersekolah di berbagai daerah di Indonesia untuk merasakan langsung kehidupan masyarakat Indonesia.
 
Ketua Dewan Pengurus Bina Antarbudaya, Sinta Kaniawati, mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara yang banyak diminati dalam jaringan AFS Intercultural Programs yang mencakup lebih dari 60 negara. Bina Antarbudaya merupakan pengelola sekaligus mitra program AFS di Indonesia.

"Peminat untuk pertukaran pelajar itu di Indonesia itu masih sangat tinggi ya kalau kita lihat yang terjadi di tahun ini," kata Sinta dalam keterangannya, Rabu, 5 Agustus 2026.
 
Baca juga: Mahasiswa Unair Belajar Budaya Disiplin ala Negeri Ginseng Lewat Program Student Exchange  

 
Namun, tingginya minat tersebut belum sepenuhnya dapat dipenuhi. Salah satunya karena jumlah keluarga angkat bagi pelajar internasional di Indonesia masih terbatas.
 
"Yang menentukan bukan hanya keinginan siswa datang ke Indonesia, tetapi juga berapa banyak keluarga Indonesia yang siap menerima mereka," kata Sinta.
 
Setiap tahun, organisasi mitra AFS di berbagai negara selalu menanyakan kuota peserta yang dapat diterima Indonesia. Bahkan, dalam pertemuan tahunan jaringan AFS, Indonesia secara konsisten dipromosikan sebagai negara tujuan karena memiliki kekayaan budaya yang sulit ditemukan di negara lain.
 
"Indonesia punya semuanya yang sebenarnya membuat orang ingin datang. Tapi kapasitas kita bergantung pada jumlah keluarga angkat yang tersedia," ujar dia.
 
Sejak mulai menerima peserta asing pada era 1970-an, Indonesia telah menjadi rumah kedua bagi hampir 2.000 pelajar dari lebih dari 30 negara. Banyak di antara mereka kini menduduki posisi strategis di negaranya masing-masing.
 
Sinta mencontohkan mantan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Penny Williams, merupakan alumni program pertukaran AFS di Indonesia. Begitu pula Direktur Jenderal The Japan Foundation Jakarta, Inami Kazumi, yang pernah mengikuti program serupa saat masih menjadi pelajar.
 
Menurut Sinta, pengalaman tinggal bersama keluarga Indonesia menjadi bagian paling berharga dalam program pertukaran pelajar. Interaksi sehari-hari membuat peserta tidak hanya belajar bahasa dan budaya, tetapi juga membangun hubungan yang kerap bertahan hingga puluhan tahun.
 
"Harapan kami mereka menemukan rumah kedua di Indonesia. Hubungan itu sering kali bertahan puluhan tahun bahkan setelah program selesai," kata dia.


Keramahan Indonesia Jadi Daya Tarik

Salah satu peserta, Mira Camenisch, siswi berusia 16 tahun asal Swiss, mengaku sejak lama ingin mengikuti program pertukaran pelajar. Dari sejumlah pilihan negara di Asia Tenggara, ia akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Indonesia.
 
Menurut Mira, keputusan itu dipengaruhi oleh cerita-cerita positif yang ia dengar tentang masyarakat Indonesia. "Saya selalu ingin mengikuti pertukaran pelajar untuk membuka wawasan. Saya memilih Indonesia karena hanya mendengar hal-hal baik, terutama tentang orang-orangnya yang ramah," ujar Mira.
 
Selama mengikuti masa orientasi, Mira mulai mengenal budaya Indonesia melalui makanan dan bahasa. Mie goreng dan salak menjadi makanan favoritnya, sementara ia mulai mempelajari ungkapan sederhana seperti "terima kasih" dan "sama-sama".
 
Dalam 10 bulan ke depan, Mira akan tinggal bersama keluarga angkat di Bandung sambil bersekolah di salah satu SMA setempat. Ia mengaku tantangan terbesarnya adalah mempelajari bahasa Indonesia agar dapat berkomunikasi dengan lebih baik.
 
Baca juga: 
 
 

 
"Saya pikir tantangan terbesar nanti adalah bahasa. Saya belum bisa bahasa Indonesia, jadi saya akan berusaha mempelajarinya secepat mungkin agar bisa berkomunikasi," kata dia.
 
Mira berharap pengalaman tersebut memberinya bukan hanya pengetahuan baru, tetapi juga keluarga kedua di Indonesia. "Saya ingin membangun persahabatan yang bertahan lama, terutama dengan keluarga angkat saya. Bahkan ketika nanti kembali ke Swiss, saya berharap hubungan itu tetap terjalin," ungkap dia.
 
Sinta menegaskan keluarga angkat tidak harus berasal dari kalangan tertentu. Program ini terbuka bagi siapa saja tanpa membedakan agama, profesi, maupun latar belakang ekonomi.
 
"Kami tidak membedakan agama ataupun profesi. Banyak keluarga sederhana yang justru memberikan pengalaman luar biasa bagi peserta karena mereka bisa melihat langsung keberagaman kehidupan masyarakat Indonesia," ujar dia.
 
Dia mengatakan menjadi host family juga tidak selalu berarti harus menerima peserta selama 10 bulan. Bina Antarbudaya menyediakan pilihan program dengan durasi tiga bulan hingga dua minggu sehingga masyarakat dapat menyesuaikannya dengan kondisi masing-masing.
 
Saat ini, sekitar 2.000 keluarga Indonesia telah berpartisipasi sebagai host family. Sebagian besar masih berada di Pulau Jawa, meski jumlah keluarga angkat di Kalimantan dan Sulawesi terus bertambah.
 
Sinta berharap semakin banyak keluarga Indonesia membuka pintu rumahnya bagi pelajar internasional. Menuru dia, langkah sederhana itu tidak hanya memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia, tetapi juga membangun persahabatan lintas negara yang dapat bertahan seumur hidup.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan