Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan mengatakan hal tersebut dalam acara Kolaborasi Berdampak: Program Akselerasi Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Kedokteran Gigi dalam Sistem Kesehatan Akademik di Jakarta.
“Pada tahun Akademik 2026-2027, pemerintah menyiapkan sekitar 1.000 beasiswa pendidikan dokter dan dokter gigi spesialis Sebanyak sekitar 750 beasiswa melalui LPDP, sedangkan 250 lainnya didukung pemda, kementerian, dan lembaga lain, rumah sakit, serta pihak swasta,” kata Fauzan, di Gedung Kemendiktisaintek, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.
Fauzan mengatakan, beasiswa ini digelontorkan untuk mengatasi persoalan krisis dokter, utamanya dokter spesialis dan dokter gigi spesialis di Tanah Air. Meskipun diakui Fauzan, persoalan yang terjadi di Indonesia tak hanya kekurangan jumlah, namun juga distribusinya yang belum merata.
“Di sejumlah daerah, masyarakat masih harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pelayanan dokter spesialis. Sementara itu pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi masih terkonsentrasi di wilayah tertentu,” kata Fauzan.
Sehingga percepatan pendidikan tenaga medis menjadi hal prioritas yang harus dipenuhi, sekaligus memastikan bahwa hasilnya sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. “Harapan kita sederhana, yakni jumlahnya semakin bertambah, penyebarannya semakin merata dan masyarakat semakin mudah memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu.,” imbuh Fauzan.
Kolaborasi Berdampak: Program Akselerasi Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Kedokteran Gigi dalam Sistem Kesehatan Akademik. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang
Sejak 22 Juli 2025, Kemendiktisaintek telah menjalankan program Percepatan Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan Kedokteran, khususnya pendidikan dokter spesialis dan subspesialis. Menurut Fauzan, program ini menunjukkan hasil yang cukup baik, dari target pembukaan 148 program studi baru, Kemendiktisaintek telah berhasil menambah 185 program studi pendidikan dokter spesialis dan subspesialis.
“Dengan penambahan tersebut, program studi PPDS meningkat dari 366 menjadi 551 program studi,” sebutnya.
Dari sisi kuantitas, kata Fauzan, jumlah mahasiswa PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) pada tahun 2026 pun telah mencapai sekitar 24 ribu orang. Pembukaan program studi baru berlangsung di 11 provinsi yang sebelumnya belum memiliki program PPDS, seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.
“Selain itu, telah dibuka enam jenis subspesialis baru. Capaian ini menunjukkan adanya kemajuan kapasitas pendidikan dokter spesialis. Namun, pekerjaan kita belum selesai,” tegasnya.
Ia mengatakan, penambahan program studi tersebut harus diikuti dengan pemetaan pemerataan tenaga medis dan peningkatan pelayanan kesehatan di daerah. Oleh karena itu program akselerasi ini perlu dilanjutkan dan diperkuat untuk mempercepatkan penuhan kebutuhan dengan penguatan pada tiga langkah utama.
​Mulai dari perluasan program beasiswa, perluasan penempatan residen tingkat mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan daerah, hingga, percepatan pengembangan pendidikan kedokteran gigi.
LPDP Siap Full Cover
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama LPDP, Yos Arsal menambahkan, dukungan beasiswa LPDP mencakup berbagai kebutuhan selama peserta menempuh pendidikan dokter spesialis. Pembiayaan tersebut meliputi biaya kuliah, biaya hidup, penelitian, ujian kompetensi, hingga kebutuhan penunjang lainnya.“Kita memberikan dukungan pembiayaan mencakup keseluruhan, tidak hanya tuition fee di universitasnya, tapi juga mencakup biaya hidup, dan juga biaya penelitian, biaya ujian kompetensi, hingga berbagai kebutuhan penunjang lainnya yang dibutuhkan selama masa studi,” imbuh dia.