Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

10 Perbedaan Sekolah Nasional Terintegrasi dengan Sekolah Negeri Biasa

Ilham Pratama Putra • 20 Juli 2026 16:03
Ringkasnya gini..
  • SNT dikelola Kemendikdasmen, mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu ekosistem pendidikan.
  • SNT menerapkan tiga lapis kurikulum, pembelajaran STEAMS, coding-AI, dan fasilitas berstandar internasional.
  • Murid SNT diseleksi khusus, otomatis lanjut SMA, serta dibina untuk berprestasi hingga tingkat internasional.
Jakarta: Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027 bukan berbeda dari sekolah negeri. Pemerintah merancangnya sebagai model pendidikan dengan tata kelola, kurikulum, hingga sistem pembelajaran yang berbeda dari sekolah negeri pada umumnya.
 
Perbedaan itu terlihat mulai dari siapa yang mengelola sekolah, cara penerimaan murid, jenjang pendidikan, hingga fasilitas yang disediakan. Pemerintah bahkan menargetkan SNT menjadi pusat peningkatan mutu pendidikan di setiap daerah.
 
"SNT dikembangkan sebagai pusat pengembangan pendidikan di daerah untuk mendorong pemerataan mutu pendidikan sampai ke berbagai wilayah di Indonesia," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti dalam taklimat media di Jakarta, Senin, 20 Juli 2026.
 
Baca juga: 
 
 

Menurut Mu'ti, SNT bukan hanya membangun sekolah baru. Program ini dirancang untuk menghadirkan layanan pendidikan berkualitas lebih dekat dengan masyarakat sekaligus menjadi penggerak peningkatan mutu sekolah-sekolah di sekitarnya.

"SNT hadir bukan sekadar proyek pembangunan sekolah baru. SNT adalah upaya mendekatkan layanan pendidikan bermutu kepada anak-anak di daerah. Kedua, mengembangkan potensi, minat, bakat, karakter, dan talenta anak secara optimal. Ketiga, menjadi pusat pertumbuhan mutu bagi sekolah-sekolah di wilayah sekitarnya," ujarnya.
 
Lantas, apa saja perbedaan Sekolah Nasional Terintegrasi dengan sekolah negeri biasa? Berikut perbedaannya:

Perbedaan Sekolah Negeri dengan Sekolah Nasional Terintegrasi


1. Dikelola Pemerintah Pusat
 
Jika SMP negeri dikelola pemerintah kabupaten/kota dan SMA negeri berada di bawah pemerintah provinsi, SNT langsung diselenggarakan oleh Kemendikdasmen berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 20 Tahun 2026 tentang Percepatan Peningkatan Mutu Program Sekolah Nasional Terintegrasi.
 
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dasmen PNFI) Gogot Suharwoto menjelaskan penyelenggaraan SNT dibuat secara khusus sehingga berbeda dengan tata kelola sekolah negeri yang berlaku saat ini.
 
"Yang sekarang ini berlaku kan SMP itu oleh kabupaten/kota, SMA itu oleh provinsi. Sementara SNT ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sehingga penyelenggaranya langsung pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah," kata Gogot.
 
2. Mengintegrasikan SMP dan SMA
 
Berbeda dari sekolah negeri biasa yang memisahkan jenjang SMP dan SMA, SNT menggabungkan keduanya dalam satu ekosistem pendidikan. Dengan konsep tersebut, perkembangan akademik maupun karakter murid dapat dipantau secara berkelanjutan sejak SMP hingga lulus SMA.
 
3. Murid SMP Otomatis Lanjut ke SMA
 
Pada sekolah negeri reguler, lulusan SMP harus kembali mengikuti Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk masuk SMA. Di SNT murid yang diterima sejak jenjang SMP akan otomatis melanjutkan pendidikan ke SMA tanpa mengikuti seleksi ulang.
 
"Anak yang masuk SMP nanti otomatis akan dilanjutkan ke SMA karena kurikulumnya didesain berkelanjutan dan harapannya bisa kita pantau perkembangannya utuh," ujar Gogot.
 
4. Seleksi Khusus untuk Siswa Berprestasi
 
SPMB SNT tidak menggunakan mekanisme seperti sekolah negeri pada umumnya. Penerimaan dilakukan melalui dua jalur, yakni usulan sekolah berdasarkan data jalur prestasi dan undangan bagi siswa berprestasi yang datanya berasal dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). 
 
Seluruh calon murid kemudian mengikuti seleksi administrasi dan tes skolastik yang diselenggarakan secara nasional. Setelah itu barulah siswa diterima untuk menjalani pendidikan.
 
5. Menggunakan Tiga Lapis Kurikulum
 
SNT menerapkan tiga lapisan kurikulum yang tidak dimiliki sekolah negeri biasa. Lapisan pertama adalah Kurikulum Nasional sebagai fondasi pembelajaran. 
 
Lapisan kedua berupa Kurikulum Kekhasan Sekolah yang mengembangkan program unggulan sesuai karakter masing-masing SNT. Lapisan ketiga ialah Kurikulum Berbasis Konteks Lokal yang mengangkat potensi, budaya, serta kebutuhan daerah sebagai bagian dari proses belajar.
 
6. Pendekatan STEAMS dan Coding-AI
 
Selain kurikulum nasional, pembelajaran di SNT diperkuat dengan pendekatan STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, dan Sports). Pembelajaran juga didukung digitalisasi, materi coding dan kecerdasan buatan (AI), serta Learning Management System (LMS) yang disiapkan Kemendikdasmen.
 
Setiap SNT juga akan memiliki kekhasan sesuai potensi daerah. Seperti pertanian, perikanan, teknologi, hingga bidang unggulan lainnya.
 
7. Fasilitas Berstandar Internasional
 
SNT dibangun dengan fasilitas yang lebih lengkap dibanding sekolah negeri pada umumnya. Beberapa fasilitas yang disiapkan antara lain smart classroom, green school, laboratorium berstandar internasional, future library and learning commons, studio seni kreatif, pusat olahraga berstandar internasional, hingga pusat inovasi dan pengembangan guru.
 
8. Guru Direkrut Secara Khusus
 
Tidak hanya murid yang melalui proses seleksi, kepala sekolah dan guru SNT juga direkrut secara khusus oleh pemerintah pusat, dengan membuka kemungkinan perekrutan melalui jalur PNS. Kemendikdasmen saat ini telah menyelesaikan rekrutmen kepala sekolah dan masih melanjutkan proses seleksi guru untuk ditempatkan di SNT.
 
9. Pembinaan Talenta Lebih Terarah
 
Ekskul di SNT tidak hanya menjadi kegiatan tambahan, tetapi dirancang sebagai bagian dari pembinaan prestasi. Menurut Gogot, setiap kegiatan ekstrakurikuler akan diarahkan agar murid mampu berprestasi hingga tingkat nasional maupun internasional.
 
"Kita akan menyediakan berbagai macam ekskul bagi peserta didik supaya mereka tumbuh kembang bakat, minat, potensi mereka secara optimal. Di setiap ekskul ini akan kita targetkan anak-anak menjadi juara-juara, baik nasional maupun internasional," katanya.
 
10. Jumlah Murid Lebih Sedikit
 
Pada tahun pertama, setiap SNT hanya menerima dua rombongan belajar untuk jenjang SMP dan dua rombongan belajar untuk SMA. Masing-masing rombongan belajar diisi 20 murid sehingga total hanya terdapat 40 murid SMP dan 40 murid SMA atau 80 murid di setiap SNT.
 
Pemerintah menilai jumlah tersebut memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih intensif. Sekaligus memastikan pembinaan talenta dapat dilakukan secara optimal.
 
Tahun ajaran 2026/2027 menjadi awal operasional 17 Sekolah Nasional Terintegrasi di berbagai daerah. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut bertambah menjadi 37 sekolah pada 2027 dan mencapai 500 SNT pada 2029 sebagai bagian dari upaya pemerataan pendidikan bermutu di Indonesia.
 
Baca juga: 
 
 

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan