Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menghapus praktik perpeloncoan dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang menjadi bagian dari penguatan program MPLS Ramah di seluruh satuan pendidikan.
Selain melarang perpeloncoan, regulasi tersebut juga melarang segala bentuk kekerasan, pungutan, penggunaan atribut yang tidak memiliki nilai edukatif, kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan pendidikan, hingga pelibatan alumni sebagai penyelenggara kegiatan MPLS. Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menyebut aturan tersebut diterapkan agar setiap murid memperoleh pengalaman hari pertama sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
"Tidak boleh sama sekali ada perpeloncoan, kemudian juga segala bentuk kekerasan, pungutan, penggunaan atribut yang tidak memiliki nilai edukatif, kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan pendidikan, serta pelibatan alumni sebagai penyelenggara," ujar Suharti dalam webinar sosialisasi MPLS Ramah 2026 dikutip Kamis, 25 Juni 2026.
Di tengah terbitnya aturan baru tersebut, personel D'Masiv memiliki pandangan menarik terkait praktik perpeloncoan yang selama ini identik dengan stigma negatif. Menurut mereka, sejumlah kegiatan yang dahulu dilakukan saat masa orientasi siswa tidak selalu bermakna buruk, karena sebagian di antaranya juga bertujuan membangun karakter siswa.
D'Masiv sendiri merupakan grup musik yang beranggotakan Rian Ekky Pradipta sebagai vokalis, Nurul Damar Ramadan dan Dwiki Aditya Marsall sebagai gitaris, Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata sebagai bassis, serta Wahyu Piadji sebagai drummer. Di kalangan rekan dan penggemar, Rayyi akrab disapa Rai, Dwiki dikenal dengan panggilan Kiki, sementara Nurul lebih sering dipanggil Rama.
Rai dan Kiki membagikan pengalaman mereka ketika mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS), sebutan yang digunakan sebelum berubah menjadi MPLS. Saat ditanya mengenai pengalaman perpeloncoan atau bullying selama masa orientasi, keduanya mengaku tidak pernah menemui praktik tersebut saat bersekolah.
Kiki menjelaskan MOS yang dijalaninya justru lebih banyak berfokus pada pengenalan lingkungan sekolah. Baginya, kegiatan itu bertujuan membantu siswa baru memahami berbagai aspek kehidupan sekolah, bukan untuk mempermalukan atau merundung peserta.
"Iya, perpeloncoan, mungkin enggak semua kali. Di sekolah gua enggak pernah ngalamin yang berkonotasi perpeloncoan sih, MOS (di zaman gua) lebih ke arah pengenalan sekolah," ungkap Kiki ketika berbincang kepada Medcom.id di Kantor Media Group, Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026.
Pandangan serupa disampaikan Rai. Dia menilai MOS pada zamannya lebih banyak dimanfaatkan sebagai sarana pengenalan antar sesama murid baru.
Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat membangun pertemanan dan beradaptasi dengan lingkungan baru yang akan menjadi tempat mereka belajar. "Dulu sih sempat juga sih, kita pernah juga, misalnya pas, sebagai contoh saat mau masuk, kita disuruh pakai apa gitu, misalnya ada atribut tertentu, pernah juga sih pernah ya? Tapi itu kan mungkin fungsinya untuk supaya kita lebih disiplin ya, mematuhi peraturan ya, mengikuti peraturan," kenang Rai.
Ia menilai aturan tersebut dibuat untuk melatih kedisiplinan siswa baru dalam mematuhi ketentuan yang berlaku. Rai mencontohkan, saat itu murid baru terkadang diminta mengenakan pakaian dengan warna tertentu hingga memakai topi khusus sebagai bagian dari aturan selama masa orientasi sekolah.
"Jadi mereka bikin peraturan pakai baju yang kayak gini, misalkan hitam putih, terus pakai topi, apa namanya, camping yang di sawah tuh, ada yang gitu-gitu kan. Nah itu kan lebih ke lu nunjukin sisi disiplin kita sebagai murid baru mungkin ya, kita disuruh pakai itu ya kita turutin gitu-gitu sih," kata dia.
Kiki mengatakan para siswa baru saat itu dibimbing oleh kakak kelas untuk mengenal lingkungan sekolah. Selain itu, mereka juga diperkenalkan dengan berbagai aspek kehidupan sekolah, mulai dari kedisiplinan hingga membangun pertemanan dengan sesama murid baru.
"Sisanya mereka kayak ngasih sisi disiplin tentang lingkungan sekolah, tentang pertemanan, tentang sesama murid baru supaya lo bisa saling mengenal. Tapi kalau yang sampai menyiksa atau gitu sih, ke fisik apalagi itu enggak ada sih," beber Kiki.
Ketika ditanya mengenai penghapusan praktik perpeloncoan dalam MPLS 2026, Rai menilai sejumlah kegiatan yang dulu dijalankan saat MOS tidak semata-mata bertujuan untuk hiburan atau memberi perintah kepada siswa baru. Menurut dia, beberapa kegiatan justru memiliki tujuan melatih mental, kreativitas, kedisiplinan, hingga kekompakan antar murid baru.
"Sebenarnya kan kalau semua hal yang ada itu kayak bukan lucu-lucuan, misalnya itu untuk melatih kita sih, kayak untuk melatih mental, untuk melatih kreatif kita juga. Misalnya kan kadang suka disuruh berkreasi apa gitu kan, kadang memang sebenarnya tujuannya baik, cuma mungkin ada juga orang yang merasa keberatan melakukan itu," jelas Rai.
Meski begitu, Rai memahami ada siswa yang merasa terpaksa menjalani kegiatan tertentu saat MOS. Padahal, dia yakni setiap aktivitas memiliki tujuan yang ingin dicapai bukan sekadar perintah kepada murid baru.
"Itu kayak ah gue terpaksa ngelakuin ini, padahal sebenarnya itu akan ada apa istilahnya akan ada hasil yang dicapai dari itu, ada tujuannya gitu tapi tujuannya bukan cuma untuk nyuruh-nyuruh doang gitu. Padahal untuk melatih kita, supaya mental lebih kuat, supaya kita bisa punya disiplin, supaya kita juga bisa kompak dengan murid-murid yang lainnya, terus ya kreativitas pasti akan muncul juga gitu kan," ujar Rai.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan