Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq. Foto: Youtube SCG
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq. Foto: Youtube SCG

Cerita Perempuan Pertama Suku Bajo Jadi Doktor, Semua Anak Berhak Membangun Mimpi

Ilham Pratama Putra • 11 Agustus 2026 15:48
Ringkasnya gini..
  • Perempuan pertama dari suku Bajo disebut berhasil meraih gelar doktor dan kini menjadi dosen di ITBM Wakatobi.
  • Anak suku Bajo juga memiliki mimpi kuliah di Surabaya untuk mempelajari bidang perairan.
  • Wamendiktisaintek menilai pendidikan dapat membangun mimpi anak dan membuka peluang kehidupan yang lebih baik.
Jakarta: Pendidikan dapat membuka jalan bagi anak-anak dari komunitas yang selama ini menghadapi keterbatasan akses. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mencontohkan kisah seorang perempuan dari suku Bajo yang berhasil menembus pendidikan tinggi hingga jenjang doktor.
 
Fajar menceritakan pengalamannya bertemu dengan sejumlah anak suku Bajo dalam kunjungannya ke daerah. Salah satunya merupakan perempuan pertama dari suku Bajo yang berhasil meraih gelar doktor dan kini menjadi dosen di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi (ITBM Wakatobi).
 
"Saya juga bertemu dengan seorang perempuan, perempuan pertama suku Bajo yang meraih gelar doktor. Jadi ada perempuan suku Bajo meraih gelar doktor dan sekarang dia menjadi dosen di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi," ujar Fajar dalam Penganugerahan Beasiswa SCG Sharing The Dream 2026 di Jakarta, Selasa 11 Agustus 2026.
 
Baca juga: 
 
 

Menurut Fajar, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa latar belakang komunitas maupun lingkungan tempat seorang anak tumbuh tidak seharusnya menjadi batas bagi cita-cita pendidikan. Masyarakat suku Bajo yang dikenal memiliki kehidupan yang dekat dengan laut juga memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi.

Fajar juga menceritakan seorang anak suku Bajo yang memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke Surabaya. Anak tersebut ingin mengambil studi bidang perairan di Universitas Airlangga.
 
Mimpi tersebut muncul dari pengalaman kehidupan keluarganya. Orang tuanya bekerja melaut dengan peralatan yang masih tradisional sehingga sang anak berharap suatu saat dapat mempelajari teknologi yang bisa membantu pekerjaan tersebut.
 
"Waktu saya tanya kepada mereka, apa yang membuat mereka tergerak untuk sekolah? Ya karena mereka punya harapan ketika orang tuanya melaut mengambil ikan dengan peralatan yang tradisional, kelak mereka di kemudian hari bisa memberikan teknologi untuk bisa melaut," jelasnya.
 
Bagi Fajar, kisah tersebut memperlihatkan salah satu fungsi penting pendidikan, yakni membangun mimpi. Pendidikan membuat anak mampu membayangkan masa depan dan melihat peluang untuk memperbaiki kehidupan keluarganya.
 
Baca juga: Stok Guru PPG Capai 60 Ribu, Hanya 204 Guru Terpilih Mengajar di SNT  

 
"Dan itu satu hal yang diberikan oleh pendidikan adalah tadi, membangun mimpi," kata Fajar.
 
Dia menilai anak-anak yang tinggal di berbagai daerah, termasuk wilayah yang sulit dijangkau, tetap memiliki hak yang sama untuk memiliki mimpi. Negara memiliki tanggung jawab untuk membuka akses pendidikan agar mimpi tersebut tidak berhenti karena keterbatasan geografis maupun sosial.
 
"Daerah-daerah yang saya kunjungi itu adalah daerah-daerah yang cukup susah untuk dijangkau. Tetapi mereka, anak-anak yang tinggal di daerah tersebut, berhak punya mimpi dan berhak punya penghidupan yang lebih baik," ungkapnya.
 
Menurut Fajar, pendidikan menjadi salah satu cara untuk memberikan kesempatan tersebut. "Akses pendidikan yang baik diharapkan dapat membuka jalan bagi anak-anak di berbagai wilayah Indonesia untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memberi dampak bagi komunitasnya," pungkasnya. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan