Jakarta: Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i mendorong pemerintah daerah di Aceh menyediakan beasiswa pendidikan kedokteran bagi putra-putri daerah. Beasiswa dengan kewajiban mengabdi di daerah asal dinilai dapat menjadi solusi mengatasi ketimpangan distribusi dokter, terutama di wilayah terpencil.
Syafi’i mengatakan tantangan pelayanan kesehatan di Indonesia bukan hanya soal jumlah dokter, tetapi juga pemerataan tenaga medis. Sejumlah daerah masih kekurangan dokter dan dokter spesialis, sementara tenaga kesehatan cenderung terkonsentrasi di kota-kota besar.
Dia mendorong pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Aceh menjadikan beasiswa kedokteran sebagai salah satu prioritas pembangunan sumber daya manusia. Beasiswa dapat diberikan sejak pendidikan sarjana hingga spesialis, dengan ketentuan penerima kembali mengabdi di daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan.
"Jalan keluarnya adalah beasiswa, supaya yang betul-betul dibiayai itu anak daerah. Setelah tamat, mereka kembali bertugas di daerahnya," ujar Romo Syafi’i saat meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh dikutip dari laman kemenag.go.id, Jumat, 6 November 2026.
Syafi'i menilai skema tersebut dapat membantu pemerintah daerah menyiapkan kebutuhan tenaga medis lebih terencana. Putra-putri daerah yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan kedokteran diharapkan memiliki keterikatan dan komitmen untuk melayani masyarakat di wilayah asalnya.
Namun, beasiswa saja tidak cukup. Pemerintah daerah juga perlu memastikan dokter yang bertugas di wilayah terpencil memperoleh fasilitas kerja dan kesejahteraan memadai.
Dukungan tersebut dapat berupa penyediaan rumah dinas, kendaraan operasional, hingga tunjangan khusus agar tenaga medis dapat menjalankan tugas secara optimal.
"Dokter itu tidak mengenal jam kerja. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, mereka harus siap memberikan pelayanan. Karena itu, sudah sewajarnya dokter yang mengabdi di daerah terpencil mendapatkan fasilitas dan penghargaan yang layak," katanya.
Syafi’i juga mendukung pengembangan Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry, termasuk pemenuhan fasilitas laboratorium dan perangkat pembelajaran medis. Ia meminta universitas menyusun proposal kebutuhan secara terukur agar dapat dikoordinasikan dengan Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan.
"Kalau ada kebutuhan seperti yang disampaikan Pak Rektor, saya kira buat saja proposalnya dengan jelas. Nanti, selain dari Kementerian Agama, kita minta dukungan Kementerian Kesehatan untuk merealisasikan kebutuhan mendesak Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry," ujarnya.
Dia menyebut kehadiran Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry menjadi bagian dari perluasan kontribusi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dalam menjawab kebutuhan pembangunan nasional, khususnya di sektor kesehatan.
Pengembangan pendidikan kedokteran di PTKI juga mencerminkan integrasi ilmu keislaman dengan ilmu pengetahuan umum. Pendidikan Islam perlu terus berkembang untuk menjawab kebutuhan masyarakat .
Ilmu kedokteran memiliki kedudukan penting karena berkaitan langsung dengan upaya menjaga kehidupan dan mewujudkan kemaslahatan manusia.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan