Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudyaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tak begitu saja melepas sekolah dan guru menerapkan Kurikulum Merdeka. Kementerian menyiapkan sejumlah hal agar transformasi pembelajaran berjalan mulus.
"Di sini kami membantu sekolah yang berminat implementasi Kurikulum Merdeka, ketika mereka daftar ada self asesmen. Di mana sekolah-sekolah bisa melakukan penilaian diri di mana kesiapan mereka dalam implementasi kesiapan mereka," kata Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek, Iwan Syahril, dalam Sapa GTK Episode 2 dikutip dari YouTube Ditjen GTK Kemendikbud RI, Kamis, 31 Maret 2022.
Iwan menuturkan nantinya satuan pendidikan bakal mendapat rekomendasi pada tahap mana mesti memulai Kurikulum merdeka. Pihaknya tidak akan memberikan sesuatu yang lebih atau tidak pas.
"Ibarat kalau belajar bahasa Inggirs, pada tahap kompetensi misalnya elementary enggak bisa dikasih advance atau harusnya advance enggak bisa dikasih elementary," papar Iwan.
Setelah itu, sekolah bisa menyusun rencana untuk implementasi sesuai kesiapan. Kemudian juga menyiapkan strategi implementasi.
Kemendikbudristek juga menyiapkan sumber materi dan modul ajar yang bisa dipilih sekolah yang cocok dengan kurikulum yang direncanakan. "Penerapan tidak dikunci lagi, sekolah memiliki kekuasaan, fleksibilitas, membuat jalan sendiri," tutur dia.
Tak cuma itu, Kemendikbudristek juga memberikan bahan guru untuk belajar. Hal ini untuk meningkatkan kompetensi guru. Iwan menyebut bahan itu agar guru tidak bingung menghadapi anak-anak murid yang beragam.
"Karena ada kelompok yang belum mencapai materi, ada yang sesuai, ada yang lebih advance. Gimana caranya? Di situ modul belajar sekolah, ada video insiprasi guru-guru lebih jelas bagaimana kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan Kurikulum Merdeka," tutur Iwan.
Iwan menyebut Kurikulum Merdeka juga mendorong sekolah membentuk komunitas belajar. Komunitas tak cuma guru dan anak murid, tapi juga bisa antar sekolah.
"Ada panduan pengembangan komunitas akan kita buat. Kuncinya di sini membentuk komunitas belajar. Sumbernya sudah ada di platform Merdeka Belajar," kata Iwan.
Baca: Penerapan Kurikulum Merdeka Tak Wajib, Kemendikbudristek Tak Mau Ganti Kurikulum Cuma Kosmetik
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan