Bali Harmony Encounter Week 2026
Bali Harmony Encounter Week 2026

Wamen Stella Sebut RI Harus Jadi Arsitek AI Global

Citra Larasati • 08 September 2026 23:11
Ringkasnya gini..
  • Wamen Stella Christie dorong negara berkembang jadi arsitek AI aktif, bukan sekadar penonton pasif di era digital.
  • Ratusan kampus global berkumpul di Bali bahas kurikulum yang padukan skill teknologi AI dengan kepemimpinan etis.
  • Kemenag ajak generasi muda jadikan kedamaian sebagai fondasi utama dalam menghadapi derasnya disrupsi teknologi.
Jakarta: Arus disrupsi teknologi dan Kecerdasan Buatan (AI) yang kian deras memaksa dunia pendidikan untuk berbenah. Generasi muda Indonesia kini dituntut untuk tidak lagi sekadar menjadi penikmat teknologi, melainkan harus berani mengambil peran sebagai pencipta dan pengendali.

Pesan kuat ini menggema dalam rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 yang digelar pada 2-7 September di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali. Momen ini menjadi titik temu krusial antara akademisi, inovator muda, pemerintah, hingga pemimpin teknologi dari 70 negara untuk merumuskan arah pendidikan dan etika AI masa depan.

Peta Jalan AI untuk Pendidikan Tinggi

Salah satu sorotan utama dalam perhelatan ini adalah Bali Harmony Dialogue yang berlangsung di United In Diversity (UID) Bali Campus. Dalam kuliah umum bertajuk “Intelligence: Natural and Artificial”, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, menyoroti kesenjangan AI global yang kian lebar.

Ia memaparkan sebuah peta jalan strategis yang dirancang khusus bagi negara-negara berkembang. Sistem pendidikan tinggi di Indonesia, menurutnya, harus segera bertransformasi.

Tujuannya untuk mencetak lulusan yang mampu mengubah posisi bangsa dari sekadar konsumen teknologi yang pasif menjadi arsitek aktif dalam riset dan tata kelola AI di kancah global.

Sinergi Keahlian Teknis dan Etika Pemuda

Dorongan Stella sejalan dengan aspirasi kaum muda. Dalam sesi Consultative Dialogue on Youth, para inovator muda dan perintis industri secara tegas mengadvokasi pembaruan kerangka pendidikan. Mereka mendesak lahirnya kurikulum yang memadukan keterampilan teknis dengan kepemimpinan moral dan berpusat pada nilai-nilai kemanusiaan.

Diskusi ini semakin diperkaya lewat World Encounter Summit Bali: XI International Scholas Chairs Congress. Tidak tanggung-tanggung, delegasi dari lebih dari 140 universitas di 70 negara duduk bersama membedah tema “Artificial Intelligence and Human Meaning”.

Forum ini menyepakati, peran pemuda dan nilai kearifan lokal wajib menjadi fondasi utama dalam menyusun etika teknologi masa depan.

Tak melulu soal kode dan algoritma, perhelatan ini juga menyediakan ruang refleksi filosofis. Mengusung tema besar “Holding Space for Peace: Peace Within, Peace Among Us, Peace with All Life”, para delegasi mengikuti Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony 2026 di Sunset Mandala.

Perwakilan Yayasan UID, Suyoto menegaskan, pendidikan karakter dan kerukunan adalah kunci menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, kedamaian bukanlah sekadar tujuan akhir yang dicapai melalui teori, melainkan sebuah hubungan yang harus dirawat secara aktif setiap hari.

“Di tengah tantangan global yang berat, Indonesia terus mencatatkan peningkatan pada Indeks Kemajuan Manusia dan kerukunan umat beragama. Melalui THK Universal Reflection Forum, Yayasan UID mengemban semangat Tri Hita Karana yang kami yakini menjadi inti ajaran di seluruh agama dan tradisi di Indonesia,” terang Suyoto.

Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) turut menitipkan pesan krusial bagi generasi muda agar menjaga komitmen moral di lingkungan kampus maupun masyarakat.  Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Arskal Salim juga menyampaikan seruan aksinya.

“Transformasi besar tidak lahir dari satu cahaya raksasa, melainkan dari lilin-lilin kecil yang kita bawa bersama. Saya mengajak generasi muda dan seluruh umat beragama untuk menjaga nyala cahaya ini di rumah dan lingkungan kerja kita. Kedamaian dalam diri, kedamaian antarsesama, kedamaian dengan seluruh kehidupan, ini bukan sekadar slogan, melainkan seruan aksi nyata yang dimulai dari kita sendiri hari ini,” jelas Arskal.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan