Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Ahmad Fikri Syadzali, Sp.P., menuturkan abu vulkanik memiliki komposisi beragam, seperti silika dan kaca vulkanik. Material tersebut dapat memengaruhi saluran pernapasan ketika berkontak dengan mukosa.
“Material ini bisa memengaruhi saluran napas. Ketika material ini kontak dengan mukosa saluran napas, dapat menyebabkan iritasi, inflamasi, batuk, peningkatan produksi mukus, dan bronkokonstriksi,” jelas Ahmad dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 18 September 2026.
Ia menjelaskan tingkat dampak paparan abu vulkanik dipengaruhi oleh ukuran partikel, komposisi mineral atau kaca vulkanik, konsentrasi, serta lamanya paparan. Partikel berukuran kurang dari 10 mikrometer (PM10) dapat masuk melewati saluran napas atas hingga bronkus.
Sementara itu, partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (PM2,5) dapat mencapai bronkiolus dan alveolus, yaitu bagian paru-paru yang berperan dalam pertukaran oksigen. “Semakin kecil partikelnya semakin dalam penetrasinya. Hal ini juga menyebabkan semakin sulit untuk dikeluarkan,” tutur dia.
Inflamasi abu vulkanik dapat merusak epitel bronkus maupun alveolus, meningkatkan permeabilitas vaskular, serta menyebabkan edema atau peradangan pada saluran pernapasan. Kondisi tersebut juga dapat memicu hipersekresi mukus dan bronkokonstriksi.
Pada paparan jangka pendek, keluhan yang umum terjadi meliputi iritasi saluran pernapasan, batuk, tenggorokan terasa gatal atau perih, hidung berair atau tersumbat, peningkatan produksi dahak, sesak napas, dan napas berbunyi atau mengi. Sementara pada paparan yang berulang atau dalam jumlah yang tinggi dapat menyebabkan peradangan saluran pernapasan yang berlangsung lebih lama.
Paparan yang berlangsung terus menerus dapat menyebabkan gangguan pada fungsi paru. “Salah satu kandungan dari abu vulkanik adalah silika. Pada paparan jangka panjang atau inflamasi berulang dapat menyebabkan silikosis paru maupun kanker paru,” ujar dia.

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. DOK Tangkapan Layar
Ahmad menegaskan risiko gangguan kesehatan tersebut perlu menjadi perhatian seluruh masyarakat. Meski setiap orang dapat mengalami dampak akibat paparan abu vulkanik, terdapat kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.
Sebab, saluran pernapasannya lebih sensitif, fungsi paru belum berkembang sempurna, fungsi paru sudah menurun, atau memiliki penyakit sebelumnya yang dapat diperburuk oleh paparan partikel dan gas vulkanik.
“Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit respirasi atau kardiovaskular sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih,” ujar dia.
Dia menyampaikan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, pencegahan paparan abu vulkanik bertujuan mengurangi jumlah abu yang terhirup, mengurangi lamanya paparan, serta mencegah abu masuk atau terakumulasi di dalam rumah. Masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker respirator yang sesuai, seperti N95, ketika harus beraktivitas di wilayah terdampak.
Penggunaan kacamata pelindung juga diperlukan untuk melindungi mata dari paparan abu vulkanik. Selain itu, masyarakat perlu menghindari berkendara ketika hujan abu berlangsung berat.
“Sementara itu, ketika berada di dalam rumah, masyarakat perlu menutup pintu dan jendela, serta mengurangi infiltrasi udara dari luar untuk mencegah abu masuk ke ruangan. Tubuh dan pakaian juga perlu dibersihkan setelah terpapar. Selain itu, sumber makanan dan air harus tetap terlindungi dari kontaminasi abu vulkanik,” jelas dia.
Apabila seseorang telah terpapar abu vulkanik dan mengalami keluhan pernapasan, ia mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan gejala yang dapat menunjukkan kondisi serius. Beberapa tanda bahaya yang perlu diwaspadai antara lain sesak napas yang berat atau semakin progresif, penurunan saturasi oksigen terutama apabila berada di bawah 92 persen, serta sianosis atau perubahan warna kebiruan pada kulit dan bibir.
“Apabila sudah mengalami tanda-tanda tersebut, perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Penanganan cepat dalam hal ini penting untuk mencegah kondisi pernapasan semakin buruk,” pesan Ahmad.