Jakarta: Survei Kesehatan 2023 di Indonesia mencatat sekitar 6,7 juta penduduk terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta terinfeksi hepatitis C. Meski sudah banyak dikenal, namun eksistensinya masih kerap disalahpahami.
Penyakit hepatitis kerap dikaitkan dengan gejala kulit dan mata yang menguning. Padahal, hepatitis merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh banyak hal.
Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmi Indrarti, menjelaskan penyakit ini paling banyak disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Namun, hepatitis juga dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol, obesitas, obat-obatan, maupun penularan melalui makanan yang kurang terjaga kebersihannya.
Fahmi menjelaskan virus hepatitis terdiri atas hepatitis A, B, C, D, dan E dengan cara penularan berbeda-beda. Misalnya, hepatitis A dan E menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Lalu, hepatitis B dan C menular melalui cairan tubuh, seperti paparan darah.
Sedangkan hepatitis D hanya dapat menginfeksi seseorang yang telah mengalami hepatitis B dan dapat memperberat penyakitnya. “Yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah yang B dan C,” ungkap Fahmi dalam podcast TropmedTalk bertajuk “Hepatitis: Sering Didengar, Tapi Masih Sering Disalahpahami?” yang diselenggarakan oleh Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM dikutip dari laman ugm.ac.id, Senin, 10 Agustus 2026.
Di antara berbagai jenis hepatitis tersebut, hepatitis B dan C menjadi perhatian utama karena keduanya berpotensi berkembang menjadi infeksi kronis maupun kanker hati. Jutaan kasus hepatitis B dan C di Indonesia mendesak pencegahan sesuai dengan cara penularannya.
“Keduanya bisa menyebabkan angka kematian yang tinggi,” ujar Fahmi.
Hepatitis A dan E dapat dicegah melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Sedangkan, hepatitis B dan C dapat dicegah dengan menghindari penggunaan jarum suntik bersama, tidak berbagi sikat gigi, alat cukur, atau gunting kuku, serta memastikan tindakan medis, termasuk tindik dan tato, dilakukan menggunakan jarum yang steril.
Hepatitis B juga dapat dicegah melalui vaksinasi, terutama pada bayi baru lahir dan kelompok dewasa yang berisiko tinggi. Vaksin hepatitis B hanya melindungi terhadap hepatitis B dan secara tidak langsung mencegah hepatitis D.
“Sedangkan hingga saat ini, vaksin hepatitis C belum tersedia sehingga pencegahannya berfokus pada upaya menghindari paparan darah yang terinfeksi,” ujar dia.
Peluang kesembuhan hepatitis berbeda pada setiap jenisnya. Hepatitis A dan E umumnya dapat sembuh dengan sendirinya apabila tidak disertai kondisi yang memperberat penyakit hati.
Hepatitis C dapat disembuhkan pada lebih dari 95 persen kasus melalui pengobatan, terutama jika dimulai sejak dini. “Sedangkan hepatitis B dan D kronis pengobatannya cukup lama dan pengobatannya harus dilakukan sesuai dengan panduan dan pengawasan yang ketat,” ungkap dia.
Fahmi juga meluruskan mitos hepatitis B dan C dapat menular melalui makan bersama. Ia menjelaskan boleh makan bersama, boleh berpelukan, dan tidak masalah.
Orang dengan hepatitis tidak perlu dijauhi ataupun menghentikan seluruh aktivitasnya. “Hepatitis juga tidak hanya menyerang orang dengan gaya hidup tidak sehat, tetapi juga dapat dialami siapa saja, termasuk bayi yang tertular dari ibunya atau seseorang yang terpapar darah dan peralatan tidak steril," tutur dia.
Masyarakat diimbau segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila mengalami kulit dan mata menguning, urine berwarna pekat seperti teh, perut membesar, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, atau penurunan kesadaran. Orang yang memiliki faktor risiko juga dianjurkan mempertimbangkan pemeriksaan meskipun merasa sehat dan tidak mengalami gejala.
“Dengan deteksi dini, vaksinasi, pengobatan yang tepat, dan meningkatnya kesadaran masyarakat, upaya eliminasi hepatitis di Indonesia diharapkan dapat semakin dipercepat,” harap Fahmi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan