Jakarta: Mendapatkan gelar sarjana sering kali dianggap sebagai tiket emas menuju karier cemerlang. Namun, realita di lapangan justru membunyikan alarm bahaya bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia.
Jutaan sarjana saat ini tengah menghadapi fase overeducation, di mana mereka terpaksa menerima pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan ijazah sarjana.
Fakta pahit ini terekam jelas dalam Laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada Labor Market Brief (Juli 2026). Tercatat, sebanyak 8,01 juta lulusan perguruan tinggi di Indonesia berstatus underemployment alias bekerja pada posisi di bawah standar kualifikasi akademik yang mereka miliki.
Tingginya angka overeducation ini menjadi cerminan nyata bahwa laju pertumbuhan tenaga kerja terdidik melesat jauh lebih cepat dibandingkan ketersediaan lapangan kerja yang menuntut keterampilan tinggi. Ketimpangan ini menciptakan kesenjangan serius antara sistem pendidikan yang ada dengan kebutuhan riil pasar kerja nasional.
Merespons kondisi tersebut, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa ini adalah momentum krusial bagi pemerintah dan institusi pendidikan untuk berbenah.
"Sistem pendidikan kita saat ini sedang berada di persimpangan jalan dan membutuhkan transformasi untuk tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan teknis, tetapi juga kapasitas berpikir dan mampu mengaplikasikan ilmu mereka," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 11 Agustus 2026.
Perempuan yang akrab disapa Rerie ini menilai, akar masalah fenomena ini bertumpu pada rapuhnya korelasi antara program studi di kampus, kompetensi yang dibentuk, dan apa yang benar-benar dicari oleh para pemberi kerja.
Anggota Komisi X DPR RI itu menekankan pentingnya sinergi kolektif lintas sektor untuk merombak sistem pendidikan. Pendidikan harus diselaraskan dengan roda pergerakan ekonomi, tanpa mengkhianati cita-cita luhur Ki Hajar Dewantara yang mendambakan manusia berkarakter dan berbudaya, bukan sekadar mesin pemenuh logika pasar.
Ke depannya, Rerie mengingatkan perlunya perencanaan yang lebih matang. Perluasan akses untuk mengenyam pendidikan tinggi harus berjalan beriringan dengan strategi penciptaan lapangan kerja profesional yang produktif.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menutup dengan sebuah penegasan: kesuksesan institusi perguruan tinggi tidak lagi bisa diukur sebatas pada seberapa banyak sarjana yang mereka cetak. Keberhasilan sejati dinilai dari sejauh mana para lulusan tersebut mampu terserap, mengaplikasikan ilmunya secara optimal, dan memperkuat fondasi pertumbuhan perekonomian Indonesia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan