Jakarta: Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan kedokteran, seorang dokter masih harus menjalani program internship sebelum benar-benar menjalankan praktik mandiri. Bagi sebagian masyarakat, kewajiban tersebut mungkin menimbulkan pertanyaan karena dokter yang mengikuti internship sejatinya telah menyelesaikan pendidikan dan dinyatakan kompeten.
Lantas, kenapa dokter masih harus menjalani internship? Ternyata, ada perbedaan antara seorang dokter yang sudah kompeten dengan dokter yang sudah mahir dalam menerapkan kompetensinya di lapangan.
Ketua Bagian atau Kepala Divisi Fisiologi di Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Djauhari Widjajakusumah, menjelaskan internship merupakan fase pemantapan profesi dokter. Program ini dirancang untuk menerapkan kompetensi yang telah diperoleh selama pendidikan sekaligus memahirkan kemampuan tersebut melalui pengalaman nyata.
"Antara kompeten dengan fluent itu beda. Antara kompeten itu, mampu dengan mahir itu beda," kata Djauhari dalam Sarasehan Evaluasi Program Internship Dokter di FKUI, Salemba, Jakarta Pusat dikutip Senin, 10 Agustus 2026.
Djauhari menjelaskan dokter yang telah lulus pendidikan memang sudah memiliki kemampuan yang dinilai melalui proses pendidikan dan ujian. Namun, kemampuan tersebut masih perlu diperkaya melalui pengalaman menangani pasien serta beradaptasi dengan kondisi pelayanan kesehatan yang sebenarnya.
Karena itu, internship bukan sekadar formalitas setelah dokter memperoleh ijazah. Program tersebut menjadi fase transisi antara pendidikan kedokteran dan praktik profesional yang lebih mandiri.
7 Alasan Kenapa Dokter Masih Perlu Internship
1. Mempraktikkan Kompetensi yang Sudah Dipelajari
Djauhari menjelaskan program internship pada dasarnya merupakan bagian dari rangkaian reformasi pendidikan kedokteran. Program tersebut dirancang agar kemampuan yang diperoleh di lingkungan pendidikan dapat diterapkan secara terintegrasi di lapangan.
Dengan terjun langsung ke fasilitas pelayanan kesehatan, dokter dapat menghadapi situasi yang tidak selalu sama dengan kasus yang dipelajari di ruang kuliah atau laboratorium keterampilan klinis.
2. Mengubah Kompetensi Menjadi Kemahiran
"Lulus mampu, kompeten, dia punya ijazah, diuji. Tapi kemahiran itu belum dapat. Inilah internship," ujar Djauhari.
Fase internship memungkinkan dokter memperoleh pengalaman langsung dengan tetap berada dalam sistem pendampingan. Dengan begitu, dokter tidak hanya mengetahui bagaimana suatu tindakan dilakukan, tetapi juga semakin terbiasa menghadapi dinamika pelayanan kesehatan.
3. Belajar Menghadapi Dunia Nyata
Direktur Pendayagunaan SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan, Jeffri Ardiyanto, juga mengingatkan calon peserta internship agar mempersiapkan diri menghadapi kondisi tersebut. "Karena menghadapi dunia realita itu beda dengan kampus," kata Jeffri.
Menurut dia, kesiapan peserta bukan hanya menyangkut kemampuan akademik. Kondisi fisik dan mental juga perlu diperhatikan sebelum dokter ditempatkan di wahana internship.
4. Melindungi Keselamatan Pasien
Karena itu, sebelum memasuki tahap praktik, mahasiswa kedokteran mendapatkan pembelajaran keterampilan klinis melalui skill lab dan berbagai bentuk evaluasi. Setelah lulus, internship menjadi kesempatan menerapkan kemampuan tersebut dalam pelayanan nyata.
5. Mendapatkan Pendampingan Praktik Dokter
"Dokter intern ini dapat pendamping. Pendamping itu teman, dokter umum juga untuk mendampingi," kata Djauhari.
Pendampingan tersebut penting karena internship merupakan proses pemantapan. Dokter peserta dapat berdiskusi dan memperoleh arahan ketika menghadapi persoalan dalam pelayanan kesehatan.
Dengan sistem tersebut, peserta tidak dilepas begitu saja ketika mulai memasuki dunia kerja. Ada mekanisme pembinaan yang seharusnya memastikan proses belajar tetap berlangsung sekaligus menjaga keselamatan pasien.
6. Menyelaraskan Pendidikan dengan Praktik
"Artinya, internship menjadi jembatan antara apa yang dipelajari dokter selama pendidikan dengan realitas yang ditemui ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat," sebut Djauhari.
7. Bukan Sekadar Proses Menunggu Sebelum Praktik
Djauhari menegaskan internship berbeda dengan apprenticeship atau magang. Peserta internship sudah menjadi dokter, sedangkan keberadaan pendamping ditujukan untuk membantu proses pemahiran dan memberikan perlindungan dalam pelayanan.
Karena itu, kualitas internship sangat bergantung pada kesiapan seluruh sistem yang mengelilingi peserta. Ketika muncul persoalan, evaluasi tidak cukup hanya melihat kemampuan dokter muda, tetapi juga perlu memeriksa sistem pendampingan, wahana, komunikasi, dan mekanisme pengawasan.
Kementerian Kesehatan saat ini menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat pelaksanaan internship. Antara lain skrining kesehatan jiwa, early warning system, penguatan komunikasi dengan peserta dan orang tua, serta penempatan yang lebih dekat dengan domisili.
Langkah tersebut menunjukkan internship tidak hanya berkaitan dengan kesiapan dokter secara individu. Sistem yang mendukung proses pemantapan tersebut juga menjadi faktor penting agar tujuan program dapat tercapai.
Pada akhirnya, internship dirancang bukan untuk mengulang pendidikan dokter dari awal. Program ini menjadi fase untuk memastikan dokter yang telah kompeten semakin mahir, siap menghadapi dunia pelayanan kesehatan, serta mampu memberikan pelayanan yang aman kepada pasien.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda