Empat bulan jelang pengukuhannya, istri Hargono tutup usia. Bagi Hargono istrinya adalah sosok yang setia mendampingi dan mendorong pengajuannya sebagai guru besar. Dia mengatakan, setelah terdeteksi kanker, selama enam bulan istrinya bertahan dengan penyakit itu.
"Karena itu, saya persembahan gelar ini untuk perjuangan istri saya," ucap Hargono.
Baca: Modal Nekat, Kunci Jadi Peternak Kelas Pengusaha
Perempuan yang sudah memberinya dua buah hati itu harus pergi selama-lamanya. Wajar saja Hargono yang mengampu 9 mata kuliah di Departemen Teknik Kimia (Tekim) FT Undip itu seolah masuk dalam masa-masa yang cukup berat.
Namun mengingat begitu besarnya dorongan sang istri sewaktu masih berada di sisinya, dia menguatkan hati mengikuti inagurasinya sebagai professor ke-17 di Teknik Kimia Undip.
"Sungguh ini berkah bagi saya. Di antara 21 profesor yang dikukuhkan, saya yang paling banyak umurnya. Ibaratnya ini bisa saya raih pada injury time. Tentu selain kepada keluarga, saya berterima kasih kepada teman-teman yang tak henti memberi motivasi hingga bisa mencapai gelar akademik tertinggi," kata Hargono.
Dia mengungkapkan perjuangannya sungguh tak mudah. Sebab, masa studinya sebenarnya sudah nyaris berada di 'lampu merah', karena baru akan lulus menjelang pensiun.
Namun keuletan dan semangatnya tak padam, syarat tiga tahun setelah lulus S3 yang nyaris jatuh tempo bisa dilewati. Kini, dengan gelar profesor, dia bisa meneruskan pengabdiannya mengajar sampai 2026 setelah Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 1 Juli 2020 mengangkatanya sebagai Guru Besar bidang Teknik Kimia.
Di depan Rapat Terbuka Senat Akademik (SA) Undip, Hargono menyampaikan pidato ilmiahnya dengan judul 'Peran Bioetanol Mutu Bahan Bakar Sebagai Sumber Energi Alternatif Dalam Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional'.
Baca: Pelajar Indonesia Sabet Emas di Olimpiade Fisika Asia 2021
Data Kemeterian Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2020 menyebutkan konsumsi energi di Indonesia terus meningkat sebesar 7,8 – 8 persen per tahun. Sayangnya, sebagian besar kebutuhan energi tersebut dipenuhi dari bahan bakar yang berasal dari fosil, bahan bakar dari sumber daya alam yang tidak terbarukan.
"Masyarakat cenderung boros menggunakan energi fosil. Salah satu faktornya akibat ada subsidi pemerintah, sehingga harga energi murah," ujarnya.
Saat ini, Indonesia menghadapi penurunan cadangan energi fosil dan belum dapat diimbangi dengan penemuan cadangan minyak mentah yang baru. Kondisi ini rentan terhadap gejolak yang terjadi di pasar energi global, apalagi kontribusi minyak bumi impor tinggi.
"Karena itu perlu dikembangkan sumber energi baru dan terbarukan (EBT) seperti mini/micro hydro, biomassa, energi surya, energi angin, dan energi nuklir," terang Hargono.
Dia meyakini salah satu sumber bahan baku energi terbarukan yang potensial untuk memproduksi bioenergi adalah biomassa. Hargono banyak melakukan penelitian terkait biomassa sebagai sumber karbon alami yang dapat dikonversi menjadi bioenergi.
Baca: Ilmuwan Diaspora di Jepang: Alhamdulillah Lebaran Sekaligus Riset di Indonesia
Melalui serangkaian proses, pati yang berasal dari biji-bijian, umbi-umbian, sayuran, maupun buah-buahan antara lain singkong, gadung, tapioka, dan suweg dapat diolah menjadi bioetanol mutu bahan bakar yang dapat menyokong ketahanan energi nasional. Pembuatan bioetanol mutu bahan bakar dilakukan melalui proses hidrolisis pada suhu rendah, fermentasi, distilasi dan adsorpsi.
Yang menarik, bioetanol memiliki keunggulan, di antaranya memiliki angka oktan tinggi yang memungkinkan mesin beroperasi pada rasio kompresi yang lebih tinggi. Serta, mengurangi knocking atau ketukan pada mesin selama proses pembakaran.
Selain itu, bioetanol lebih ramah lingkungan karena mengandung 34,7 persen oksigen yang tidak terdapat pada bensin, sehingga efisiensi pembakarannya 15 persen lebih tinggi dibandingkan bensin. Bioetanol juga mampu menurunkan emisi polutan seperti karbon dioksida, sulfur dan nitrogen oksida. "Bioetanol lebih baik dari Pertamax," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News