Saat ini, Indonesia menghadapi penurunan cadangan energi fosil dan belum dapat diimbangi dengan penemuan cadangan minyak mentah yang baru. Kondisi ini rentan terhadap gejolak yang terjadi di pasar energi global, apalagi kontribusi minyak bumi impor tinggi.
"Karena itu perlu dikembangkan sumber energi baru dan terbarukan (EBT) seperti mini/micro hydro, biomassa, energi surya, energi angin, dan energi nuklir," terang Hargono.
Dia meyakini salah satu sumber bahan baku energi terbarukan yang potensial untuk memproduksi bioenergi adalah biomassa. Hargono banyak melakukan penelitian terkait biomassa sebagai sumber karbon alami yang dapat dikonversi menjadi bioenergi.
Baca: Ilmuwan Diaspora di Jepang: Alhamdulillah Lebaran Sekaligus Riset di Indonesia
Melalui serangkaian proses, pati yang berasal dari biji-bijian, umbi-umbian, sayuran, maupun buah-buahan antara lain singkong, gadung, tapioka, dan suweg dapat diolah menjadi bioetanol mutu bahan bakar yang dapat menyokong ketahanan energi nasional. Pembuatan bioetanol mutu bahan bakar dilakukan melalui proses hidrolisis pada suhu rendah, fermentasi, distilasi dan adsorpsi.
Yang menarik, bioetanol memiliki keunggulan, di antaranya memiliki angka oktan tinggi yang memungkinkan mesin beroperasi pada rasio kompresi yang lebih tinggi. Serta, mengurangi knocking atau ketukan pada mesin selama proses pembakaran.
Selain itu, bioetanol lebih ramah lingkungan karena mengandung 34,7 persen oksigen yang tidak terdapat pada bensin, sehingga efisiensi pembakarannya 15 persen lebih tinggi dibandingkan bensin. Bioetanol juga mampu menurunkan emisi polutan seperti karbon dioksida, sulfur dan nitrogen oksida. "Bioetanol lebih baik dari Pertamax," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News