“Nama saya memang cuma satu huruf, yaitu Q. Biasanya teman-teman memanggil saya Q, Qi, atau Qiu,” ujar dia dikutip dari laman itb.ac.id, Senin, 10 Agustus 2026.
Alumnus SMAN 2 Kota Madiun itu berasal dari Desa Teguhan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Q diterima di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan–Infrastruktur Sipil, Lingkungan, dan Kelautan (FTSL-ISLK) ITB melalui jalur SNBT.
Saat ini, Q masih menjalani tahap awal perkuliahan dan belum memasuki program studi. Namun, dia bertekad masuk Teknik Sipil.
Harapan besar dalam satu huruf nama
Di balik namanya yang singkat, tersimpan cerita dan harapan besar dari kedua orang tuanya. Nama Q terinspirasi dari salah satu karakter dalam rangkaian film James Bond, yaitu Q atau Quartermaster.Dalam cerita tersebut, Q merupakan sosok yang bekerja di balik layar dengan mengembangkan berbagai peralatan dan teknologi canggih untuk mendukung tugas agen James Bond. Karakter itu merupakan salah satu tokoh yang disukai ayah Q.
“Ayah saya ingin saya bisa sepintar dan secerdik Q dalam film James Bond. Dia adalah kepala di bidang riset dan teknologi yang membuat berbagai teknologi canggih,” beber Q.
Nama tersebut juga memiliki makna lain bagi keluarganya. Q merupakan huruf ke-17 dalam alfabet yang juga dimaknai sebagai simbol Hari Kemerdekaan Indonesia sekaligus berkaitan dengan tanggal yang diyakini sebagai momentum turunnya Al-Qur’an.
Melalui nama tersebut, kedua orang tuanya berharap Q dapat tumbuh menjadi seseorang yang cerdas dan dapat memberikan manfaat bagi bangsa, negara, dan agama. Harapan melalui nama-nama singkat juga diberikan kepada kedua adik perempuannya, yaitu Ayna dan An Nawa.

Q bersama Ayah Ibu dan adik-adiknya. DOK ITB
Guru IPA penarik minat belajar fisika
Q tumbuh dalam keluarga sederhana bersama dua adik perempuannya. Sejak kecil, ia mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan dukungan yang kuat dari orang tua maupun keluarga besarnya.Pendidikan menjadi salah satu nilai utama yang ditanamkan dalam keluarganya. Q terus didorong mengejar ilmu, menjadi pribadi yang berbakti, serta kelak memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya selalu diingatkan orang tua untuk terus mengejar ilmu dan pendidikan. Dukungan dari orang tua dan keluarga besar menjadi salah satu alasan saya bisa sampai di ITB,” kata dia.
Perjalanan akademik Q turut dipengaruhi oleh seorang guru IPA bernama Pak Dian ketika menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Cara mengajar Pak Dian menumbuhkan rasa ingin tahunya terhadap ilmu pengetahuan, khususnya fisika, serta membuatnya tertarik memahami berbagai peristiwa dan cara dunia bekerja.
Ketertarikannya pada fisika berkembang menjadi kegemaran pada aktivitas yang melatih logika, seperti berhitung, bermain rubik, dan sudoku. Di luar akademik, Q juga gemar bermain gim dan badminton, olahraga yang dikenalnya sejak kecil bersama ayahnya.
Karena mudah bosan, ia terbiasa mengisi waktu dengan berbagai kegiatan, termasuk berolahraga, membersihkan rumah, dan memasak. Kebiasaan tersebut membentuknya menjadi pribadi yang aktif dan selalu terdorong untuk belajar.

Q bersama Rio dan Naafiis. DOK ITB
Dari gagasan esai hingga mimpi membangun Madiun
Perjalanan akademik Q tidak selalu mulus. Di tengah berbagai kegagalan, ia bersama Rio dan Nafiis berhasil meraih juara pertama kompetisi esai nasional bidang teknik sipil dan perencanaan di Universitas Negeri Yogyakarta.Apresiasi dosen penilai yang mendorong pengembangan dan pematenan gagasan tersebut semakin menguatkan minat Q terhadap Teknik Sipil. Ia berharap ide itu tidak berhenti sebagai karya lomba, tetapi dapat diwujudkan menjadi solusi nyata.
“Daripada gagasan itu hanya digunakan untuk lomba, menurut saya lebih baik direalisasikan. Apalagi, dosen di UNY mengatakan bahwa pemikiran kami bagus dan sebaiknya dikembangkan lebih lanjut,” ujar dia.
Minat Q terhadap konstruksi juga dipengaruhi oleh sang kakek yang pernah bekerja sebagai pekerja bangunan. Ia melihat banyak lahan dan bangunan tidak terpakai di Madiun yang dapat dikembangkan menjadi ruang produktif bagi masyarakat.
“Saya ingin tempat-tempat kosong di Madiun dapat dikembangkan menjadi bangunan yang bermanfaat bagi masyarakat. Saya juga pernah berpikir, mungkin suatu hari nanti bisa ikut membangun rumah di bulan,” kata dia.
Keinginan tersebut membawanya memilih ITB sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Q pertama kali mengenal ITB ketika masih berusia sekitar empat atau lima tahun.
Saat itu, ia melewati kawasan kampus bersama orang tuanya setelah mengunjungi kebun binatang di Bandung. Ayahnya kemudian memperkenalkan tempat tersebut sebagai Institut Teknologi Bandung.
“ITB terasa cocok bagi saya karena sejak awal saya memang ingin melanjutkan pendidikan di bidang teknik, terutama Teknik Sipil,” tutur dia.
Gagal SNBP, belajar ekstra demi SNBT
Kegagalan pada jalur SNBP menjadi titik balik dalam perjalanan Q menuju ITB. Sebelumnya, ia cukup percaya diri karena memiliki nilai akademik yang baik, menempati peringkat ketiga siswa eligible, serta mempunyai sertifikat kompetisi.Setelah dinyatakan tidak lolos, ia meningkatkan intensitas belajar untuk menghadapi UTBK, baik secara mandiri maupun di tempat bimbingan belajar.
“Setelah tidak lolos SNBP, saya mulai belajar lebih serius karena ITB memang menjadi kampus impian saya. Saya pernah belajar di tempat les dari siang sampai malam,” kata dia.
Q menerapkan pola belajar bertahap dengan mencatat seluruh materi subtes, mengerjakan latihan soal, mengikuti try out, lalu mengevaluasi bagian yang masih lemah. Proses belajar, latihan, dan evaluasi tersebut terus diulang hingga pelaksanaan UTBK.
Tantangan terbesarnya adalah rasa malas dan kecenderungan membandingkan hasil dengan teman-teman yang memperoleh nilai lebih tinggi.
Untuk mengatasi itu, ia berusaha berada di lingkungan yang rajin belajar dan memilih fokus pada perkembangan dirinya sendiri.
“Saya mencoba tidak terlalu melihat nilai orang lain agar tetap fokus memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kemampuan saya,” ujar dia.
Usaha tersebut membawanya diterima di ITB melalui jalur SNBT. Setelah menjadi mahasiswa FTSL-ISLK dan tinggal di Asrama ITB Kampus Jatinangor, Q kembali menghadapi tantangan baru.
Ia bertemu banyak mahasiswa berprestasi, termasuk teman sekamar dengan capaian UTBK dan olimpiade yang tinggi. Lingkungan tersebut sempat membuatnya khawatir tertinggal, tetapi sekaligus menjadi dorongan untuk terus berkembang.
“Di ITB banyak sekali orang hebat. Saya memang khawatir tidak bisa mengikuti ritmenya, tetapi hal itu justru membuat saya semakin termotivasi untuk belajar dan berusaha,” tutur dia.

Q, mahasiswa baru ITB. DOK ITB
Toga dan medali untuk Ayah Ibu
Selama menjalani pendidikan di ITB, Q menargetkan indeks prestasi di atas 3,5 dan menyelesaikan kuliah tepat waktu. Setelah memperoleh gelar sarjana, ia berencana melanjutkan pendidikan magister. Pilihan lainnya adalah mengikuti Program Profesi Insinyur.Q juga ingin menghasilkan inovasi yang dapat digunakan oleh masyarakat secara luas. Ia menekankan manfaat teknologi dan pembangunan tidak seharusnya dapat diakses oleh kelompok yang mempunyai kekuasaan atau kemampuan ekonomi.
“Saya ingin menghasilkan inovasi atau penemuan yang dapat diakses semua orang, bukan hanya mereka yang memiliki kuasa atau uang,” ujar dia.
Bagi ITB, Q ingin menjadi mahasiswa yang dapat memberikan manfaat kepada lingkungan kampus. Bagi masyarakat Madiun, ia ingin membawa pengetahuan dan pemikirannya untuk mendukung keberlanjutan pembangunan infrastruktur daerah.
Salah satu impian yang paling personal adalah menyelesaikan pendidikan dan mempersembahkan kelulusannya kepada kedua orang tuanya, Teguh Yunianto dan Sriyani.
“Saya tidak sabar memakaikan toga dan medali kelulusan kepada ayah dan ibu saya. Untuk Madiun, nantikan inovasi dan pemikiran saya bagi kelanjutan infrastrukturnya,” tutur Q.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda