Latar belakang sebagai penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus berprestasi. Berkat kerja keras yang konsisten, mereka berhasil melangkah jauh hingga ke Central South University (CSU) di Changsha, China.
Puncak perjuangan mereka terjadi saat harus menjalani sidang skripsi di hadapan jajaran akademisi internasional. Penampilan yang tenang serta penguasaan materi yang matang berhasil mencuri perhatian seluruh hadirin di ruang sidang.
Tak tanggung-tanggung, Rayhan dan Thaufik diuji secara langsung oleh lima profesor ahli asal China. Presentasi yang penuh dengan argumen ilmiah tersebut bahkan sukses membuat para penguji merasa kagum.
Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih prestasi setinggi-tingginya. Keberhasilan gemilang ini sekaligus membawa harum nama Indonesia di panggung pendidikan dunia.
Perjuangan dan Dukungan Orang Tua
Dikutip dari unggahan akun Instagram dosen Metalurgi ITB @santosoim, di balik kesuksesan mahasiswa ini, tersimpan cerita emosional tentang pengorbanan dan doa dari keluarga. Ibu dari Thaufik bahkan rela menyulam sendiri tas anaknya yang sobek agar tetap layak dipakai menuntut ilmu di China.Perjuangan serta doa tulus orang tua tersebut akhirnya terbayar lunas saat keduanya tampil mengesankan di hadapan para penguji. Keteguhan hati keluarga menjadi pendorong utama keberhasilan mereka di negeri orang.
Penemuan Baru dan Hak Paten
Rayhan dan Thaufik memaparkan hasil penelitian mendalam yang sangat berkualitas. Riset mereka berhasil menemukan hal baru atau novelty hingga berbuah luaran berupa hak paten.Penyampaian materi yang solid membuat para profesor dan rekan akademisi di ruangan sidang sangat terkesan. Kualitas penelitian ini membuktikan kapasitas mahasiswa Indonesia yang sanggup bersaing secara global.
Berkat kualitas riset yang luar biasa, Rayhan dan Thaufik langsung ditawari beasiswa S2 di CSU. Kesempatan emas ini menjadi pengakuan konkret atas kerja keras dan potensi besar yang mereka miliki.
Setelah menuntaskan sidang di China, keduanya dijadwalkan kembali ke Tanah Air untuk menjalani sidang akhir di ITB. Pencapaian membanggakan ini kemudian ditutup dengan acara syukuran bersama para profesor, dosen pembimbing, dan rekan mahasiswa. (Talitha Islamey)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda