Idham Malik, alumnus Unhas yang bergabung di WWF Indonesia. Foto: Humas Unhas
Idham Malik, alumnus Unhas yang bergabung di WWF Indonesia. Foto: Humas Unhas

Komitmen Lestarikan Lingkungan Antarkan Alumnus Unhas Bergabung di WWF Indonesia

Arga sumantri • 20 Desember 2021 15:13
Makassar: Idham Malik, terus berupaya memberikan konstribusi nyata di bidang lingkungan. Alumnus Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 2004 itu pun bergabung dalam organisasi Konservasi Lingkungan World Wide Fund (WWF) for Nature Indonesia.
 
Mengutip siaran pers Unhas, Idham menjelaskan sejak menjadi mahasiswa, dirinya sudah memiliki ketertarikan terhadap berbagai isu lingkungan. Hal ini juga sejalan dengan prodi Idham di FIKP, yang memperkenalkan berbagai keanekaragaman hayati, ekosistem, karang, magrove dan lamun.
 
"Saat itu saya melihat bahwa ternyata terjadi penurunan kondisi lingkungan, baik itu kerusakan karang, magrove, penangkapan liar hingga pengeboman. Berbagai kondisi tersebut membuat saya tertarik untuk mendalami dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada lingkungan kita," jelas Idham, Senin, 20 Desember 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Memiliki sejumlah karya tulis tentang lingkungan mengantarkan Idham bergabung dan diterima menjadi bagian dalam WWF Indonesia. Organisasi ini merupakan jaringan global, yang mulai bekerja di Indonesia pada tahun 1962 dengan penelitian Badak Jawa di Ujung Kulon. 
 
Baca: 6 Mobil Listrik Buatan UGM Bakal Digunakan di Bandara Soetta dan YIA
 
WWF Indonesia saat ini berkegiatan di 34 wilayah kerja, tepatnya di 18 provinsi mulai dari Aceh hingga Papua.
 
Sebelum WWF Indonesia, Idham terlibat pada salah satu LSM kehutanan terbesar di Sulawesi yang berfokus pada isu kehutanan, yakni Sulawesi Community Foundation (SCF) pada 2012. Programnya adalah mendorong verifikasi legalitas kayu. Sehingga, kayu yang diproduksi perusahaan meubel adalah kayu yang sifatnya ramah lingkungan.
 
Idham mengatakan saat ini tantangan terberat dalam upaya konservasi lingkungan dan mitigasi perubahan iklim terletak pada bagaimana menegosiasikan antara lingkungan dan ekonomi. Pola pikir masyarakat masih cenderung ekonomi dengan isu lingkungan yang masih bersifat marginal. 
 
Bukan hanya masyarakat, namun semua kalangan yang melihat bahwa lingkungan merupakan bukan hal yang penting dan masih lebih kuat pertimbangan ekonominya.
 
Baca: 4 Siswa MAN 2 Kota Malang Raih Beasiswa Indonesia Maju LPDP
 
Ia menyebut, persoalan lingkungan masih sekadar promosi, bahkan gaya-gayaan. Padahal, isu ini merupakan masalah kesadaran, gaya dan pandangan hidup. 
 
"Akan susah berubah kalau pandangan hidupnya yang masih materialistik, boros. Orang peduli lingkungan harusnya sederhana. Peduli lingkungan itu selaras dengan gaya hidup yang sederhana," tambah Idham.
 
Idham berharap, generasi muda mampu membuka diri terhadap berbagai perubahan lingkungan yang berdampak bencana, misal terjadinya longsor,  banjir, dan kekeringan. Kaum muda agar membuka mata dan kesadaran bahwa ada faktor penyebab terjadinya hal tersebut. 
 
Artinya tidak sekadar peduli, tapi membuka diri, mencari penyebab, lalu kemudian melakukan aksi kecil sederhana, apapun itu. Seperti mengurangi gaya hidup konsumtif, mengikuti gerakan relawan. Langkah kecil lainnya, tidak membuang sampah sembarangan.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif