Peluncuran 8 buku hasil disertasi dosen IKJ. Foto: Medcom/Citra Larasati
Peluncuran 8 buku hasil disertasi dosen IKJ. Foto: Medcom/Citra Larasati

8 Dosen Luncurkan Buku Hasil Disertasi, Dobrak Stigma 'IKJ Enggak Bisa Nulis'

Citra Larasati • 19 September 2026 14:35
Ringkasnya gini..
  • FSRD IKJ rilis 8 buku riset disertasi guna mematahkan stigma bahwa seniman atau anak IKJ kesulitan dalam menulis karya ilmiah.
  • Dosen didorong menembus jurnal internasional bereputasi tinggi (Q1/Q2) agar IKJ "naik kelas" di kancah akademik global.
  • Budaya riset lapangan dan eksplorasi warisan Nusantara sejak 1970-an kini ditransformasikan menjadi literasi kelas dunia.
Jakarta: Institut Kesenian Jakarta (IKJ) melangkah agresif untuk mematahkan stigma lama yang kerap melekat pada institusi seni. Melalui Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), IKJ membuktikan bahwa para akademisinya tidak hanya piawai menciptakan karya seni praktis, tetapi juga tangguh dalam tradisi menulis ilmiah di kancah global.

Pembuktian ini diwujudkan lewat peluncuran 8 buku hasil disertasi S3 para dosen yang digelar di Balai Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Kamis, 17 September 2026, bertepatan dengan rangkaian Dies Natalis IKJ ke-56.

Mengusung tema ‘Tradisi dalam Ruang Interpretasi Budaya Modern’, langkah FSRD IKJ ini menjadi bukti nyata hilirisasi riset akademik agar relevan dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas, bukan sekadar tertumpuk di perpustakaan kampus.

Dekan FSRD IKJ, Dr. Adlien Fadlia, S.Sn, M.Ds, menegaskan bahwa ekosistem riset seni harus berkontribusi langsung pada pendidikan. "Sebagai bagian dari Tridarma Perguruan Tinggi para pengajar Fakultas Seni Rupa dan Desain IKJ, maka kerja-kerja lapangan dalam meneliti seni, desain dan produk tradisi dalam ruang budaya seni rupa modern dalam acara ini dipublikasikan kepada masyarakat luas dalam bentuk buku agar tumbuh pemahaman mengenai tradisi Indonesia dalam konteks modern," kata Adlien.

Mendobrak Mitos "IKJ Nggak Bisa Nulis"

Selama bertahun-tahun, beredar anggapan bahwa mahasiswa dan lulusan seni, dinilai unggul secara visual dan praktik, namun gagap saat dihadapkan pada literasi dan karya tulis ilmiah baku. Dosen dan periset FSRD IKJ, Dr. Lucky Wijayanti, M.Sn., menyoroti hal ini secara tajam. Ia membuktikan bahwa periset seni mampu menembus publikasi jurnal internasional bereputasi tinggi yang selama ini didominasi oleh ilmu-ilmu non-seni.

"Mungkin gini, saya sering dengar tuh IKJ nggak bisa nulis. Betul, itu yang sering saya dengar soalnya. Makanya gini, oke kalau mau ngomongin teknik bisa lah ya, udah lah kita udah selesai lah, S1 selesai," ungkap Lucky.

Ia membeberkan realitas keras di dunia akademik global di mana jurnal seni murni kerap dipandang sebelah mata dalam pemeringkatan jurnal bereputasi internasional.

"Ternyata, kalau ngomongin seni, adanya di Q3 dan Q4 Itu engga dianggap. Urusannya apa? Sama Dikti, ya kan? Semua perguruan tinggi harus terakreditasi. Harus punya jurnal reputasi tinggi. Reputasi tinggi tuh berapa? Q1, Q2. Adanya di apa? Adanya di ilmu-ilmu non-seni, persoalannya itu, ya kan? Makanya ternyata saya mau muntah, beneran mau muntah. Saya harus jumping dari ilmu-ilmu seni, mau ke sejarah ke antro ke mana, harus jumping gitu," bebernya.

Kerja keras tersebut berbuah manis dan menjadi standar baru bagi para pengajar di lingkungan kampus. "Saya sih udah berkorban gila, harus nulis gitu. Q1, Q2. Cuma saya belum ngomong aja ke yang lain. Nih kamu harus kesini, gitu. Supaya naik kelas," tambah Lucky.

IKJ 1
Diskusi peluncuran buku hasil disertasi 8 dosen IKJ. Foto: Medcom/Citra Larasati

DNA Kampus: Merawat Warisan Lewat Literasi

Tradisi riset lapangan sebenarnya bukan hal baru bagi IKJ. Sejak awal berdirinya, para seniman IKJ memiliki rekam jejak panjang dalam mengeksplorasi budaya Nusantara secara langsung.

Dosen IKJ Dr. Citra Smara Dewi, S.Sn., M.Si., menjelaskan bahwa peluncuran buku-buku ilmiah ini adalah bentuk evolusi dari DNA kampus itu sendiri. "Dulu tradisi para guru-guru kita itu berkarya itu pasti keliling. Keliling Pakai Kalimantan, Mas Don, Mas Deddy Luthala, Mas Almarhum, ke Sulawesi, bahkan ke Irian. Nah, tradisi itu adalah sebenarnya yang kemudian tetap kita pertahankan sampai saat ini meskipun dengan pendekatan yang berbeda," papar Citra.

"Jadi, yang sebenarnya DNA kami sebenarnya itu IKJ yang interdisiplin dan juga menyatu dengan warisan-warisan lokal di Nusantara," jelasnya.
 

Evolusi ke arah literasi ilmiah ini didukung penuh oleh fakultas melalui penyesuaian kurikulum. Adlien Fadlia memaparkan bahwa kebiasaan menulis dan menganalisis kini dipupuk sejak dini di ruang kelas.

"Seperti apresiasi seni, wawasan seni urban, kemudian estetika. Bahkan bahasa Indonesia. Itu semuanya menulis. Dan bahkan kami juga mendorong mahasiswa untuk mampu public speaking," ujar Adlien.

Kekayaan Tradisi dalam Delapan Kajian Mutakhir

Dalam peluncuran buku yang juga menghadirkan Prof. Zeffry Al Katiri (FIB UI) dan Dr. Bambang Tri Rahadian, M.Sn (FSRD IKJ) sebagai pembicara ini, kedelapan karya yang dirilis menampilkan ragam kekayaan lokal Indonesia yang dibedah menggunakan pisau analisis seni, sejarah, antropologi, feminisme, hingga estetika sosial.

IKJ 3
Peluncuran buku hasil disertasi dosen IKJ. Foto: Medcom/Citra Larasati

Kedelapan buku hasil disertasi S3 tersebut meliputi:

  1. Dr. Lucky Wijayanti, M.Sn. - Inen Bale: Perempuan Etnik Sasak sebagai Penyangga Tradisi Wastra.
  2. Dr. Citra Smara Dewi, S.Sn., M.Si. - Galeri Nasional Indonesia (GNI) dalam Pembentukan Identitas Nasional.
  3. Ika Yuni Purnama - Tata Ruang Interior Istana Kepresidenan Yogyakarta: Bentang Masa, Urgensi dan Relevansi Pendidikan Seni.
  4. Adlien Fadlia - Gerakan Batik Canting Rifaiyah sebagai Semangat Zaman.
  5. Nita Trismaya - Arus Balik Kebaya: Warisan Budaya, Identitas, dan Modernitas.
  6. Lily Wijayanti - Membawa Jiwa Toraja ke Jantung Jakarta: Pesona Estetik Tator Café Dharmawangsa Square.
  7. Mangesti Rahayu - Estetika Akulturasi dalam Kostum Sie Jin Kwie Produksi Teater Koma.
  8. Novi Yuniarti - Eksplorasi Estetika Wayang Punakawan Banyumasan dalam Perancangan Busana Art Fashion Berkelanjutan.
Melalui gebrakan ini, FSRD IKJ membuktikan bahwa tradisi dan warisan lokal bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan objek keilmuan yang dinamis. IKJ kini memposisikan diri tidak hanya sebagai "pabrik" pencetak seniman handal, tetapi juga sebagai pusat produksi literasi dan pengetahuan seni rupa bertaraf internasional.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan