Gerakan tersebut diwadahi dalam Project Green Restoration and Ocean Wellness (GROW), sebuah inisiatif lingkungan yang diinisiasi oleh Axel Gregorio Salim, siswa kelas 10 SIS North East Jakarta. Aksi penanaman digelar pada Minggu, 1 November 2026, dengan melibatkan 11 peserta yang terdiri dari tim inti serta relawan lintas angkatan.
Sebanyak 45 bibit dan propagul mangrove berhasil ditanam di lahan konservasi pesisir tersebut. Bagi Axel, Project GROW bermula dari keresahan pribadinya saat mendalami materi mata pelajaran Global Perspectives di sekolah.
Baca Juga :
Kuota Beasiswa Sisa, Kemendikdasmen Gaspol Alihkan untuk Pelatihan Guru Bahasa Inggris SD
Pelajaran yang mengulas isu-isu global mulai dari krisis iklim, kemiskinan, hingga keberlanjutan hidup itu memicu kesadarannya, diskursus akademik harus bermuara pada aksi nyata.
“Daripada hanya membahas masalah lingkungan melalui penelitian atau presentasi, kenapa tidak mencoba melakukan sesuatu secara langsung? Akhirnya saya mengembangkan Project GROW untuk berkontribusi terhadap lingkungan sekaligus mengajak teman-teman ikut berpartisipasi,” ujar Axel dalam siaran persnya, di Jakarta, Jumat, 6 November 2026.
Pemilihan ekosistem mangrove di pesisir utara Jakarta bukan tanpa kalkulasi ekologis. Mangrove memiliki fungsi krusial sebagai penahan laju abrasi, perangkap sedimen lumpur, habitat alami biota pesisir seperti ikan dan kepiting, hingga penyerap karbon biru (blue carbon) dengan kapasitas tinggi.
“Saya memilih mangrove karena perannya yang penting bagi ekosistem pesisir, terutama di Jakarta. Saya juga ingin memilih kegiatan yang memungkinkan kami terlibat langsung dalam konservasi, bukan sekadar melakukan kampanye atau menyebarkan informasi,” katanya.
Mengubah gagasan menjadi aksi kolektif diakui Axel membawa tantangan tersendiri. Sebagai inisiator muda, ia harus mengurus seluruh lini persiapan secara mandiri, mulai dari perizinan lokasi ke pengelola TWA Mangrove PIK, rancangan SOP, akomodasi, hingga mengajak siswa dari tingkat kelas berbeda yang sebelumnya belum ia kenal akrab.
Aksi nyata siswa kelas 10 SIS North East Jakarta dalam Project Grow. Foto: Istimewa
Kerja keras tersebut terbayar saat 10 rekannya bersedia meluangkan waktu akhir pekan untuk berkubang lumpur demi lingkungan. Keterlibatan adik kelas secara khusus dirancang Axel agar Project GROW memiliki napas panjang dan tidak berhenti saat dirinya menyelesaikan studi nanti.
“Harapannya, adik-adik kelas yang ikut bisa meneruskan inisiatif ini ketika saya sudah lulus nanti,” ungkapnya.
Axel menegaskan komitmen konservasi kelompoknya tidak berakhir saat bibit tertanam di lumpur. Tim Project GROW secara berkala tetap berkoordinasi dengan pihak pengelola TWA Mangrove PIK guna memantau daya tumbuh bibit-bibit tersebut.
Pengalaman di lapangan ini pun memberinya perspektif baru perihal kompleksitas kerja restorasi alam. "Bahkan kegiatan sederhana seperti menanam mangrove membutuhkan banyak persiapan dan koordinasi. Pengalaman ini membuat saya semakin menghargai upaya pelestarian lingkungan,” tuturnya.
Ke depan, Axel menargetkan Project GROW dapat memperluas cakupan program melalui penggalangan dana publik serta ekspansi ke sektor konservasi pesisir lainnya, seraya memastikan kepedulian ekologis terus terestafetkan antargenerasi pelajar di sekolahnya.