Rosita, guru honorer yang mendatangi rumah muridnya di pelosok Garut selama pandemi. Foto: Antara
Rosita, guru honorer yang mendatangi rumah muridnya di pelosok Garut selama pandemi. Foto: Antara

Rosita, 'Kartini' bagi Siswa di Pelosok Garut

Pendidikan Hari Kartini Guru Honorer
Antara • 21 April 2020 16:01
Garut: Rosita Amelia, guru honorer SDN 3 Nyalindung, Cisewu, Garut, Jawa Barat, mendatangi setiap rumah muridnya di pelosok untuk melakukan kegiatan belajar mengajar di tengah masa darurat virus korona (covid-19). Pola ini terpaksa dilakukan lantaran sejumlah muridnya tak punya alat penunjang belajar daring layaknya siswa di perkotaan.
 
"Saya mendatangi rumah siswa karena tidak semua orang tuanya punya (ekonomi mampu), kalau pun punya android sinyalnya jelek, jadi sistem belajarnya tidak bisa disamakan seperti di kota," kata Rosita melansir Antara, Selasa, 21 April 2020.
 
Rosita mengatakan seluruh siswa di Garut sebetulnya sudah belajar di rumah dengan tetap diawasi guru sejak diberlakukannya darurat covid-19. Namun, keterbatasan alat komunikasi di pelosok Garut, kata Rosita, menjadi kendala mengawasi siswa belajar dengan sistem jarak jauh, makanya harus mendatangi rumah masing-masing siswa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dalam suasana covid-19 semua sekolah oleh pemerintah diinstruksikan untuk belajar di rumah, saya merasa tertantang karena siswa siswi Nyalindung 3 ada di pelosok yang susah dari jangkauan internet," kata perempuan berusia 31 tahun itu.
 
Rosita bersama guru lainnya menuturkan, proses mendatangi rumah murid tidak selalu berjalan mulus. Akses jalan yang rusak, ancaman bencana tanah longsor, dan jauhnya jarak tempuh menjadi kendala setiap mendatangi rumah siswa.
 
Baca:Shieny, 'Kartini' Jebolan ITB di Geliat Industri Game
 
Guru kelas 2 SDN 3 Nyalindung itu mengaku jarak yang harus ditempuh menuju rumah siswanya bisa lebih dari satu jam menggunakan sepeda motor. Bahkan, ada rumah siswa yang tidak bisa dilintasi kendaraan roda dua, sehingga harus diteruskan berjalan kaki.
 
"Ada siswa paling jauh perjalanannya bisa satu jam, ada yang harus jalan kaki, tidak bisa bawa motor, kondisi jalannya juga tanjakan, pegunungan, jalannya kadang belum beraspal, semuanya masih tanah, terus lagi musim hujan suka longsor," bebernya.
 
Peluh Rosita terbayar dengan antusias siswa yang senang didatangi langsung guru mereka dan belajar di rumah meski perlengkapan belajar seadanya. Apabila kondisi cuaca cerah, Rosita mampu mendatangi dua sampai tiga rumah siswa, selanjutnya mengunjungi rumah siswa di hari berikutnya dengan jarak rumah yang sama-sama jauh.
 
"Dalam sehari saya bisa mendatangi dua sampai tiga anak, tergantung situasi, kondisi dan cuaca, karena siswa satu dengan siswa lain jaraknya sama jauh," kata guru lulusan Tarbiyah Universitas Yayasan Miftahussalam, Bandung itu.
 
Ia mengungkapkan, proses belajar mengajar di pelosok Garut memiliki tantangan dan pengalaman tersendiri. Salah satu pengalaman yang didapat yakni mengetahui langsung kondisi rumah siswa, juga perjuangan muridnya saat berangkat maupun pulang sekolah.
 
Rosita berharap pemerintah memperhatikan akses menuju SDN 3 Nyalindung, juga sekolah di wilayah pelosok lainnya. Termasuk, kondisi bangunan agar siswa dapat belajar dengan nyaman dan aman.
 
"Harapan saya semoga pemerintah memperhatikan daerah seperti kami, daerah terpencil tentang fasilitas yang memadai, bangunan yang memadai," ungkap Rosita.
 
Rosita mengaku sangat mengidolakan pahlawan perempuan Indonesia RA Kartini. Boleh jadi, Rosita juga pantas disebut sosok yang menggelorakan semangat Kartini di masa kini.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif