Novi baru saja menyelesaikan studi magisternya dalam bidang Master of Education spesialisasi Inclusive and Special Needs Education di Murdoch University, Australia Barat, pada Desember 2025 lalu.
Kisah perjuangan dan pengalamannya tersebut ia bagikan saat menghadiri festival alumni bertajuk Gig on the Green 2026 yang digelar Kedutaan Besar Australia di Rumah Sarwono, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 19 September 2026.
Keputusan Novi untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Negeri Kanguru berawal dari pengalamannya mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) selama dua tahun setelah lulus sarjana pada tahun 2020. Saat mendampingi para siswa di lapangan, ia menemukan bahwa latar belakang pendidikannya belum cukup untuk menangani kasus-kasus kompleks, terutama murid dengan disabilitas ganda (multiple disabilities).
"Saya menemukan beberapa kasus di lapangan yang ternyata, walaupun latar belakang pendidikan saya sebelumnya sudah selaras dengan pekerjaan, ada beberapa hal yang belum bisa saya atasi dengan memadai. Khususnya karena siswa-siswa yang saya hadapi sangat beragam dan beberapa di antaranya memiliki multiple disabilities. Dari situ saya merasa kalau mengandalkan apa yang pernah dipelajari sebelumnya, cukup sulit untuk bisa mendukung dan mengakomodasi kebutuhan mereka secara maksimal," ungkap Novi saat diwawancarai.
Melalui pengalaman tersebut, Novi memutuskan untuk mencari peluang beasiswa hingga akhirnya terpilih menjadi salah satu awardee Australia Awards. Ia mengaku sangat terbantu oleh skema dukungan penuh yang diberikan bagi penyandang disabilitas sejak proses pendaftaran hingga selama menempuh masa studi di Australia.
Selama menjalani perkuliahan di Murdoch University, Novi merasakan langsung bagaimana kerangka kerja (framework) pendukung mahasiswa disabilitas di Australia telah terbangun dengan sangat matang. Bahkan sebelum proses perkuliahan dimulai, pihak kampus telah terlebih dahulu mengajak Novi berdiskusi dan melakukan penilaian (assessment) terhadap kebutuhan belajarnya.
"Bahkan sebelum saya berangkat ke sana, saya sudah diajak berdiskusi dengan pihak kampus mengenai dukungan apa saja yang saya butuhkan selama berkuliah. Dari situ saya merasa lebih percaya diri karena sudah punya dokumen resmi yang bisa dikomunikasikan kepada dosen-dosen bahwa saya adalah mahasiswa dengan disabilitas dan punya kebutuhan yang sudah disetujui kampus. Dari segi akademik, alhamdulillah tidak ada kesulitan yang terlalu signifikan karena support-nya sangat lengkap dan memadai," jelasnya.
Tidak hanya fokus pada pencapaian akademis, Novi juga menunjukkan kepedulian sosial dengan menginisiasi sebuah proyek pendampingan sebaya (peer support) di lingkungan kampus yang kini berkembang menjadi klub resmi. Proyek bertajuk Change Agent tersebut bertujuan membantu mahasiswa disabilitas agar dapat beradaptasi lebih cepat dengan kehidupan kampus.
"Tujuannya lebih ke meningkatkan well-being dan sense of belonging dari mahasiswa disabilitas agar mereka merasa menjadi bagian dari kampus dan proses adaptasi sosialnya bisa lebih cepat. Saya juga menjadi ILA Ambassador untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia secara santai kepada mahasiswa dan komunitas di Australia," tambahnya.
Kini sekembalinya ke Tanah Air, Novi yang berprofesi sebagai pengajar IELTS bertekad untuk menerapkan prinsip kelas yang inklusif, sensitif, dan aman (safe space) bagi para peserta didiknya. Ia berharap pendekatan yang memperhatikan variasi kebutuhan belajar dan kondisi personal murid ini nantinya dapat diadaptasi lebih luas oleh lembaga pendidikan di Indonesia.
(Sumber: Instagram @kedubesaustralia)
(Dinda Intan Ramadhani)