Hal tersebut disampaikan Weni dalam Sharing Session and Panel Discussion bertajuk The Transformative Role of Project Management di BINUS University Senayan. Dalam kesempatan itu, Weni membagikan pengalaman dan pandangannya mengenai pengelolaan proyek, khususnya yang berkaitan dengan project management.
Aligning Ecosystem
Weni mengatakan faktor pertama yang perlu diperhatikan adalah aligning ecosystem. Menurutnya, sebuah proyek membutuhkan ekosistem yang solid dengan menjaga hubungan bersama stakeholders dan mitra yang terlibat."Terakhir mungkin dari saya closing remarks jadi dalam menyelesaikan project seperti ini tentunya mungkin sebetulnya banyak lagi item critical success factor-nya namun kalau kami boleh ringkas gitu ya yang pertama tentunya adalah aligning ecosystem. Jadi tentu membentuk ekosistem yang solid, yang betul, baik dari sisi stakeholders kita harus jaga, kemudian dari sisi mitra kita jaga, dan juga bagaimana men-interfacing, colaborating itu perlu kita siapkan yang utuh," ungkap Weni di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.
Menurut Weni, aligning ecosystem menjadi salah satu fondasi dalam menyelesaikan proyek. Hal ini dilakukan dengan membentuk ekosistem yang solid, baik melalui hubungan dengan stakeholders maupun mitra.
Selain menjaga hubungan dengan pihak yang terlibat, proses interfacing dan collaborating juga perlu disiapkan secara menyeluruh. Dengan begitu, setiap bagian dari ekosistem proyek dapat saling terhubung dalam menjalankan perannya.
Weni kemudian menyebut pengelolaan risiko secara dinamis serta pembangunan kapasitas sebagai dua faktor lain yang tidak kalah penting. Ketiganya menjadi rangkuman Weni dalam mendukung terwujudnya project management yang transformative.
Baca Juga :
Unjuk Gigi Talenta Muda, MODB 2026 Jadi Panggung Mahasiswa S2 BINUS Pamerkan Karya Tesis
Managing the Risk Dynamically
Faktor berikutnya adalah managing the risk dynamically. Weni mengatakan perubahan dapat terjadi setiap hari dalam sebuah proyek sehingga risiko yang muncul juga dapat ikut berubah.Karena itu, project control dan monitoring perlu diperkuat. Ia menilai manajemen risiko menjadi hal penting dan mendapat penekanan dalam pengelolaan proyek di MRT Jakarta.
"Kemudian managing the risk dynamically, tentu setiap hari ada perubahan. Jadi risiko-risiko ini juga pasti akan mengikut, project control dan monitoring harus kuat, dan ini memang menjadi penekanan kami, khususnya di MRT Jakarta, manage the risk, manajemen risiko juga penting," beber dia.
Building Capacity
Selain membangun ekosistem dan mengelola risiko, Weni mengatakan building capacity perlu terus dijaga. Building capacity mencakup pengembangan dari sisi sumber daya manusia maupun knowledge management.Menurut Weni, kapasitas itu dibutuhkan agar seluruh lingkungan yang berkaitan dengan construction management dan project management dapat terus berjalan dengan baik. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dapat menjadi lesson learned sehingga setiap pihak dapat terus berkembang.
"Kemudian terakhir mungkin building capacity, jadi sustaining capacity baik itu dari sisi SDM kita maupun dari knowledge management kita. Sehingga seluruh environment terkait construction management terkait project management-nya itu bergulir dengan baik menjadi lesson learn dan perannya semua akan bisa grow, yaitu berhubungan bersama dan menghasilkan sebuah project management yang transformative tadi," beber Weni.
Ketiga faktor tersebut menjadi rangkuman Weni mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyelesaikan sebuah proyek. Aligning ecosystem, managing the risk dynamically, dan building capacity dinilai menjadi bagian yang saling berkaitan dalam menghasilkan project management yang transformative.