Dimitri Mahayana Dimitri Mahayana Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Bandung

Estimasi Pasar Ritel Indonesia

Dimitri Mahayana 08 Februari 2018 19:47 WIB
e-commerce
Estimasi Pasar Ritel Indonesia
Ilustrasi/Medcom
Dimitri Mahayana
Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Bandung

MEREK sohor, pemain kakap, hingga peritel global di Indonesia rontok lagi, menjadi salah satu headline banyak media massa, termasuk di laman medcom.id pada awal tahun ini.    


Hal ini selaras dengan banyak survei kami di Lembaga Riset Telematika Sharing Vision sejak awal 2017 lalu, yang tegas menyebutkan bukan penurunan daya beli masyarakat yang jadi determinan bergugurannya ritel di Indonesia.

Seperti halnya tren global, pelemahan ritel, khususnya yang bergerak di sektor fesyen, disebabkan adanya pergeseran gaya hidup, dari belanja konvensional menuju digital. Dan, mungkin sekali, tahun ini jumlah ritel fesyen yang berguguran di Indonesia akan semakin banyak seiring semakin tingginya penetrasi e-commerce.

Ekonomi dan daya beli masyarakat tidak benar-benar turun, tapi cara belanjanya sudah banyak bergeser ke online. Ini terkonfirmasi dari hasil survei terbaru Sharing Vision pada Oktober-November 2017 terhadap 808 responden di sejumlah kota besar yang pernah berbelanja online.

Berdasarkan hasil survei tersebut, pergeseran pola belanja masyarakat dari konvensional ke digital (online) bervariasi untuk setiap kategori produk, mulai dari 3% sampai 60%. Untuk tiket pesawat, kereta api, dan sarana transportasi lain, pergeserannya sudah mencapai 80%-90%.

Disusul pergeseran transaksi pulsa dan token prabayar ke online sebesar 60%; makanan dan minuman 33%; buku, hobi, dan koleksi 32%; kosmetik dan alat kecantikan 24%; handphone 16%; laptop 12%; alat elektronik 5%; serta groceries 3%. Sementara untuk produk fesyen dan mode, pergeserannya sebesar 22%.

Hasil survei kami pun menunjukkan, nominal transaksi per kategori yang responden lakukan dalam tiga bulan terakhir di toko online dan yang biasa mereka habiskan sebelumnya di toko offline mirip. Berarti ada transaksi yang hilang di toko offline. Tidak heran jika tutuplah beberapa toko fisik.

Sharing Vision memprediksi tren pergeseran tersebut akan semakin besar. Maka, iklim usaha konvensional yang tidak mengadopsi online akan semakin berat. Ritel di sektor fesyen dipastikan akan semakin banyak yang tutup, mengingat saat ini pergeseran transaksinya sudah mencapai 22%.


Khusus supermarket dan minimarket, masih akan bertahan karena tren pergeseran transaksi groceries masih rendah, baru 3%.


Pun demikian, penulis mengakui jika nominal transaksi e-commerce di Indonesia memang masih jauh lebih kecil dibandingkan ritel konvensional. Jumlah netizen yang sudah berbelanja online pun baru mencapai 10 juta orang dari sekitar 120 juta pengguna internet di Indonesia. Namun, pertumbuhannya sangat pesat jauh melampaui belanja konvensional.

Potensi e-commerce di Indonesia tumbuh 39,6% per tahun. Tahun ini transaksinya diprediksi mencapai Rp561,8 triliun dan diperkirakan akan menyentuh Rp1.500 triliun pada 2020.

Pertumbuhan e-commerce di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan rata-rata global. Saat ini kontribusi e-commerce terhadap seluruh sektor perdagangan baru mencapai 2%-3% dan penulis prediksi pada tahun 2018 ini akan naik menjadi 5%.

Tingginya potensi pertumbuhan e-commerce karena hingga saat ini Gojek sebagai salah motor penggerak akselerasi belanja online, belum masuk ke sejumlah kota besar di Indonesia. Jika Gojek sudah masuk, apalagi baru diguyur investasi dari Google, maka pertumbuhan e-commerce di Indonesia akan semakin meroket.

Namun demikian, sesungguhnya booming tren belanja online tidak akan mematikan bisnis konvensional. Kedua sektor bisnis tersebut akan saling melengkapi dan akan mencapai kesetimbangan dengan prediksi kontribusi masing-masing mencapai 50%.

Itu pun sebenarnya masih butuh waktu. Untuk fesyen misalnya, e-commerce fesyen memerlukan waktu sekitar tiga sampai lima tahun lagi untuk mencapai kontribusi 50%. Selain karena penetrasi internet yang belum merata ke seluruh wilayah Indonesia, sebagian masyarakat juga masih sulit melepaskan kebiasaan belanja konvensional karena sudah biasa meraba dan mencoba dulu barang.

Akhir kata, marilah jangan lihat kondisi ini dari sisi negatif. Ini justru harus dan wajib dilihat sebagai peluang oleh seluruh pelaku ekonomi, baik UMKM maupun pelaku usaha besar. Sebab, ke depan, mau tidak mau, suka tidak suka, semua sektor usaha harus kian go online, mengikuti tren era ekonomi digital. Semuanya, selamat berjuang...[]





(SBH)