ILUSTRASI: Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4)/ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.
ILUSTRASI: Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4)/ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan. (Raja Suhud)

Raja Suhud

Jurnalis senior

Antara Utang dan Kekayaan Anak Indonesia

Oase utang luar negeri perekonomian
Raja Suhud • 24 Desember 2018 19:08
KEBANYAKAN politikus ialah pendongeng yang buruk. Itulah kesimpulan yang saya tangkap  karena begitu seringnya membaca atau mendengar sekian banyak ocehan miring dari mulut politikus mengenai perekonomian Indonesia.

Alih-alih memberikan harapan atau membangun persepsi positif, lontaran pendapat dari kalangan politikus sering kali berisi narasi buruk yang malah menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat. Padahal, sejatinya kepada merekalah, rakyat atau masyarakat berharap. Hampir mustahil urusan di negeri ini tidak bersinggungan dengan politik.

Narasi atau dongeng yang sedang dibangun sebagian politikus saat ini ialah kondisi perekonomian Indonesia amat suram. Bahkan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto mengatakan ia dibisiki tim ekonominya bahwa setiap anak yang lahir saat ini langsung menanggung beban utang US$600 per anak, atau setara Rp9 juta per anak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Itu sebuah dongeng yang saya kategorikan buruk. Mengapa? Karena cerita dongeng itu tidak disajikan dengan lengkap. Bila kita bicara utang, berarti kita juga berarti bicara kemampuan bayar ataupun kekayaan yang dimiliki sehingga kita bisa memperoleh utang. Utang bukanlah sesuatu yang diberikan seperti proyek amal atau charity. Utang zaman now diperoleh karena ada yang mendasari. Para kredi­­t­ur berhitung cermat atas kemampuan dari pengutang membayar utang agar tidak sampai ngemplang.

Bila ditelusuri, utang US$600 per anak Indonesia yang baru lahir itu diikuti kekayaan yang dimiliki anak Indonesia sebesar US$1.400 saat ini. Angka kekayaan sebesar itu diturunkan dari nilai aset milik negara sebesar Rp5.728 triliun per September 2018 yang dilaporkan Menteri keuangan Sri Mulyani dibagi jumlah penduduk Indonesia sebesar 265 juta orang.

Agar fair, utang juga harus disandingkan dengan aset. Bila itu dilakukan, dampak utang tidak perlu menimbulkan halusinasi yang ke mana-mana.

Anda akan terkejut melihat angkanya. Jika dibandingkan dengan utang saat aset milik negara dihitung pertama kali pada 2004, terjadi lonjakan kekayaan sebesar 3,5 kali dari Rp1.538 triliun menjadi Rp5.728 triliun.

Bahkan bila dibuat perbandingan utang dari masa ke masa, utang anak Indonesia pada 2004 sekitar US$325 hanya me­lonjak kurang dari dua kali lipat untuk menghasilkan lonjakan aset yang mencapai 3,5 kali lipat.

Bahkan bila ditambahkan dengan kekayaan negara  yang baru saja kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, yaitu Freeport, sebesar Rp2.400 triliun, angka utang US$600 itu seperti peanuts saja.

Jadi, ada baiknya kita saat ini lebih banyak mendengarkan para ekonom saja berbicara. Seperti yang dikatakan Yuval Noah Harari kepada Managing Director IMF Christine Lagarde, ekonom ialah pendongeng terbaik di dunia. Di ta­ngan ekonom, narasi lebih enak bunyinya dan mampu mengubah dunia, bahkan peradaban.[]

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi