Oscar Efendy Oscar Efendy Peneliti Pusat Biologi - LIPI

Keanekaragaman Hayati sebagai Mainstream Pembangunan

Oscar Efendy 23 Juli 2018 14:56 WIB
lingkungan hidup
Keanekaragaman Hayati sebagai <i>Mainstream</i> Pembangunan
ILUSTRASI: Kawasan Konservasi Flora dan Fauna Tambling Wildlife Nature Conservation(TWNC), Lampung Selatan, Sabtu (28/2)/MI/Ramdani
KEANEKARAGAMAN hayati diperingati setiap tahun. Tepatnya, per tanggal 22 Mei. Walaupun begitu, keanekaragaman hayati belum menjadi mainstrem berpikir dan landasan kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Secara garis besar, baik dalam konteks tawaran pengelolaan lingkungan maupun peningkatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat, ketika berbicara sumberdaya alam, maka konteksnya adalah sumberdaya tambang dan mineral bukan keanekaragaman hayati. 


Tetap saja, posisi keanekaragaman hayati terlihat begitu diabaikan. Padahal, pada 2016 lalu, tema keanekaragaman hayati sebagai mainstrem berpikir sudah diketengahkan. 

Para penentu kebijakan dari tingkat pusat dan daerah, ketika berbicara tentang ekonomi masyarakat, bertumpu akses ke pasar, bukan untuk menjual tetapi mendapatkan barang-barang olahan. Padahal, bila dikaitkan dengan isu lingkungan seperti pemanasan global dan juga ketahanan pangan, maka masyarakat kecil yang mengolah keanekragaman hayati untuk bertahan hidup sangat riskan terkena dampak adanya pasar. 

Mereka harus disiapkan tidak hanya menyiapkan masuknya pasar, tetapi juga pengembangan jenis-jenis tertentu yang mudah dimakan untuk situasi darurat, selain ada dampak ekonomi besar ketika berada pada situasi normal.

Indonesia adalah pusat keanekaragaman hayati dunia. 

Keanekaragaman hayati dan penggerak ekonomi

Perlu diketahui bahwa Indonesia, yang terdiri dari 17-an ribu pulau adalah pusat keanekaragaman hayati dunia. Untuk obat-obatan saja, di Indonesia terdapat 7500 jenis atau 10% tumbuhan obat yang ada di dunia. Belum membicarakan potensi-potensi lainnya, seperti pertanian, energi, juga ketahanan pangan. Keanekaragaman hayati pun tidak hanya tumbuhan dan binatang, tetapi juga mikroba.

Selama ini, keanekaragaman belum disebut sebagai prospek ekonomi baik bagi devisa negara maupun sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Padahal, keanekaragaman hayati bisa mensejahterakan rakyat adalah sesuatu sangat mungkin, asal program-program ke arah sana dilaksanakan dengan sabar dan terarah.

Dari berbagai individu jenis keanekaragaman hayati, kita bisa mendapatkan satu jenis unggulan yang memiliki karakter bagus untuk dikembangkan secara massal dan dilakukan oleh masyarakat sendiri. 

Hampir semua produk-produk pertanian yang kita kenal sekarang ini dan yang dihasilkan dari tumbuhan bermuara pada keanekaragaman hayati. Kelapa sawit, sayuran, kopi, teh, kina, dan lain-lain sebelum menjadi tanaman yang kita kenal sekarang ini terlebih dulu mereka mengambil dari alam tumbuhan liarnya. Dari berbagai sampel kemudian diketemukan satu jenis atau individu yang memiliki karakter baik. Dari jenis tersebut kemudian dikembangkan menjadi seperti yang kita kenal sekarang ini.  

Dalam kaitan pengembangan keanekaragaman hayati sebagai sumberdaya pengembangan obat-obatan dan potensi ekonomi yang dapat diraih, Cheryl D Hardy memberikan catatan menarik terkait dengan usaha Amerika dalam meningkatkan penggunaan bioteknologi bagi kemajuan bangsanya.

Dalam komentar sebagai usulan kebijakan, yang diberi judul Patent Protection and Raw Materials: The Convention on Biological Diversity and Its Implications for u.s. Policy on the Development and Commercialization of Biotechnology, Hardy menunjukkan data terkait meningkatnya paten dari penggunaan teknologi untuk rekayasa genetika di Amerika Serikat pada tahun 1985 dan 1990 yang meningkat 15% tiap tahunnya dan pada tahun 2000 yang lalu, industri obat-obatan Amerika telah menjual 100 miliar dolar.

Melalui keanekaragaman hayati, Indonesia, pernah menjadi sentral perdagangan dunia. Hampir seluruh pedagang dunia berlabuh di Indonesia untuk mencari rempah-rempah.

Dalam catatan sejarah Indonesia, keanekaragaman hayati juga sudah menarik perhatian pedagang-pedagang dari negara lain, bahkan Indonesia dengan keanekaragamannya sudah menjadi bagian dari masyarakat dunia.

Pemanfaatan tetumbuhan yang dilakukan oleh manusia, baik untuk makanan, buah-buahan, obat-obatan, rempah-rempah, dan lain sebagainya menunjukkan bahwa Indonesia sudah memanfaatkan keanekaragaman hayati.

Kelalaian bangsa

Dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia seharusnya bisa maju dengan membatasi ekploitasi kekayaan alam dari tambang dan mineral, serta tidak lagi mengandalkan import untuk memenuhi pangan kita. Tetapi, nyatanya tidak, selama kita merdeka belum ada pengolahan keanekaragaman hayati yang lebih serius. Masih bertumbu pada bentuk mentah keanekaragaman hayati bukan produk olahannya.

Potensi keanekaragaman hayati kita tidak perlu diragukan. Beberapa komoditi impor, baik tumbuh-tumbuhan seperti buah-buahan, kualitas dan keanekaragaman buah-buahan yang ada di Indonesia jauh lebih baik dari pada yang biasa ada di pasaran hasil dari impor, bahkan malah beberapa keaneragaman buah-buahan Indonesia sudah dikembangkan oleh negara lain sebagai produk unggulan.

Kualitas binatang ternak pun serupa. Kualitas sapi dari Bali jauh lebih bagus daripada sapi dari Australia. Kajian scientific pun mendukung hal tersebut, sapi Bali adalah jenis sapi yang secara pembudidayaan masih cukup dekat dengan jenis liarnya.

Dengan segala keanekaragaman hayati yang kita miliki, maka bisa dibayangkan berapa banyak devisa yang akan masuk ke Indonesia jika pemerintah (pusat dan daerah) mau bersusah payah menggali potensi keanekaragaman hayati untuk dikembangkan menjadi produk unggulan suatu daerah.

Memang, ketika berbicara kebijakan pengelolaan sumberdaya alam dan manusia bukan saja bicara kebijakan dan kinerja pemerintah terkait pengelolaan, tetapi juga mentalitas bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Masih bertumpunya pada tambang dan banyaknya impor, menunjukkan adanya ‘kesalahan’ pada negara ini terkait dengan kebijakan perdagangan dan juga pengaturan sumberdaya yang kita miliki. Sumberdaya manusia dan sumberdaya alam.

Melalui pengembangan keanekaragaman hayati untuk tujuan ekonomi, tidak saja akan menjawab berbagai isu lingkungan tetapi juga dapat menjawab persoalan ketahanan pangan, pertanian, serta ekonomi bangsa dan masyarakat. 

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
 



(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id