Rumadi Ahmad Rumadi Ahmad Ketua PP Lakpesdam PBNU

Melarang Cadar, Melawan Stigma

Rumadi Ahmad 14 Maret 2018 12:43 WIB
pendidikanradikalisme
Melarang Cadar, Melawan Stigma
ILUSTRASI: Komunitas Niqab Squad melakukan aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (10/9)/ANTARA/Puspa Perwitasari.
KETIKA Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengeluarkan “larangan” penggunaan cadar di kampusnya, - meski akhirnya dicabut karena menyulut kontroversi dan menjadikan iklim akademik tidak kondusif,- saya teringat dialog dengan seorang wartawan beberapa waktu lalu. 

Wartawan dari media daring itu minta pendapat saya karena adanya kabar komunitas cadar di Jakarta yang akan melakukan gerakan melawan stigma radikal, bahkan teroris. Sang wartawan memberikan informasi, komunitas cadar itu berencana aktif membangun dialog dengan orang-orang di sekitarnya, juga aktif melakukan kegiatan sosial dan membuka diri bergaul dengan masyarakat luas.


“Bagus, itu artinya mereka menyadari adanya stigma masyarakat terhadap pengguna cadar. Menyadari adanya stigma dan ingin melawan stigma itu merupakan hal positif. Jika tidak mau dituduh sakit, harus dibuktikan bahwa kita memang tidak sakit,” begitu, komentar singkat saya.  

Di Saudi Arabia dan wilayah Timur Tengah pada umumnya, perempuan biasa memakai cadar tanpa ada stigma negatif. Bahkan, cadar dianggap sebagai pakaian “pengaman” bagi perempuan. Perempuan di wilayah itu lebih merasa aman kalau pakai cadar. Mengapa di Indonesia stigma negatif itu muncul? Di sinilah letak masalahnya. Cadar di Saudi Arabia dan sekitarnya lebih sebagai ekspresi kultural, sedangkan di Indonesia cadar merupakan ekspresi ideologi keagamaan tertentu.

Stigma negatif terhadap pemakai cadar, tentu tidak muncul secara tiba-tiba. Stigma itu bisa dikontruksi dari luar, namun anggapan itu pun tak akan kuat jika tidak didukung dengan fakta-fakta internal. 

Setiap terjadi penangkapan teroris, selalu diikuti dengan pemberitaan keluarganya yang rata-rata pemakai cadar. Lama-lama, masyarakat pun mengidentikkan cadar dengan teroris. Pemakai cadar diidentikkan dengan kelompok eksklusif, keras dan tidak lentur. Bahkan sebagian ada yang memutus tali silaturrahmi dengan keluarga dan orang tua. 

Narasi seperti ini menjadikan pemakai cadar semakin terpojok, tanpa ada kemampuan untuk memberi penjelasan. Namun penjelasan mungkin juga aka sia-sia jika mereka tidak mampu memberi narasi tandingan atas stigma yang sudah melekat pada diri mereka. 

Cadar sebagai ekspresi budaya  

Jika di Indonesia cadar sebagai ekspresi agama, di tempat asalnya cadar adalah ekspresi kebudayaan. Cadar, jilbab, khimar, burqa’ dan niqab merupakan ragam bentuk hijab yang sudah dikenal masyarakat Arab jauh sebelum Islam datang. Tradisi hijab juga telah dikenal dalam agama-agama samawi sebelum Islam, khususnya Yahudi dan Nasrani. 

Ragam jenis hijab ini telah dikenakan oleh perempuan-perempuan dari berbagai peradaban dan kepercayaan. Ada berbagai alasan untuk memakainya, seperti melindungi tubuh dari cuaca, keamanan, fashion, menutup identitas, maupun alasan kepercayaan dan mitos-mitos tertentu. Modelnya pun mengalami perkembangan sesuai dengan budaya. Masuknya doktrin-doktrin keagamaan ikut mempengaruhi model hijab.

Ketika Islam datang, praktik perempuan-perempuan yang mengenakan hijab dalam berbagai bentuknya: jilbab, khimar dan juga cadar, tetap diakui dengan melakukan peyempurnaan-peyempurnaan. Cadar sendiri merupakan salah satu model pakaian yang dikenal dan gunakan di masa jahiliyah dan setelah datangnya Islam. Rasulullah saw mengakuinya, sebagaimana banyak sekali praktik-praktik pra Islam yang diakui dan diteruskan keberadaannya. Meski mengakui dan meneruskan cadar, namun dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah melarang perempuan memakai cadar ketika sedang ihram.

Soal ini, Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Tahrir al-Mar`ah fi ‘Ashr ar-Risalah (1995), mempunyai pendapat menarik:

“Andaikan niqab merupakan pakaian yang dapat menjaga marwah perempuan dan wasilah untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka -sebagaimana klaim sejumlah pihak- niscaya Nabi Muhammad SAW akan mewajibkannya kepada isteri-isterinya yang mana mereka (isteri-isteri Nabi) adalah keluarga yang paling berhak untuk dijaga Nabi. Akan tetapi justru Nabi tidak melalukannya. Juga tidak berlaku bagi sahabat-sahabat perempuan Nabi. Hal ini merupakan bukti bahwa niqab -meskipun terus ada hingga di masa Islam- hanyalah sebatas jenis pakaian yang dikenal dan dipakai oleh sebagian perempuan.”

Bukankah istri-istri Rasulullah saw menutup seluruh anggota tubuh termasuk wajah ketika keluar rumah? Dalam konteks ini, menurut Abu Syuqqah, mereka memiliki kedudukan yang berbeda dengan perempuan lain. Sebab, mereka dikhususkan dengan kewajiban memakai hijab di dalam rumah. Dan ketika keluar rumah mereka menutup seluruh anggota tubuh termasuk wajah sebagai bentuk memperluas hijab yang diwajibkan.  

Baca: [Wawancara] Perlu Kearifan dalam Bercadar

Ulama Mesir, Mahmud Hamdi Zaqzuq, juga menulis buku kecil berjudul al-Niqab ‘Adatun, walaisa ‘Ibadah (2008). Buku ini secara tegas membangun argumentasi pokok, bahwa niqab merupakan tradisi, bukan bagian dari risalah Nabi Muhammad dimana orang yang mengenakan bernilai ibadah.  Syaikhul Azhar, Syeikh Muhammad Sayyid Tantowi yang memberi pengantar buku ini memperkuat pendapat Mahmud Hamdi Zaqzuq, dan mengatakan, wajah perempuan bukanlah aurat.

Dari deskripsi tersebut, jelas, cadar atau niqab merupakan ekspresi budaya daripada religius. Karena itu, tidak bisa serta merta dikatakan, pemakai cadar lebih Islam dan lebih soleh dari pada perempuan yang tidak mengenakannya. 

Bukan hanya soal HAM

Apa motivasi perempuan-perempuan di Indonesia memakai cadar? Meski belum melakukan riset mendalam, bisa diduga motivasi keagamaan lebih dominan, mungkin juga ada yang sekadar mengikuti tren fashion. Mereka ingin tampak lebih religius dan solehah. Beberapa artis dan selebritis yang mengubah penampilan dengan memakai cadar dengan dalih telah “hijrah”, bukan tidak mungkin, cadar akan semakin fashionable dan menjadi life style baru.

Apakah cadar hanya sekadar masalah fashion? Tentu saja tidak. Ada interplay antara perubahan model pakaian dengan perubahan pola pikir. Orang-orang yang berani mengubah penampilan menjadi bercadar biasanya mengalami perubahan cara berpikir yang radikal. Konsep diri mereka berubah. Demikian juga cara pandang mereka terhadap orang lain, terutama orang-orang yang berbeda dengan dirinya. 

Kalau dilihat dari perspektif HAM, tentu saja, itu hak mereka. Kita tidak bisa mencampuri keyakinan seseorang. Apakah cadar mereka anggap sebagai ekspresi kebudayaan ataupun sebagai ekspresi keyakinan keagamaan, sepenuhnya hak mereka. Meski orang-orang  yang memakai cadar biasanya juga cenderung mencibir HAM, namun justru HAM-lah yang melindungi mereka. 

Jadi, adalah sebuah kemuliaan luar biasa melindungi mereka atas nama HAM, demokrasi dan toleransi.

Namun demikian, persoalan cadar tidak semata persoalan HAM. Ada aspek-aspek lain yang juga perlu diperhatikan dan bisa menjadi pertimbangan kebijakan. Apakah atas nama hak, pegawai pemerintahan diperbolehkan pakai cadar? Apakah atas nama hak, anggota TNI dan Polri perempuan diperbolehkan pakai cadar? Apakah atas nama hak dan ekspresi budaya, seorang santri boleh kuliah dengan memakai sarung? Saya kira, tidak bisa begitu. Ada fatsun yang juga perlu diperhitungkan. Demikian juga implikasi sosial politiknya penting untuk dicermati.

Dalam konteks inilah, apa yang dilakukan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta harus dipahami. Ada aturan cara berpakaian, menurut saya hal yang wajar, terutama di perguruan tinggi agama Islam. Bukan saja karena UIN/IAIN/STAIN merupakan banteng Islam moderat di Indonesia yang sudah mempunyai aturan berpakaian islami, pemimpinnya juga adalah orang-orang yang punya otoritas bicara tentang Islam. Karenanya, tidak aneh kalau Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berani mengambil sikap yang didasari pada pemahaman keagamaan. 

Singkatnya, kalau diajak berdebat soal cadar dari perspektif agama, dia bisa melayani. Hal ini tentu berbeda dengan perguruan tinggi umum yang pemimpinnya, -biasanya- tidak mempunyai otoritas bicara tentang agama. Karena itulah, tidak aneh kalau ada anggapan bahwa perguruan tinggi umum di Indonesia menjadi tempat nyaman untuk menyemaikan paham keagamaan yang radikal.

Meski akhirnya dicabut, tapi, paling tidak Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sudah menunjukkan kepada publik bahwa cepat atau lambat persoalan cadar akan menjadi masalah serius di Indonesia kalau tidak diambil langkah-langkah sejak dini. Cadar bukan sekedar hak, tapi juga simbol cara berpikir.[]

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID





(SBH)