Perlu Kearifan dalam Bercadar

Sobih AW Adnan 09 Maret 2018 18:55 WIB
pendidikan
<i>Perlu Kearifan dalam Bercadar</i>
ILUSTRASI: Komunitas Niqab Squad melakukan aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (10/9)/ANTARA/Puspa Perwitasari.
Jakarta: Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta tengah menjadi sorotan. Perkaranya, rektorat dari kampus Islam yang berdiri pada 26 September 1951 itu melarang mahasiswinya mengenakan cadar. Aturan itu, disahkan melalui penerbitan surat keputusan B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018.

Dalihnya, demi mencegah paham radikalisme masuk ke lingkungan kampus.


Bagi yang mendukung, barangkali qanun ini dibilang wajar. Tapi, tak sedikit pula yang kontra dan menganggapnya berpotensi melanggar HAM.

Lantas, seperti apa sebenarnya sejarah dan pandangan ulama tentang cadar? Kali ini, Medcom.id mewawancarai Idris Masudi, Sekretaris Pusat Kajian Islam Nusantara Pascasarjana UNU Indonesia yang pernah terlibat dalam bahtsul masail tentang hukum pengenaan niqab alias cadar yang diselenggarakan Wahid Foundation, pada 28-31 Januari 2018.

Kapan tren cadar muncul?

Merujuk Abdul Halim Abu Syuqqah dalam kitab An-Niqab fi Syariat al-Islam, niqab atau cadar merupakan salah satu jenis pakaian yang sudah lazim digunakan perempuan Arab di masa jahiliyah. Tradisi ini, lantas berlanjut hingga Islam datang dan berkembang.

Pandangan Nabi?

Nabi Muhammad SAW tidak mempermasalahkan model pakaian tersebut. Nabi, tidak mewajibkan, mengimbau, atau menyunahkan pemakaian niqab kepada perempuan. 

Dari sini bisa dipahami bahwa niqab hanya sebagai bagian dari model pakaian di Arab.

Ada salah satu kisah yang diriwayatkan Abdullah ibn Umar ra, “Ketika Nabi Muhammad SAW menikahi Shafiyyah, beliau melihat Aisyah mengenakan niqab di tengah kerumunan para sahabat, dan Nabi mengenalinya.”


Idris Masudi/dok pribadi

Hadis riwayat Ibn Majah juga menginformasikan bahwa istri Nabi, Aisyah berkata, “Pada saat Nabi SAW sampai di Madinah -yakni ketika menikahi Shafiyyah binti Huyay-  perempuan-perempuan Anshar datang mengabarkan tentang kedatangan Nabi. Lalu saya (Aisyah) menyamar dan mengenakan niqab kemudian ikut menyambutnya. Lalu Nabi menatap kedua mataku dan mengenaliku. Aku memalingkan wajah sembari menghindar dan berjalan cepat, kemudian Nabi menyusulku”. 

Dari kisah ini bisa dipahami bahwa niqab sudah ada sejak masa-masa awal Islam, meski terbilang langka. Pemakaian niqab difungsikan sebagai tanakkur, atau menyamarkan diri dari orang lain.

Di sisi lain kata tanakkur yang dimaksud dari riwayat-riwayat di atas, kemungkinan menunjukkan makna bahwa pakaian yang digunakan istri Nabi ini pakaian yang tidak biasa. 

Tentang batasan aurat?

Ada perbedaan antara hijab dan niqab. Hijab lebih bersifat umum. Pada awalnya makna hijab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya ada pergeseran dan penyempitan makna menjadi penutup kepala.


Sementara niqab berpengertian khusus sebagai sesuatu yang bisa menutupi muka.


Para sarjana Islam, biasa mengomentari keduanya dengan QS. An-Nur:31 yang memuat tentang perintah menutup aurat bagi perempuan. 

Ayat itu, memang menunjukkan bahwa perempuan mukmin harus menahan pandangannya dan diwajibkan untuk menutupi juyubihinna. Ada yang memaknai bahwa kata juyub, berarti kantung. Alhasil, pengertiannya merujuk pada pemakaian jilbab biasa seperti yang dikenakan hari ini.

Tapi, jangan lupa. Sebelum ayat tersebut, ada ayat lain yang menekankan kewajiban serupa justru kepada laki-laki. Dalam An-Nur: 30, laki-laki diwajibkan untuk ghad al-bashar, memalingkan pandangan dari perempuan.

Artinya, tidak ada diskriminasi dalam ayat-ayat tersebut.

Ihwal perbedaan pendapat?

Ya, dari sumber primer Alquran dan hadis ini, tak memungkiri lahirnya perbedaan pendapat di tengah para ulama. Titik persoalannya bermula dari batasan aurat bagi perempuan.

Bagi ulama yang berpandangan bahwa aurat perempuan itu terletak pada seluruh tubuhnya, maka mereka akan mengatakan bahwa pemakaian cadar adalah wajib. Sementara bagi yang berpandangan bahwa aurat perempuan itu adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka, tentunya, pemakaian cadar bukan sesuatu yang wajib.

Akan tetapi, merujuk Ramadhan Buthi dalam Ila Kulli Fatat Tu’min Billah, semua ulama itu sepakat pengenaan cadar sama-sama tidak berlaku ketika dalam kondisi sedang belajar, berobat, atau menjadi saksi dalam peradilan. 


Meski demikian, dalam tataran praksisnya, penggunaan cadar tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial-budaya masyarakat setempat. Penggunaan cadar di sebuah daerah yang memiliki kultur yang cocok dengan pakaian itu, sudah barang tentu tidak akan menjadi sebuah masalah.

Namun sebaliknya, menggunakan cadar di daerah lain dengan kultur yang berbeda dengan kultur Arab, seperti Indonesia, hukum mewajibkan penggunaan cadar adalah makruh. 

Pendapat ini, merujuk pandangan ulama mazhab Malikiyyah yang bisa dibaca dari tulisan Syaikh Addardiri dalam Syarah al Kabir;

Makruh bagi perempuan menutup yang wajahnya dengan niqab –sesuatu yang menutupi mata- saat melakukan salat, karena hal itu termasuk berlebih-lebihan atau ghuluw. Kemakruhan ini berlaku selama penggunaan niqab bukan bagian dari adat atau tradisi setempat.

Dari sini, kita semestinya bisa mengambil pelajaran untuk bertindak arif dalam hal perlu tidaknya memakai niqab atau cadar.






(SBH)