Kritik 'Sontoloyo' ala Jokowi dan Soekarno

Sobih AW Adnan 25 Oktober 2018 21:02 WIB
jokowipilpres 2019
Kritik 'Sontoloyo' ala Jokowi dan Soekarno
ILUSTRASI: Patung Presiden RI-1, Ir Soekarno (Bung Karno) di Desa Bendogerit, Kecamatan Sanan Wetan, Blitar/ANTARA/Eric Ireng
Jakarta: Pada mulanya bermakna penggembala bebek, lalu, lafaz "sontoloyo" menjelma satu umpatan untuk sebabak ketidak-becusan.

Presiden Soekarno, jauh-jauh hari sudah menggunakan term ini untuk menyindir sebagian umat Islam yang di matanya masih kepalang kaku. Dalam artikel yang dimuat majalah Pandji Islam terbitan 1940 itu, Soekarno bilang, sudah waktunya umat konsentrasi kepada hal-hal yang lebih substansial.


Kebanyakan Muslim kala itu, disebut Bung Besar sebagai kelompok yang tidak begitu luwes menerjemahkan prinsip-prinsip agama ke dalam praktik sosial. Ajaran Islam yang mengharamkan babi, dicontohkan Soekarno, akan memiliki bobot lebih besar ketimbang pelanggaran lain semisal menelantarkan si miskin, memakan harta anak yatim, atau memfitnah orang lain. Pelakunya, amat jarang dicap telah merendahkan Islam.

"Tetapi coba tuan makan daging babi, walau hanya sebesar biji asam pun dan seluruh dunia akan mengatakan tuan orang kafir! Inilah gambaran jiwa Islam sekarang ini: terlalu mementingkan kulit saja, tidak mementingkan isi," tulis Soeakrno.

Kritik Bung Karno itu pun berbalas hujatan. Soekarno dianggap menyepelekan Islam lantaran terlalu berani sesumbar. Meski begitu, istilah "sontoloyo" ala Soekarno ternyata tak sepenuhnya keliru. Terbukti, hingga hari ini, perkara-perkara sepele tampak diambil pusing sebagian kelompok dibanding urusan-urusan yang jauh lebih penting. 

Politik bernilai

Ingatan tentang diksi yang jarang digunakan itu kembali muncul setelah Presiden Joko Widodo mengkritik para politisi yang dianggap di kepalanya cuma tersimpan urusan-urusan kekuasaan. Politik, tidak lagi dimaknai sebagai sarana untuk mengukuhkan demokrasi dalam sebuah negara kesatuan. Kemenangan pun, diupayakan melalui jalan apa saja tanpa kenal istilah halal-haram.

"Kalau masih pakai cara-cara lama seperti itu, masih memakai politik kebencian, politik suku agama ras dan antargolongan (SARA), politik adu domba, politik pecah belah itu namanya politik sontoloyo," kata Jokowi, di Indonesia Convention Exhibition, BSD, Tangerang, Banten, 24 Oktober 2018.

Mestinya, kata Jokowi, pola perpolitikan Indonesia sudah memasuki era kompetisi adu gagasan. Politik yang dipakai, harus lebih bernilai. 

Apa yang dikeluhkan Presiden Jokowi pernah disebut pengamat marketing politik Firmanzah sebagai politik "kacang goreng". Dalam Mengelola Partai Politik: Komunikasi dan Positioning, Ideologi Politik di era demokrasi (2011) ia menyebut, ciri jenis politik ini adalah hanya menawarkan hal-hal yang berada di permukaan dan tidak menyentuh hal-hal yang dianggap sebagai sebuah akar permasalahan.

Menurut Firmanzah, salah satu risiko dalam politik kacang goreng adalah hadirnya pola manipulasi. Pasalnya, masyarakat tidak pernah diberikan pemahaman yang benar dan substansial dalam suatu permasalahan. 

"Sudah seharusnya partai politik juga memiliki tanggung jawab sosial untuk memberikan solusi dan pemahaman hingga ke dasar permasalahan," tulis dia.

Jelas, pola seperti ini tidak bisa dibiarkan berlama-lama. Jika tidak, hanya akan menjadi makanan empuk bagi kelompok-kelompok yang memang ambil untung di tataran simbolik semata.

Jalan pintas

Dalam bukunya yang lain, Firmanzah menyebut permainan politik di tataran simbol dan permukaan merupakan jalan pintas yang tidak jarang ditempuh pelaku politik. Melalui Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (2007) ia menjelaskan, trik ini muncul ketika sebuah perangkat dan kendaraan politik yang digerakkan dianggap sudah tak bisa lagi diandalkan.

Gamblangnya, tak ada lagi yang bisa dijadikan modal untuk urun rembuk dalam pertarungan program dan gagasan. Yang dianggap lebih bisa dan lebih cepat membakar, ialah membangun tampilan politik demi meraih dukungan kelompok masyarakat yang lebih gandrung dalam pendekatan emosional.

"Image politik yang berkembang adalah dimensi seperti munculnya mitos, simbol, streotipe, sentimen-sentimen dalam masyarakat, cerita kepahlawanan yang kebenarannya sulit dibuktikan," tulis Firmanzah.

Di Barat sekali pun, trik ini tak sepi. Ketimbang menyampaikan program dan gagasan yang begitu lama terbayar dukungan, memosisikan diri dalam isu-isu tertentu, dianggap lebih jitu.

Yang paling masyhur, pernah dilakukan kandidat Presiden Prancis dari partai sayap kanan 'Front Nasionalist', Le Pen pada 2002. Dengan cara serupa, ia berhasil naik ke pemilihan presiden putaran kedua.

"Dia menggunakan isu sensitif atas kehadiran kaum imigran dari Afrika Utara (Maroko, Aljazair, dan Tunisia)," tulis dia.

Begitu pun di Indonesia, pertarungan gagasan dan program antarpeserta kontestasi politik tampaknya kian mahal. Bagi yang tidak punya modal, dianggap sontoloyo pun rupanya tak jadi soal.

Persis, seperti alur dari proses peyorasi diksi itu sendiri. Sontoloyo, dari tukang angon bergeser kepada makna biang kerok keruwetan di jalan raya. Sementara kita, adalah bebeknya.






(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id