Fakta, Fiksi, dan Anarki Interpretasi
Ilustrasi: Koleksi buku sastra di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta/ANTARA/Wahyu Putro
Jakarta: Akan datang bangsa kate (bertubuh pendek), yang memerintah setahun jagung.

Bernhard Dahm, dalam Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan (1987) menilai bahwa ramalan yang bersumber dari Jayabaya itu menjelma salah satu faktor dari kebungahan rakyat Indonesia kala menyambut pendaratan Jepang. Faktanya, tentara Nippon tak lain dan tak bukan, penjajah yang sama kejamnya dengan Belanda selama Perang Dunia II.


Ramalan, memang mendapat tempat sendiri dalam kehidupan masyarakat lampau. Tak cuma di Indonesia, narasi tenung yang dikemas dalam bentuk puisi maupun prosa kerap pula dijadikan rujukan ihwal masa depan. Selain Jayabaya, tengok saja bagaimana masyarakat dunia menghubung-hubungkan keruntuhan Uni Soviet pada 1991 dengan sajak-sajak empat baris yang dikarang seorang Michel de Nostredame, alias Nostradamus, peramal yang hidup di abad 16 silam.

Untungnya, tak semua orang bersepakat bahwa masa depan bisa diterka melalui karangan-karangan. Tak sedikit pula kelompok yang kekeh mengatakan bahwa untuk sebuah prediksi, diperlukan alat ukur dan proses penelitian yang mendalam, jelas, dan akurat. Prediksi, tak bisa disahkan apabila cuma bertopang pada karya fiksi.

Yang menarik, batas antara fakta dan fiksi dalam alur sejarah literasi dunia mengalami proses naik-turun. Bahkan, keduanya pernah nyaris tak memiliki pembeda. Fakta dan fiksi saling memengaruhi, bahkan melebur. Mana fakta, mana fiksi, pada akhirnya tampak hablur. 

Saling memengaruhi

Pro-kontra anggapan batas fakta dan fiksi yang kian membias itu sudah menggejala sejak abad 20. Merujuk pendapat Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln dalam Introduction: The Discipline and Practice of Qualitative Research (2005) misalnya, dikatakan bahwa yang paling kentara malah ada di bidang jurnalisme dan laporan pemberitaan.

Hal itu, dinilai makin menjadi ketika penulis Amerika Serikat (AS) Thomas Wolfe mulai mengenalkan gaya pelaporan jurnalisme baru pada 1970-an. Tom, memang dikenal mahir menulis fakta dengan penuturan ala-karya fiksi dan mengandalkan penulisan itu sendiri sebagai pusat pencerita.

Kebenaran dan imajinasi sulit dibedakan secara awam, lantaran marak muncul istilah penulisan kreasi nonfiksi. 

Perdebatan kian memuncak pada 1980 di kala novelis AS E.L. Doctorow membenarkan bahwa batas-batas itu makin tak jelas. 

"Tidak ada lagi batas yang jelas antara fiksi dan nonfiksi, yang ada hanyalah naratif," kata Doctorow, sebagaimana dikutip Shelley Fisher Fishkin dalam From Fact to Fiction: Journalism & Imaginative Writing in America (1985).

Antropolog AS yang kerap terlibat dalam penelitian sosial masyarakat Indonesia, Clifford Geertz, juga pernah mengungkapkan bahwa saling pengaruh antara fakta dan fiksi semacam itu muncul dalam aneka laporan dan pemaparan teoritik. Dalam Local Knowledge: Further Essays In Interpretive Anthropology (1983) ia mengatakan, saat ini, penyelidikan-penyelidikan filsafat pun tampak seperti studi sastra.

Melalui salah satu artikelnya, Geertz bahkan menyebut nama penulis-penulis yang ia anggap masuk dalam kategori tersebut.

"Pembatasan ilmiah tampak seperti belles lettres morceaux (Lewis Thomas, Loren Eiseley), sejarah barok terdiri dari persamaan dan tabel-tabel atau kesaksian di pengadilan (Fogel dan Engerman, La Roi Ladurie), karya dokumenter terbaca semacam pengakuan yang sesungguhnya (Mailer), parabel-parabel selayak etnografi (Castenada), risalah teoritis tak beda seperti travelog (Levi-Strauss), argumen ideologis ditulis bagaikan penelitian histografis (Edward Said), studi epistimologis dibangun serupa esai politik (Paul Feyerabend), polemik metodologis dihadirkan mirip memoar pribadi (James Watson),...."

Beberapa tahun sebelum meninggal, Geertz memang mencurahkan perasaannya tentang penelitian kualitatif. Ia menuliskan ihwal metode kualitatif yang makin berkembang pesat. Yang menarik, tulisan Geertz turut meramaikan kritik internal terhadap penelitian kualitatif, yang dirasa kian kehilangan keketatan dalam metodenya (methodoliogical rigor). 

Sosiolog Clive Seale dan David Silverman juga mengajukan sejumlah kritik. Mereka menyebut kemunculan anarki metodologi. Dampaknya, pengetahuan yang diproduksi dan disampaikan ke pembaca banyak bersifat negatif. Pula, validitas penelitian lumpuh karena sudah berhenti. Faktor lainnya terkait dengan situasi pikiran sang peneliti atau penulis.

Jika situasinya politis, maka karya tertentu dihasilkan oleh sesuatu yang "sudah politis sejak dalam pikiran". 

Produksi pengetahuan, baik fiksi maupun ilmiah, memang bisa diurai menggunakan kaidah penelitian kualitatif. Sang peneliti, sebagai instrumen utama, juga sangat mengandalkan bahasa untuk memproduksi pengetahuan.

Anarki metodologi, longgarnya prosedur keketatan, dan kebebasan dalam membuat interpretasi, kerap berujung pada anarki interpretasi.

Meski begitu, masih menurut kutipan Fishkin, pembeda terakhir yang paling bisa diharapkan antara fakta dan fiksi justru tergenggam di tangan penulisnya sendiri. 

"Fiksi-nonfiksi, pada akhirnya lebih tertuju pada soal klaim si penulis sebagai pencipta teks, the claim that author makes for the text," tulisnya.

Mengutip fiksi

Mirip prediksi, namun dikemas dalam bentuk fiksi, belakangan digegerkan oleh novel Ghost Fleet (2015) karangan penulis AS P.W Singer dan August Cole. Tepatnya, setelah karya setebal 400 halaman itu dirujuk Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengenai pertaruhan masa depan Indonesia yang sudah tak mewujud lagi di tahun 2030 kelak.

Prabowo, barangkali tak sepenuhnya keliru. Ketika niatnya memberikan peringatan agar masyarakat Indonesia senantiasa waspada terhadap banyaknya tantangan menghadang, tentu hal yang boleh dianggap halal-halal saja.

Prabowo pun, sempat menyinggung batas bias fakta dan fiksi yang katanya lumrah di luar negeri. Sayangnya, ia menggunakan karya itu semacam rujukan tunggal, tanpa membandingkan dengan hasil riset akademik dan kajian lain yang bisa diperbandingkan dan diandalkan. 

"Memang bentuknya mungkin novel, tapi yang nulis adalah ahli-ahli intelijen strategis, you buka dong. You buka, baca, belum kan?," kata Prabowo, menanggapi kritikan pidatonya.

Lagi pula, soal tradisi riset dalam penulisan novel, sebenarnya tak kalah masyhur dilakukan penulis-penulis Indonesia. Namun proses itu dikerjakan tak lebih demi memberikan bobot lebih kepada pembaca.

"Pokoknya, riset yang cermat dan tepat penting untuk menganyam fakta ke dalam fiksi, sehingga karya yang dihasilkan memiliki efek kuat dan terasa nyata bagi pembaca," kata novelis Dewi "Dee" Lestari.

Riset mendalam lazim dilakukan sederet novelis kenamaan Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, hingga era Dee, Andrea Hirata, dan lainnya. Yang perlu digaris-bawahi, jika kembali pada pembeda yang ditawarkan Fishkin, jarang dari mereka mendaulat karyanya sebagai laporan akademik yang faktual. 




Lantas, bagaimana klaim penulis Ghost Fleet terhadap karyanya?

Hal itu, marak pula muncul dalam pemberitaan. Tentunya, setelah Singer menjelaskan melalui media sosial bahwa dalam novel itu secara utuh memiliki banyak liku dan kejutan. Singer, semacam tidak menyarankan pembacanya untuk mengutip cuma sebagian.

Belum lagi, ketika cuitan Singer dibalas Cole. Rekan seperjuangannya itu malah seakan-akan memancing dengan pertanyaan, "Fiksi, bukan prediksi kan?" Maka, jelas sudah. 

Fakta dan fiksi terbuka dikawin-silangkan. Hanya saja, sifat keduanya tetap saja berbeda.






(SBH)