Film Adaptasi di Mata Dee Lestari

Sobih AW Adnan 22 Maret 2018 13:23 WIB
novelfilm baru
Film Adaptasi di Mata Dee Lestari
Adegan Filosofi Kopi 2: Ben & Jody/visinemapictures.
Jakarta: Dewi 'Dee' Lestari Simangunsong, nama yang kian mentereng di antara sederet daftar penulis di Indonesia. Usai merampungkan serial akhir Supernova: Intelegensi Embun Pagi pada 2016 lalu, personel trio Rita Sita Dewi (RSD) ini kembali muncul dengan menawarkan karya terbarunya, Aroma Karsa.

Bukan sembarang novel, Aroma Karsa lahir dari sebabak riset yang dilakukan Dee selama berbulan-bulan. Keseriusan inilah, yang barangkali melatarbelakangi karya-karya Dee yang dikenal kuat dan mendalam dari sisi deskripsi.


Dee, karib menyuntikkan fakta, ke dalam fiksi.

Kecanggihan penulis kelahiran Bandung ini pun tak jarang menggoda penggiat industri perfilman untuk mengalih-wahana karya-karyanya ke layar lebar. Sebut saja, Perahu Kertas 1 (2012), Perahu Kertas 2 (2012), Rectoverso (2013), Madre (2013), Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (2014), Filosofi Kopi 1 (2015), dan Filosofi Kopi 2 (2017).

Lantas, bagaimana dengan Aroma Karsa?

Kali ini, Medcom.Id berkesempatan menghubungi penulis berjuluk Ibu Suri ini untuk sedikit banyak berbincang soal karya terbarunya, juga beberapa hal lain yang perlu pembaca ketahui ihwal film adaptasi.

Berikut kutipan wawancaranya:

Yang berbeda dari Aroma Karsa?

Aroma Karsa mendaulat  aroma dan penciuman sebagai tema utama. Unsur ceritanya berisi petualangan, misteri, percintaan, keluarga, juga legenda kuno dari zaman Majapahit. Dengan setting tempat di Bantar Gebang, Jakarta, Sentul, Grasse – Prancis, dan Gunung Lawu. 

Saya memulai riset untuk Aroma Karsa sejak November 2016. Draf pertama Aroma Karsa ditulis mulai Januari 2017 dan dilakukan simultan dengan proses riset. Untuk proses penyuntingan, dilakukan intensif selama 4 bulan dari November 2017 hingga Maret 2018.

Riset yang dilakukan antara lain berupa kursus meracik parfum yang diselenggarakan Nose Who Knows di Singapura, afiliasi dari Cinquième Sens, Prancis.  Saya juga banyak meriset TPA Bantar Gebang, untuk mengetahui kehidupan pemulung, mengalami langsung aroma TPA, serta melihat kondisi di sana.  

Selain itu, ke Gunung Lawu mewawancarai juru kunci, dan meriset jalur tengah. Ke pabrik Mustika Ratu, sebagai model perusahaan kosmetik Kemara yang menjadi bagian cerita. Serta banyak lagi.

Pokoknya, riset yang cermat dan tepat penting untuk menganyam fakta ke dalam fiksi, sehingga karya yang dihasilkan memiliki efek kuat dan terasa nyata bagi pembaca.

Apa yang mendorong menulis tema ini?

Setelah selesai menulis Supernova 5: Gelombang (2015), sebenarnya sudah terpikir untuk mengangkat tema “aroma” di buku Selanjutnya. Tapi, itu sedikit tertunda lantaran sudah berkomitmen untuk lebih dulu merampungkan Supernova 6: Inteligensi Embun Pagi (2016).

Saya tertarik wewangian dan aroma dari kecil, tetapi tidak pernah mempelajarinya secara serius.

Sudut pandang lainnya, karya fiksi dengan deskripsi lewat indra penciuman terbilang masih sedikit ketimbang visual. Baik dari teori menulis maupun pengalamannya saat menulis, saya memahami bahwa penciuman merupakan cara deskripsi yang berdampak paling kuat, hanya saja, mungkin lebih sulit diungkapkan sehingga tidak banyak digunakan.


Dee Lestari/deelestari.com

Ada bayangan untuk diadopsi dalam bentuk film?

Kemungkinan diadopsi menjadi film selalu ada. Namun, tidak menjadi agenda saya saat ini.

Posisinya, lebih wait and see. Saya pribadi merasa perlu jeda dulu juga setelah melansir Aroma Karsa.

Tantangan jika diekranisasi?

Tingkat kesulitannya menurut saya cukup tinggi, antara lain ceritanya yang panjang. Aroma Karsa tergolong novel ukuran epik, di atas 100.000 kata, memangkasnya menjadi skenario pasti tidak mudah. Beberapa setting dan adegan akan membutuhkan special effect.

Alih wahana novel ke film kian marak. Menurut Anda, apakah pola ini berpengaruh pada grafik minat baca di Indonesia?

Yang saya amati, penjualan buku setelah diadaptasi, terutama jika filmnya sukses, ikut meningkat. Dalam hal ini, adopsi ke film bisa mempengaruhi penjualan buku dan memanjangkan napasnya.

Di sisi lain, mereka yang mungkin tipe pembaca, memiliki opsi untuk menikmati sebuah cerita setelah ceritanya diangkat menjadi film.

Plus-minus adaptasi novel ke film?

Sebetulnya setiap film pasti akan mendapat reaksi puas dan tidak puas dari penonton. Hanya saja, dalam kasus film adaptasi, pembaca yang tidak puas lebih punya validasi karena ia sudah mengetahui cerita aslinya.

Banyak penonton yang pembaca biasanya menonton film adaptasi dengan modus membandingkan, tidak sekadar lagi menikmati. Dan, ini adalah proses yang nyaris tidak terhindarkan. Jadi, lebih sukar memuaskan penonton film adaptasi.

Apa yang kurang dari teknik ekranisasi di Indonesia?

Secara umum, penulisan skenario masih merupakan kunci utama. Hal ini, sebetulnya juga berlaku untuk film yang bukan adaptasi.

Ekranisasi itu kan sebetulnya cuma materi ceritanya saja. Teknik lainnya sama. Perlu investasi waktu dan ketelitian yang lebih panjang untuk membangun cerita sampai benar-benar solid baru difilmkan. Jangan sampai terburu-buru.

Kalau hasilnya kerap dibilang berbeda, itu keunggulan atau kelemahan?

Saya rasa memang demikian adanya. Buku dan film adalah dua format berbeda, aturan mainnya juga lain. Namun, belum semua orang bisa menerima itu atau memahami itu, bahkan mungkin di kalangan penulisnya juga.

Film adalah kerja kolaborasi banyak pihak dengan berbagai kepentingan, sementara dalam karya fiksi penulis lebih bebas dan mandiri menentukan segala hal. 


Saya tidak melihatnya sebagai kelemahan maupun keunggulan, melainkan kenyataan yang harus disadari.

Film yang baik, adaptasi atau bukan, tetap menjadi film yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Jadi, faktor kualitas tidak ditentukan oleh sebuah film diadaptasi dari buku atau bukan, melainkan dari keseluruhan aspek pengerjaan filmnya.







(SBH)