Berani Ungkap Korupsi Kakap

25 September 2018 08:53 WIB
kasus korupsi
Berani Ungkap Korupsi Kakap
Berani Ungkap Korupsi Kakap

Pemberantasan korupsi senantiasa menghadapi jalan terjal dari waktu ke waktu. Kesulitan itu bukan hanya disebabkan para pelaku korupsi belum juga jera kendati telah banyak koruptor yang tertangkap dan dijatuhi hukuman. Ganjalan juga muncul dalam upaya mengungkap kasus-kasus korupsi yang melibatkan orang besar, apalagi yang tengah atau pernah berkuasa.

Oleh sebab itu, kegigihan penegak hukum untuk menyeret pihak-pihak yang terlibat korupsi hingga orang-orang yang sulit disentuh patut diapresiasi. Kejaksaan Agung, misalnya, akhirnya menahan mantan Direktur Utama PT Pertamina (persero) Karen Agustiawan, kemarin, dalam kasus dugaan penyimpangan investasi yang merugikan negara Rp568 miliar.

Dalam kasus tersebut, Pertamina mengakuisisi sebagian aset milik ROC Oil Company Ltd di blok migas Australia pada 2009. Berdasarkan penyidikan tim Kejaksaan Agung, akuisisi itu dilakukan tanpa persetujuan dewan komisaris dan tidak pula didahului kajian lengkap. Akuisisi tersebut juga tidak memberikan keuntungan ataupun manfaat bagi Pertamina.

Karen yang menjabat Dirut Pertamina di era Presiden Susilo Bambang Yuhoyono telah ditetapkan sebagai tersangka pada awal April 2018. Korps Adhyaksa juga menyematkan status serupa kepada Chief Legal Councel and Compliance PT Pertamina Genades Panjaitan, mantan Direktur Keuangan PT Pertamina Frederik Siahaan, dan mantan Manajer Merger dan Akuisisi Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu Kristanto.

Kejaksaan tampak lebih banyak memelototi pengelolaan badan usaha milik negara (BUMN) sebab, di saat yang sama, kejaksaan juga tengah menguak kasus dugaan korupsi dana pensiun pada PT Pupuk Kalimantan Timur dan Pertamina. Kebetulan pula, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang belakangan lebih kerap menjaring pelaku kelas teri tidak banyak mengarahkan perhatian ke BUMN ataupun mengusut tuntas kasus megakorupsi lainnya.

Penahanan Karen menunjukkan keseriusan Kejaksaan Agung untuk mengungkap sekaligus menuntaskan kasus korupsi yang melibatkan pemain kakap sekalipun. Meski begitu, keseriusan itu masih harus dibuktikan lebih lanjut dengan membongkar sampai ke para aktor utama. Patut diduga kasus yang menjerat Karen merupakan bagian permainan mafia energi yang sebagian pelakunya masih bebas berkeliaran.

Publik berharap, sangat berharap, keberanian mengungkap kasus-kasus korupsi kelas kakap tidak lepas dari tekad kerja penegak hukum. KPK berhasil menjerat Setya Novanto, salah satu tokoh utama megakorupsi proyek pengadaan KTP elektronik. Akan tetapi, diduga masih ada aktor-aktor utama lainnya yang belum terjerat.

Begitu pula dalam kasus Century. Aktor-aktor di pihak regulator sudah ada yang diadili, tetapi KPK belum sampai pada membongkar pelaku-pelaku yang diduga lebih berkuasa ketika itu dan menikmati hasil dari kebijakan yang sarat unsur korupsi.

Kegigihan saja tidak cukup. Dengan banyaknya aktor utama yang masih berlindung di balik pengaruh kekuasaan masa lalu, perlu keberanian untuk menuntaskan kasus-kasus besar tindak pidana korupsi.

Tanpa nyali, kita khawatir aparat yang mendapat mandat memberantas korupsi hanya giat menangkap tangan pelaku kelas teri. Yang penting agar di mata publik terlihat rajin bekerja dengan selalu mendapatkan tangkapan. Tentu, kita tidak berharap itu yang bakal terjadi.





Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id