Membasmi Kebiadaban Membela Keadaban
Membasmi Kebiadaban Membela Keadaban
HANYA lima hari berselang setelah penyanderaan mematikan di Mako Brimob, tragedi akibat ulah jahat teroris terjadi di Surabaya, Jawa Timur, kemarin.

Miris, amatlah miris, negara yang sesungguhnya beradab ini lagi-lagi dicemari perilaku biadab oleh orang-orang sesat.


Biadab. Hanya itulah sebutan paling tepat untuk menggambarkan perilaku orang-orang yang tanpa hati menyerang, bahkan membunuh orang lain.

Kebiadaban itu pula yang dipamerkan dalam beberapa hari terakhir belakangan ini.

Di Mako Brimob, Selasa (8/5), para tahanan kasus terorisme bikin rusuh, menyandera petugas, lalu membantai lima anggota Polri.

Mereka sungguh sadis, teramat bengis, saat menghilangkan nyawa para bayangkara negara itu.

Kemarin, perbuatan yang tak kalah biadab dipertontonkan di Surabaya.

Para teroris menebar teror dengan meledakkan bom bunuh diri di tiga gereja, yakni Gereja Katolik Santa Maria tak Bercela di Ngagel, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, dan Gereja Kristen Indonesia Diponegoro 146.

Akibatnya, tidak kurang dari 13 orang, sebagian diduga pelaku, meninggal.

Entah setan apa yang merasuki para pelaku sehingga tega berbuat seperti itu.

Entah dogma apa yang menuntun mereka sehingga tak lagi punya belas kasihan kepada sesama anak manusia.

Yang pasti, tindakan mereka ialah bentuk penodaan terhadap ajaran agama dan penistaan nilai-nilai suci kemanusiaan.

Kita prihatin, amat prihatin, aksi terorisme kembali melahirkan cerita pilu di Republik ini.

Yang lebih memprihatinkan, para pelaku bom bunuh diri kali ini diperkirakan satu keluarga dan juga melibatkan anak-anak.

Sungguh, siapa pun yang menjadi otak aksi, dia tak pantas lagi disebut manusia.

Aksi terorisme, apa pun bentuknya, di mana pun kejadiannya, dan siapa pun dalangnya, harus kita kutuk.

Namun, kita tak cukup dengan mengutuk untuk memastikan teror tidak mengalami repetisi.

Hanya kebijakan dan tindakan tegas yang bisa mencegah para teroris terus menikmati hobi biadab mereka.

Harus kita katakan, aksi teror yang seakan tiada henti tak lepas dari buruknya kinerja intelijen.

Kalau teror cuma sekali-dua kali terjadi, boleh jadi badan intelijen kecolongan.

Akan tetapi, jika sudah beberapa kali, berarti ada kelalaian dan kalau terjadi berulang kali, artinya ada ketidakbecusan.

Amat riskan bagi bangsa ini jika badan intelijen lemah pendengaran dan majal penciuman dalam mengendus benih-benih teror.

Sudah saatnya pula segenap pemangku kepentingan menyeragamkan pemahaman bahwa sebagai kejahatan luar biasa, terorisme wajib dihadapi dengan tekad dan upaya luar biasa.

Ia tak mungkin hanya dilawan dengan cara yang biasa-biasa saja sehingga tak ada lagi dalih untuk menunda-nunda pengesahan Revisi Undang-Undang No 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme.

Payung hukum bagi para penegak hukum agar lebih optimal melakukan deteksi dini dan menindak lebih awal embrio terorisme ialah sebuah kemestian.

RUU Tindak Pidana Terorisme itu mendesak disahkan agar kita tak terus-terusan hidup di bawah ancaman para teroris.

Memerangi terorisme bukanlah persoalan orang per orang atau lembaga per lembaga, melainkan merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa.

Ia butuh kepedulian semua pihak agar tidak kian merebak.

Karena itu, amat tidak patut bagi mereka yang justru menjadikan aksi teror termasuk tragedi di Surabaya sebagai komoditas politik untuk mendiskreditkan pemerintah.

Teroris di negeri ini nyata-nyata masih ada, itulah fakta yang mesti dipercaya.

Mereka akan terus memproduksi tragedi dan bencana kemanusiaan selama kita sebagai bangsa tidak juga menjadikannya sebagai musuh bersama.