Hoppers (Foto: Disney Indonesia)
Hoppers (Foto: Disney Indonesia)

Review Hoppers, Ketika Idealisme Berubah Menjadi Obsesi

Agustinus Shindu Alpito • 03 Maret 2026 16:44
Ringkasnya gini..
  • Film ini menjadi debut penyutradaraan untuk Daniel Chong, yang selama ini menjadi Senior Tim Kreatif Pixar.
  • Jajaran pengisi suara animasi Hoppers diramaikan oleh Piper Curda, Bobby Moynihan, Dave Franco, Jon Hamm, Melissa VillaseƱor.
  • Film ini mengikuti kisah Mabel Tanaka (Piper Curda), gadis pecinta hewan yang dikirim tinggal bersama neneknya setelah membuat kekacauan di sekolah
Jakarta: Penggemar Disney Pixar kembali disuguhkan dengan film animasi terbaru tahun ini yang menyatukan hewan dengan teknologi manusia. Usai merilis film Elio tahun lalu, Hoppers menjadi proyek standalone atau berdiri sendiri yang diproduksi oleh Pixar Animation Studios untuk Walt Disney Pictures. 
 
Film ini menjadi debut penyutradaraan untuk Daniel Chong, yang selama ini menjadi Senior Tim Kreatif Pixar. Jajaran pengisi suara animasi Hoppers diramaikan oleh Piper Curda, Bobby Moynihan, Dave Franco, Jon Hamm, Melissa Villaseñor, Eduardo Franco, hingga Meryl Streep.
 
Film Hoppers dijadwalkan tayang pada 4 Maret 2026 di bioskop Indonesia.
 


Sinopsis Hoppers

Film ini mengikuti kisah Mabel Tanaka (Piper Curda), gadis pecinta hewan yang dikirim tinggal bersama neneknya setelah membuat kekacauan di sekolah karena berencana melepaskan hewan-hewan. Di sana, ia belajar tentang keseimbangan alam lewat sebuah kolam liar yang menjadi habitat berbagai spesies. 

Setelah sang nenek meninggal, Mabel diberi amanah untuk menjaga kolam tersebut. Namun, rencana pembangunan jalan lingkar oleh Walikota Jerry (Jon Hamm) mengancam keberadaan kolam, karena salah satu pilarnya akan dibangun tepat di atasnya.
 
Jerry mengklaim tak ada hewan yang akan terganggu karena habitat itu telah kosong. Tak terima, Mabel berusaha mengembalikan para hewan, terutama berang-berang, agar proyek dibatalkan. 
 
Upayanya membawanya pada eksperimen “Hoppers” milik Dokter Sam (Kathy Najimy), teknologi yang memungkinkan kesadaran manusia berpindah atau “lompat” ke robot hewan. Mabel nekat memasukkan kesadarannya ke tubuh berang-berang buatan dan mulai memahami kehidupan serta aturan dunia hewan dari dekat.
 
Meski sempat berhasil memulihkan habitat kolam itu, Jerry kembali menghancurkan bendungan para berang-berang. Ketegangan memuncak ketika dewan hewan mempertimbangkan langkah ekstrem melawan manusia. Akankah Mabel berpihak pada kerajaan hewan atau menjadi jembatan antara konflik manusia dan hewan?
 

 

Review Hoppers

Review ini mengandung spoiler untuk film animasi Hoppers.

Cerita Karakter yang Kuat dan Visual yang Menarik

Beberapa menit pertama film ini menjadi fondasi vital yang menjelaskan kegigihan Mabel. Ikatan emosional yang dibangun oleh Mabel dan neneknya terhadap alam membuatnya terus berjuang untuk mempertahankan kolam tersebut, terlebih itu adalah amanah yang dititipkan sang nenek sebelum ia meninggal.
 
Karakter Mabel digambarkan sebagai seorang mahasiswi keras kepala sekaligus aktivis lingkungan. Hal tersebut pun berbanding terbalik dengan Walikota Beaverton, Jerry (Jon Hamm), yang berambisi untuk membangun jalan lingkar, bahkan jika itu berarti mengorbankan alam sekitar.
 
Film juga menunjukkan klip-klip perselisihan mereka terkait rencana pengembangan tata kota dengan alam yang seringkali bersinggungan. Mabel pun menjadi satu-satunya karakter generasi muda yang terus memperjuangkan hak alam.
 
Dalam keputusasaan, Mabel secara tidak sengaja menemukan teknologi canggih: universitas tempat ia belajar telah menciptakan robot hewan yang sangat realistis yang dapat dikendalikan oleh manusia. Konsepnya mengingatkan pada film Avatar karya James Cameron versi berang-berang. Kemiripan ini bahkan disinggung lewat dialog.
 
Saat kesadaran Mabel dipindahkan ke tubuh berang-berang dan ia masuk ke dunia hewan, sutradara Chong menunjukkan keindahan alam lewat grafik brilian. Secara sekilas, alam digambarkan indah dan tenang. Namun, Hoppers juga menunjukkan sisi lain alam yang asing bagi pikiran manusia, seperti adanya dewan hewan dengan setiap spesies memiliki raja yang memakai mahkota kecil.
 
Di luar segi cerita yang memukau dan “di luar nalar”, banyak elemen teknis yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah perpindahan perspektif antara bagaimana sesama hewan melihat satu sama lain dengan bagaimana para manusia melihat mereka. 
   

Ketika Alam Balas Dendam Terhadap Manusia

Salah satu aspek yang dititikberatkan dalam film ini adalah semua orang harus menghormati hukum alam. Hal tersebut dikenalkan dalam sebuah “Aturan Kolam” yang mengikat para hewan di dalamnya. 
 
Ketika Mabel mengetahui alasan di balik kepindahan para hewan dari kolam rumah neneknya, ia sangat geram dengan Jerry. Ternyata, walikota tersebut menaruh sebuah pohon besi palsu dengan pengeras suara di atasnya. Suara berfrekuensi tinggi yang terpancarkan pun menyakiti pendengaran para hewan. 
 
Mabel, yang kini menjadi Penasihat Raja George, mendesaknya untuk memanggil dewan hewan untuk rapat mendadak. Dewan hewan—yang diisi para raja dari tiap spesies: unggas, amfibi, ikan, serangga, reptil, dan mamalia—berkumpul di kolam George.
 
Mabel yang gemas dengan pendekatan netral Raja George memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri. Ia menciptakan narasi bahwa Raja Manusia alias Jerry sedang berupaya untuk menghancurkan salah satu habitat di alam. Pidato Mabel yang berapi-api mendorong para hewan untuk merencanakan pemberontakan terhadap manusia agar mereka “tahu rasa”.
 
Ironisnya, para hewan menemukan teknologi Hopper dan memutuskan untuk menciptakan Hopper versi mereka menggunakan wajah dan tubuh Jerry. Mereka pun memberikan balasan yang setimpal dengan menyetel frekuensi “pohon berisik” agar bisa didengar oleh manusia dan menyakiti mereka.
 
Tindakan balas dendam ini merupakan penerapan hukum alam di mana seseorang akan mendapatkan ganjaran setimpal atas perbuatan mereka. Di film, Jerry digambarkan sebagai sosok ambisius yang rela mengorbankan apapun, termasuk tatanan alam, demi mencapai tujuannya. 
 

Keluh Kesah Suara Generasi Muda yang Jarang Didengar

Semangat Mabel memperjuangkan salah satu isu penting terasa dekat dengan realitas generasi muda saat ini. Dengan perubahan iklim yang terus terjadi, beberapa dari mereka merasa tidak memiliki kesempatan untuk berkontribusi tentang masa depan mereka. 
 
Hubungan emosional Mabel dengan alam, terutama kolam neneknya, sangat dalam hingga ia sering kali meluap dalam bentuk amarah. Ia merasa kesal karena tak bisa melakukan apapun untuk mencegah pembangunan Jalan Lingkar Beaverton oleh Walikota Jerry. Tak peduli berapa banyak hewan yang telah dikembalikan, pihak pemerintah akan terus menggagalkan usahanya.
 

Idealisme Berubah Menjadi Obsesi

Namun, perjalanan idealisnya ini lama-lama berubah menjadi obsesi yang tidak sehat. Sama seperti Jerry, Mabel menghalalkan segala cara agar pembangunan jalan lingkar dibatalkan, termasuk mencetuskan ide untuk “membasmi” manusia. 
 
Sejak awal, ia berpegang pada amanah sang nenek untuk menjaga kolamnya. Ketika cara halus tak lagi berguna, idealisme Mabel pun bergeser menjadi obsesi demi menyelamatkan kolam.
 
Menuju akhir film, Mabel pun perlahan mulai menurunkan egonya demi kebaikan bersama. Daripada mengikuti dorongan obsesi egoisnya, ia mencoba bersatu dengan Jerry untuk menghentikan rencana jahat Titus, Raja Serangga yang baru, untuk memusnahkan manusia.
 

Pentingnya Peran Komunitas 

Ending dari Hoppers menunjukkan bahwa setiap spesies membutuhkan satu sama lain; sama seperti poin ketiga Aturan Kolam yang menyebut bahwa setiap hewan pasti memiliki tujuan dan maknanya sendiri. 
 
Ketika Titus berhasil dikalahkan, hutan mengalami kebakaran hebat akibat korsleting listrik di acara perayaan pemilihan ulang Jerry. Api yang terus melahap pepohonan dengan cepat membuat para hewan dan manusia berkaburan dengan panik. Mabel berusaha untuk memadamkan api yang terus menjalar mendekati kota dengan jaket pemberian neneknya. Namun, jaket itu ikut terbakar dan Mabel nyaris tak sempat menyelamatkan diri. 
 
Di detik-detik terakhir, Ellen si beruang grizzly datang dan menyelamatkan Mabel serta Raja George. Mereka kembali ke kolam George dan bahu-membahu menghancurkan bendungan di sana agar airnya menyiram api. Tak hanya penduduk kolam, spesies-spesies lain ikut bergabung, termasuk pasukan dari para dewan hewan. 
 
Akhirnya, api berhasil dipadamkan dan Jerry memutuskan untuk menarik kembali proyek “pohon berisik” miliknya. Ia pun rela menunda pembangunan jalur lingkar dan berkomitmen untuk mengajak Mabel terkait diskusi tersebut.
 
Adegan akhir ini menunjukkan bahwa setiap orang tidak perlu menanggung beban sendirian. Mereka akan menemukan kekuatan dalam komunitas jika saling bahu-membahu membantu serta mengesampingkan perbedaan. 
 
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA