Petugas kepolisian berjaga di depan karangan bunga kiriman warga di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (3/5)/MI/Galih Pradipta
Petugas kepolisian berjaga di depan karangan bunga kiriman warga di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (3/5)/MI/Galih Pradipta

FOKUS

Katakan dengan Bunga

Sobih AW Adnan • 04 Mei 2017 22:06
medcom.id, Jakarta: Say with flower. Katakan dengan bunga. Beragam makna bisa hadir bersama kusuma. Kadang ia menebar gelora sukacita, adakalanya juga, membawa aroma kedukaan.
 
Begitulah bunga; kerap melebihi kata-kata.
 
Belakangan hari, demam bunga kian menjadi. Setelah menyesaki Balai Kota DKI Jakarta selama lebih dari sepekan, kiriman kembang makin menyemburat ke segala macam tempat. Istana Kepresidenan, Mabes Polri, beberapa instansi non-pemerintahan, hingga hal serupa pun dikabarkan menggejala di beberapa daerah.
 
Namun sejatinya, menjadikan tetumbuhan wangi itu sebagai penanda gerakan, bukan kali ini saja. Sejarah mencatat, aksi solidaritas yang nyaris sama pernah ada di beberapa belahan dunia. Bunga, kerap dijadikan simbol dukungan, anjuran damai, bahkan lambang perlawanan.
 
Dari Gandhi hingga Banksy
 
Sekali waktu, pemimpin gerakan perlawanan anti-kekerasan India, Mahatma Gandhi menulis;
 

Bunga mawar tidak perlu berkhotbah. Ia hanya menebarkan wewangiannya. Aroma itu adalah suatu khotbah tersendiri. Aroma kesalehan dan kehidupan spiritual jauh lebih halus dari wewangian bunga mawar.

 
Di sepanjang hidupnya, Gandhi dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan dengan cara non-kekerasan. Mawar, ia jadikan sebagai lambang perdamaian. Sebagaimana, kata Gandhi, yang sebenarnya telah menjadi misi kuat dalam agama-agama.
 
Gandhi percaya, taat beragama berarti menjaga perdamaian dan persaudaraan antarmanusia. Bahkan, dalam All Men Are Brothers (1958), Gandhi merentang prinsip persaudaraan lebih luas lagi.
 
"Saya hendak mencapai persaudaraan dan kebersamaan dengan seluruh makhluk yang bernyawa. Termasuk kepada ulat dan cacing yang melata," tulis Gandhi.
 
Selain Gandhi, pemahaman bunga sebagai lambang damai, atau prinsip senjata tidak mesti dilawan dengan senjata pernah juga muncul pada 1967. Yakni, saat ratusan ribu orang berkumpul di Washington DC untuk memprotes keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam perang Vietnam. 
 
Yang menarik, kaum perempuan dan anak-anak yang tergabung dalam gerakan anti-perang itu memasukkan bunga anggrek ke dalam laras militer yang berjaga. Pesan yang tersimpan tak lain dan tak bukan; pengiriman pasukan dan perang harus segera disudahi.
 
Begitu pula pada 2003. Ketika masyarakat Gaza, Palestina, tiba-tiba digegerkan dengan coretan tembok yang garib. Satu di antara dinding kota yang runtuh, terdapat gambar seorang aktivis Intifadah dengan gestur hendak melempar sesuatu.
 
Bedanya, yang tergenggam di tangan kanan bukanlah batu, tidak juga molotov sebagaimana yang bisa disaksikan dalam keseharian warga perbatasan Israel-Palestina itu. Seikat kembang warna-warni, tampak mencolok dalam kesatuan karya seni jalanan yang didominasi dua warna; hitam dan putih.
 
Katakan dengan Bunga
Seorang jurnalis televisi menyaksikan pameran karya Banksy di Rome's Palazzo Cipolla, Italia (23/5/2016)/AFP PHOTO/VINCENZO PINTO
 
Mural misterius itu kemudian diketahui sebagai buah tangan dari seniman Inggris beranonim Banksy. Ia, merasa perlu menyusup ke wilayah konflik melalui terowongan bawah tanah demi mengantarkan sebuah semangat; kekerasan harus segera diakhiri. Berbalas pengerusakan, eloknya diganti dengan saling lempar bunga. Simbol cinta, perdamaian, dan kesejukan antarsesama manusia.
 
Tak ayal, gambar anarki ala-Banksy itu kemudian secara berulang muncul di tengah-tengah wilayah konflik. Khususnya di Timur Tengah. Bukan cuma dalam bentuk mural, coretan berjudul Flower Thrower itu pun kerap dijadikan alat kampanye perdamaian dalam bentuk kaus, bendera, spanduk, atau disebarkan dalam media sosial. 
 
Bunga kebinekaan
 
Lantas, apa makna banjir bunga yang bermula di Balai Kota?
 
Mulanya, boleh jadi, karangan bunga yang bikin heboh itu berfungsi sekadar media ucapan terima kasih. Dalam hal ini, kepada Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat yang dianggap telah bekerja dengan baik dalam menjalankan roda Pemerintahan DKI Jakarta.
 
Namun, ketika gerakan ini makin massif dan menyasar ke banyak tempat, bisa dipastikan karangan bunga itu tidak datang dengan tanpa makna baru.
 
Semisal dalam pengamatan budayawan Radar Panca Dahana, fenomena kiriman bunga di sejumlah daerah ini bisa-bisa menunjukkan adanya kekhawatiran masyarakat secara umum terhadap hal-hal yang dinilai mengancam kebangsaan.
 
"Bahasanya kekhawatiran dan kecemasan. Karena masa mutakhir yang dimulai dari pengembangan informasi ini seperti merasa ada beberapa monster yang mengancam kehidupan berbangsa," kata Radar, dalam Primetime News di Metro TV, Rabu 3 Mei 2017.
 
Radar menyebut, ada tiga hal yang dipahami masyarakat sebagai ancaman yang tengah membidik Indonesia. Yakni, radikalisme, intoleransi, dan separatisme. 
 
Ada benarnya. Karena memang hal itu pula yang kebanyakan muncul dan terpampang pada karangan bunga. Pengirim, tak jauh-jauh mengungkapkan pentingnya persaudaraan, atau berterima kasih ke banyak pihak karena sekuat tenaga ikut mempertahankan NKRI dan kebinekaan.
 
Begitu pula yang dikatakan pakar komunikasi Effendi Ghazali. Ia melihat fenomena kiriman karangan bunga sebagai salah satu bentuk ajakan antarwarga untuk kembali menyatukan keutuhan bangsa.
 
Rujukannya, ya, pasca-kontestasi pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Tak bisa dipungkiri, politik identitas amat mendominasi dan  berpotensi memecah belah masyarakat Indonesia. 
 
Jika sudah seperti ini, kembali ke makna awal, apakah demam bunga ini pertanda kegembiraan, perlawanan, atau malah kecemasan?
 
Pertanyaan itu tidak berlebihan. Tentu saja, jika kita dibolehkan memilih makna, lazimnya bunga-bunga itu menjadi simbol sukacita. Kegembiraan yang sangat manusiawi. Sebuah perayaan yang meneguhkan kepercayaan bahwa hati sanubari manusia; the social conscience of man, tidak pernah mati.
 
Jika bunga-bunga telah menghidupkan sanubari, maka, kiriman bunga itu mengandung pesan unik. Betapapun beratnya musim pancaroba yang mengancam keutuhan bangsa hari ini, kejujuran dan ketulusan tak bisa hilang dari nurani.
 
Jadi, mari kita saling bertukar bunga, saling mengabarkan pesan kegembiraan. Setidaknya, sebagai simbol semangat anak bangsa untuk melanjutkan hidup senasib sepenanggungan.
 
Bukankah negara dan bangsa ini ada karena sumpah setia: Kita rela hidup senasib sepenanggungan, secita-cita dan sependeritaan ...


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SBH)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan