Petugas kepolisian berjaga dengan background karangan bunga kiriman dari warga di Mabes Polri, Jakarta. (Foto:MI/Galih Pradipta)
Petugas kepolisian berjaga dengan background karangan bunga kiriman dari warga di Mabes Polri, Jakarta. (Foto:MI/Galih Pradipta)

Primetime News

Budayawan: Ada Kecemasan di Balik Kiriman Rangkaian Bunga

04 Mei 2017 10:06
medcom.id, Jakarta: Beberapa hari pasca-pilkada DKI Jakarta usai, ribuan rangkaian bunga memenuhi halaman Balai Kota Jakarta sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepada pasangan cagub dan cawagub petahana yang kalah dalam kontestasi pilkada.
 
Tak lama, rangkaian-rangkaian bunga itu mulai bergeser memenuhi gedung Mabes Polri dan kantor-kantor kepolisian di beberapa wilayah di Indonesia. Tipikal pesannya hampir sama, menyerukan semangat untuk menjaga keutuhan negara.
 
Budayawan Radar Panca Dahana melihat, fenomena kiriman bunga di sejumlah daerah ini menunjukkan adanya kekhawatiran masyarakat secara umum terhadap hal-hal yang mengancam kebangsaan.

"Bahasanya kekhawatiran dan kecemasan karena masa mutakhir yang dimulai dari pengembangan informasi ini kita seperti merasa ada beberapa monster yang mengancam kehidupan berbangsa kita," kata Radar, dalam Primetime News, Rabu 3 Mei 2017.
 
Radar menyebut 'monster' yang saat ini bermunculan bentuknya macam-macam hingga menimbulkan kerusakan dengan dalih kebebasan berekspresi yang sifatnya masif hingga ke seluruh Indonesia.
 
Menurut Radar, paling tidak ada tiga bentuk 'monster' yang mengancam kebangsaan Indonesia, yakni radikalisme, intoleransi, dan separatisme. Ketiga persoalan ini, kata Radar, sebelumnya pernah terjadi pada era Soekarno, namun kemudian diputus saat Soharto berkuasa.
 
"Sekarang, semua itu lepas dan beralih rupa dengan bantuan teknologi informasi. Kita enggak tahu dia musuh kita atau buka. Kadang bisa jadi dia tetangga kita, saudara atau teman. Itu menciptakan kekhawatiran yang sifatnya masif," katanya.
 
Radar mengatakan yang paling mudah terindikasi bahwa 'monster-monster' itu kembali muncul adalah ketika kontestasi pilkada DKI Jakarta berlangsung. Menurut penilaian Radar, pasangan calon petahana hamir mustahil kalah jika menggunakan akal sehat.
 
Sayangnya, kata dia, ada semacam skenario di balik itu yang mambuktikan bahwa akal sehat bisa dikalahkan dengan isu-isu dari ketiga 'monster' yang saat ini bebas berkeliaran.
 
"Dan rangkaian bunga adalah semacam protes dari mayoritas dan ini pertanda bagi kita semua kalau tidak berhati-hati, orang seperti Duterte atau Trump akan mudah muncul dan sangat potensial di negeri ini," jelas Radar.
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MEL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan