Mendagri Tjahjo Kumolo (Foto:Dok)
Mendagri Tjahjo Kumolo (Foto:Dok)

Mendagri: Pancasila Menjadi Rumah Kita hingga Akhir Zaman

Nasional Berita Kemendagri
M Studio • 02 Juni 2018 15:52
Ende: Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, di lapangan Pancasila, Kota Ende, 1 Juni 2018.
 
Di dekat lapangan Pancasila, di ujung kiri terdapat tempat bersejarah. Sebuah pohon sukun berbatang lima. Dahulu, saat Belanda masih berkuasa di Indonesia, Soekarno atau biasa dipanggil Bung Karno, diasingkan ke Ende. Selama di asingkan, Si Bung kerap duduk merenung di bawah rindang pohon sukun. Dari renungan itu lantas lahir rumusan yang kelak dikenal dengan lima sila Pancasila.
 
Tak jauh dari pohon sukun, untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, dibangun patung Bung Karno yang sedang duduk menyilangkan kaki. Pohon sukun yang asli tempat Bung Karno merenung itu sendiri sebenarnya sudah tumbang. Tapi pada sekitar tahun 80-an di lokasi yang sama kembali di tanam pohon sukun yang kini tumbuh subur. Dari pohon sukun, hanya terhalang pagar, terpisahkan jalan, mata bisa langsung menatap wajah lautan. Tak jauh dari sana, ada pelabuhan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengenakan pakaian adat khas Ende, Mendagri menyampaikan amanat sebagai pembina upacara, bahwa Ende adalah kota dan tempat yang punya nilai sejarah tersendiri. Di kota itu, dahulu seorang tokoh nasional diasingkan. Tokoh nasional itu tak lain adalah Bung Karno. Meski diasingkan di tempat terpencil, api semangat untuk membebaskan rakyatnya tak pernah padam. Di Ende, pikiran Bung Karno tak pernah ikut terbelenggu. Dia berpikir dan terus berpikir tentang bangsanya.
 
"Kita memperingati hari lahirnya Pancasila, harus kita tarik ke belakang bahwa sejarah membuktikan seorang tokoh nasional pernah diasingkan oleh penjajah Belanda di kota Ende ini. Bung Karno tidak hanya merenung, tapi dengan api dan semangat yang ada di tanah Ende ini, Bung Karno bisa melihat detak denyut napas seluruh Nusantara dari Sabang sampai Merauke," kata Tjahjo dengan suara berapi-api.
 
Dalam pengasingan, api semangat Bung Karno tak pernah padam. Bahkan di Ende, Bung Karno terus menggali apa yang bisa jadi sumbangsih bagi bangsanya. Dan di bawah pohon Sukun itulah, gagasan besar lahir. Gagasan yang kelak menjadi warisan berharga si Bung bagi bangsanya. Gagasan itu yang kini dikenal dengan lima sila Pancasila.
 
"Atas karunia Tuhan Yang Maha Kuasa ini beliau bisa menggali nilai-nilai budaya falsafah di seluruh Indonesia ini yang akhirnya beliau rangkai dalam bentuk sila- sila dalam Pancasila itu," ujarnya.
 
Dalam pidatonya, tak lupa Tjahjo menyampaikan amanat khusus Hari Lahir Pancasila dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kata dia, Presiden Jokowi mengingatkan seluruh anak bangsa untuk tetap merawat warisan besar Bung Karno yang digali di Ende. Warisan bernama Pancasila yang hingga sekarang terbukti mampu jadi bintang pemandu bangsa Indonesia. Dan selama 73 tahun Pancasila juga mampu bertahan. Pancasila tetap tumbuh, meski didera ombak ideologi lain yang berusaha menggesernya.
 
"Pancasila yang digali dari akar budaya bangsa Indonesia yang majemuk mampu bertahan selama 73 tahun. Pancasila sudah menjadi rumah kita yang Berbhinneka Tunggal Ika, dan InsyaAllah hingga akhir zaman. Dan Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Pancasila akan terus mengalir di setiap denyut nadi seluruh rakyat Indonesia," ujarnya.
 
Tjahjo menambahkan, Bung karno juga selalu mengingatkan setiap manusia harus punya imajinasi dan impian. Karena dengan imajinasi dan impian, setiap orang punya konsepsi- konsepsi, gagasan-gagasan dan ide- ide. Dan dengan konsepsi dan gagasan itu, setiap orang bisa melaksanakan apa yang menjadi konsepsi dan pikirannya.
 
"Itulah impian dan imajinasi Bung Karno pada saat beliau diasingkan di kota Ende yang bersejarah ini. Inspirasi itu muncul, imajinasi itu muncul, konsepsi itu muncul, tidak hanya sekadar bagaimana memerdekakan bangsa ini tapi beliau juga mampu menyusun program semesta nasional pembangunan program jangka panjang," katanya.
 
Bahkan jauh lebih dari itu, kata Tjahjo, Bung Karno juga memikirkan dan mempersiapkan ideologi negara. Itu yang kemudian dia jabarkan dalam sila- sila Pancasila. Tjahjo pun mengajak seluruh anak bangsa untuk membangun imajinasi dan impian, serta bersama-sama memberi sumbangsih bagi bangsa.
 
"Kita harus mampu menjabarkan, mengimplementasikan dalam setiap kebijakan politik pembangunan di manapun juga harus berdasarkan dari sila- sila Pancasila itu sendiri," ujarnya.
 
Kata Tjahjo, Presiden Jokowi juga mengingatkan bahwa pendiri bangsa Indonesia datang dari berbagai latar belakang dan golongan. Tapi mereka punya tekad dan spirit yang sama. Pancasila berperan sebagai falsafah dan dasar negara yang kokoh. Menjadi pondasi tegaknya negara kesatuan.
 
"Maka kita harus terus bersatu memperkokoh semangat Bhinneka Tunggal Ika," katanya.
 
Presiden Jokowi juga mengharapkan, hari lahirnya Pancasila pada 1 Juni ini harus dimanfaatkan, tidak sekadar momentum pengingat tapi mesti jadi momen untuk memacu, mengaktualisasikan nilai- nilai Pancasila.
 
"Marilah kita amalkan warisan mulia pendiri bangsa untuk kemajuan bangsa dan sekaligus untuk menjadi sumbangsih negara kita kepada masyarakat di dunia," kata Tjahjo.
 
Presiden Jokowi juga kata dia, atas nama seluruh rakyat Indonesia menyampaikan terima kasih dan penghargaan serta penghormatan kepada para pendiri bangsa atas warisan luhur mereka kepada NKRI. Pancasila adalah warisan dari pendiri bangsa, khususnya Bung Karno sebagai penggali. Apalagi tantangan yang dihadapi bangsa ini kian berat dan kompleks.
 
"Bapak Presiden Jokowi dengan Nawacitanya mempercepat proses pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial. Insya Allah pertengahan tahun ini kita bangsa Indonesia bisa tegak berdiri menyanyikan lagu dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia," kata mantan Sekjen PDIP tersebut.
 
Contohnya kata dia, perhatian Presiden Jokowi kepada NTT. Di provinsi ini, Presiden telah membangun beberapa waduk besar. Ini dalam rangka mempercepat pemerataan pembangunan dan kesejahteraan. Sehingga yang maju tidak hanya di Jawa, Kalimantan atau Sumantera tapi juga di NTT. " Tantangan yang palingg penting kita cermati masalah radikalisme terorisme. Dan itu bukan tanggung jawabnya TNI dan Polri saja tapi tanggung jawab kita semua elemen bangsa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat generasi muda," ujarnya.
 
Karena itu, ujar Tjahjo, semua elemen bangsa harus berani menentukan sikap siapa kawan, siapa lawan pada perorangan, kelompok atau golongan yang ingin merusak dan mengganti Pancasila di republik ini. Termasuk kepada mereka yang ingin memporak-porandakan Bhinneka Tunggal Ika, mengganti NKRI dan UUD 1945. Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI adalah harga mati dan sudah final.
 

(ROS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif