Rencana revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM). Foto: Dokumentasi PT Jakarta Propertindo
Rencana revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM). Foto: Dokumentasi PT Jakarta Propertindo

Gaduh Revitalisasi TIM

Nasional transisi taman ismail marzuki Rangkuman Nasional
Juven Martua Sitompul • 20 Februari 2020 10:29
Jakarta:Revitalisasi Taman Ismail Marsuki (TIM) menuai polemik. Beberapa ornamen seni dan budaya harus dirombak guna menata wajah baru situs nasional tersebut.
 
Ihwal gaduh revitalisasi ini berawal dari adanya laporan kelompok seniman Jakarta ke DPR. Para seniman tak menerima rencana perombakan TIM.
 
Revitalisasi TIM ini dianggap pembunuhan besar-besaran atau genosida kebudayaan. Pekerja seni dipaksa merelakan mata pencariannya karena ruang berekspresi mereka itu baru dibuka setelah proyek selesai, dua tahun lagi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemprov DKI bahkan dianggap tutup mata dan telinga dengan nasib pekerja seni. Sekalipun mereka melakukan perlawanan melalui acara seni gerilya yang digelar berbulan-bulan.
 
Salah satu yang disesalkan dari revitalisasi itu ialah, sebagai pemangku kepentingan utama Pusat Kesenian Jakarta, pekerja seni tak dilibatkan dalam revitalisasi TIM. Pemprov DKI justru memberi wewenang kepada PT Jakarta Propertindo (Jakpro) merevitalisasi pusat kesenian Jakarta TIM melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 63 Tahun 2019.
 
Gaduh Revitalisasi TIM
PT Jakpro mulai membongkar Gedung Graha Bhakti Budaya (GBB), TIM, Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020. Foto: Antara/Aprillio Akbar
 
Berikut rentetan kegaduhan revitalisasi TIM:

1. Anggaran Revitalisasi TIM Mencapai Rp1 Triliun

Gubernur Anies Baswedan berencana merevitalisasi kawasan TIM di Cikini, Jakarta Pusat. Tak tanggung-tanggung, pihaknya menganggarkan biaya tak kurang Rp1 Triliun.
 
"Revitalisasi TIM tadi malam kita canangkan dan ini adalah dua aspek. Insyaallah akan berjalan dua tahun dan ini akan memakan biaya sebesar Rp1 triliun," kata Anies di Kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Selatan, Minggu, 11 November 2018.
 
Selengkapnya baca di sini

2. PT Jakpro Kerjakan Revitalisasi TIM

Desain revitalisasi TIM dikerjakan oleh Andra Matin. Sang arsitek menjanjikan revitalisasi akan mengembalikan napas TIM seperti pertama kali dibangun pada 1968.
 
"Saat itu TIM merupakan kawasan yang inklusif, terbuka, dan guyub. Tidak ada batasan antara seniman dan seniman, seniman dan masyarakat, serta seniman muda dan seniman tua. Sangat kondusif pada saat itu," ujar Andra, Minggu, 12 November 2018.
 
Selengkapnya baca di sini

3. Jakpro Tak Dapat Restu Seniman

Jakpro mengeklaim sudah bertemu seniman membahas pembangunan hotel di TIM. Namun, restu tak juga didapat.
 
Corporate Secretary Jakpro Hani Sumarno menyebut diskusi dihadiri beberapa seniman seperti budayawan Radhar Panca Dahana dan pengamat teater Arie Batubara. Radhar konsisten tak ingin ada penginapan di TIM.
 
Selengkapnya baca di sini

4. Komisi X DPR Minta Revitalisasi TIM Dimoratorium

Komisi X DPR meminta proyek revitalisasi TIM oleh Pemprov DKI Jakarta diberhentikan sementara (moratorium). Revitalisasi TIM dikeluhkan pekerja seni yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki.
 
"Kita akan lakukan secepatnya (sidak), kita akan jadwalkan secepatnya. karena kita menghendaki moratorium, menyetujui moratorium," kata Ketua Komisi X Syaiful Huda di Kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin 17 Februari 2020.
 
Selengkapnya baca di sini
 
Gaduh Revitalisasi TIM
Dede Yusuf. (Foto:Antara/Akbar Nugroho)
 
Anggota Komisi X Dede Yusuf mendesak Pemprov DKI Jakarta tak menjadikan TIM sebagai kawasan komersil dengan dalih revitalisasi. Proyek revitaslisasi TIM dianggap mengorbankan pegiat dan pekerja seni.
 
"Tentu jangan juga dikomersialisasikan. Karena tanpa dukungan pemerintah, seniman, dan budayawan belum tentu bisa survive jika harus melawan arus budaya pop komersil," kata Anggota DPR Komisi X Dede Yusuf kepada Medcom.id, Selasa 18 Februari 2020.
 
Menurut politikus Partai Demokrat itu, Pemprov DKI jangan mengesampingkan nasib para seniman. Ia menyampaikan sejatinya Komisi X tak menolak proyek revitalisasi kawasan TIM. Dengan catatan sesuai aturan dan melibatkan seniman.
 
Dia mengingatkan revitalisasi jangan menghilangkan fungsi TIM sebagai pusat ekspresi seni dan budaya. Revitalisasi bukan hanya untuk kepentingan bisnis.
 
"Ada tinjauan historis, sosiologis, dan fungsiologis. Fungsi utama adalah untuk kegiatan seni budaya nasional, bukan untik hotel, dan lain-lain," ucap Dede.
 

(JMS)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif