Memanfaatkan Peluang Bisnis di Stasiun MRT Jakarta

Nur Azizah 23 Oktober 2018 15:26 WIB
proyek mrt
Memanfaatkan Peluang Bisnis di Stasiun MRT Jakarta
MRT di Depo Lebak Bulus/MI/Adam Dwi
Jakarta: PT MRT Jakarta tak bisa hanya mengandalkan subsidi Pemprov DKI. Perusahaan itu harus putar otak mencari rupiah agar tetap hidup.

PT MRT Jakarta melirik peluang bisnis nonpenjualan tiket (non-fare box). Dalam Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pendirian PT MRT Jakarta, perusahaan pelat merah itu boleh mencari pendapatan selain penjualan tiket.

Seluruh hal yang berkaitan dengan MRT Jakarta berpeluang mendatangkan uang. Mulai kereta, tembok, terowongan, hingga eskalator.


"Memang semua yang ada di MRT Jakarta memiliki peluang bisnis. Dari mulai masuk hingga keluar stasiun bisa dijadikan tempat iklan," kata Direktur Operasi dan Pemiliharaan PT MRT Jakarta Agung Wicaksono di kantor MRT Jakarta, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Selatan, Rabu, 17 Oktober 2018.

Baca: Menimbang Harga Tiket MRT

PT MRT Jakarta juga menyewakan sejumlah tempat untuk beberapa ritel. Ada empat ketegori ritel yang boleh berjualan di 13 stasiun MRT Jakarta. Keempat kategori itu ialah convenience store, fesyen, makanan dan minuman, serta gerai ATM.


Pembangunan MRT. Foto: MI/Adam Dwi

PT MRT Jakarta memiliki ketentuan ketat untuk kios minuman dan makanan. Pemilik kios tidak diperkenankan menggunakan api dan gas. Penggunaan air bersih pun terbatas, begitu juga pada pembuangan air kotor.

"Mereka harus menyesuaikan, harus bisa menyediakan kondisi yang terbatas," tegas Agung.

Baca: Menanti MRT di Kota Penyangga

Hanya lima convenience store yang diizinkan berjualan seteleh diseleksi ketat. Di luar itu, izin diberikan untuk tujuh kedai makanan dan minuman, serta tiga kios fesyen. Masing-masing kios akan mendapat dua tempat berjualan di dua stasiun.

"Untuk ini sudah kita atur. Stasiun yang ramai akan dipasangkan dengan stasiun yang biasa," tutur dia.

Pemberdayaan UKM

Selain retail regular, PT MRT Jakarta juga memberi kesempatan untuk usaha kecil menengah (UKM) untuk menjajakan barang dagangannya. Ada tiga stasiun yang disiapkan khusus menampung UKM.


Gerbong MRT/MI/Pius Erlangga

Tiga stasiun itu ialah Stasiun Haji Nawi, Sisingamangaraja, dan Blok A. Uniknya, masing-masing stasiun memiliki tema berbeda. Pemilik UKM harus menyesuaikan barang dagangannya dengan tema stasiun.

Misalnya, Stasiun Haji Nawi. Stasiun yang berada di Jalan Pete Raya itu mengusung tema Betawi. Produk UKM pun harus berhubungan dengan adat Betawi, mulai makanan, minuman, hingga kerajianaannya.

Baca: MRT Jakarta Diberi Nama Moda Raya Terpadu

Sedangkan stasiun Sisingamangaraja mengusung tema ASEAN dan Stasiun Blok A memiliki konsep pasar tradisional. Setiap stasiun pun akan didesain sesuai tema masing-masing.

PT MRT Jakarta juga bisa meraih penghasilan dari hak penamaan stasiun. Perusahaan yang ingin menyematkan namanya di belakang nama stasiun harus memiliki kantor setidaknya 50 meter dari stasiun.

Peluang bisnis non penjualan tiket tak bisa dipandang sebelah mata. Agung menyebut bisnis bisa menyumbang 8 persen dari pendapatan PT MRT Jakarta.

Baca: Adu Murah MRT dan Ojek Online

Hingga saat ini, progres pembanguanan konstruksi MRT fase I sudah mencapai 96,54 persen. Rinciannya, 95,36 persen konstruksi bagian depo dan jalan layang, sementara 97,71 persen bagian bawah tanah.

Kereta bawah tanah diproyeksikan beroperasi Maret 2019. Kereta cepat itu ditargetkan dapat membawa 172 ribu penumpang setiap hari, dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI.





(OJE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id