Adu Murah MRT dan Ojek <i>Online</i>
Pekerja menyelesaikan pembangunan jalur dan stasiun Mass Rapid Transit (MRT) Sisingamangaraja, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga
Jakarta: Sudah hampir tiga pekan Ummi Hadyah jadi penumpang ojek daring atau online. Ongkos perjalanannya pun lumayan banyak merogoh kocek.

Dari indekosnya di Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan, menuju kantornya di Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ummi bisa menghabiskan Rp16 ribu hingga Rp18 ribu untuk sekali jalan. Paling tidak, dia perlu menyisihkan Rp36 ribu untuk sepaket perjalanan.

Namun, cerita bakal berbeda bila dia menggunakan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Ummi mungkin bisa mengirit. PT MRT Jakarta memiliki dua skenario dalam menentukan tarif tiket.


Skenario pertama, tarif dengan harga Rp8.500 untuk perjalanan maksimal atau Rp700 untuk per satu kilometer. Skenario kedua, harga Rp10.000 untuk perjalanan 10 kilometer atau Rp850 untuk setiap satu kilometer. Kedua harga ini akan ditambah dengan boarding fee sebesar Rp1.500.

Dengan skenario pertama, Ummi hanya perlu membayar Rp6.000 hingga stasiun Dukuh Atas. Setelah itu, dia bisa melanjutkan perjalanan dengan ojek daring seharga Rp7.000 sekali jalan. Sekali jalan, Ummi hanya butuh sekitar Rp13.000 atau Rp26.000 untuk pergi dan pulang.

Andai kata yang diterapkan skenario kedua, Ummi hanya mengeluarkan Rp28.000 untuk pergi dan pulang. Hitungannya, 6,4 kilometer dikalikan harga per kilometer Rp850, yakni Rp5.440.

Angka itu kemudian ditambah dengan boarding fee hingga totalnya Rp6.940. Tarif itu bisa dibulatkan menjadi Rp7.000.

“Lebih murah sih. Jadi ngirit Rp2.000. Kalau mau lebih irit lagi disambung TransJakarta ya,” kata Ummi seraya tertawa, Minggu, 21 Oktober 2018.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Iskandar Abubakar menyebut 25 persen hingga 30 persen pendapatan warga Jakarta memang habis untuk transportasi. Padahal, idealnya biaya transportasi per bulan sekitar 14 persen dari total pendapatan.

Tiket MRT di negara lain

Direktur Operasi dan Pemiliharaan PT MRT Jakarta Agung Wicaksono mengatakan penumpang angkutan publik tak keberatan dengan harga tiket Rp10 ribu yang ditawarkan pihaknya. Harga tiket yang diformulasikan MRT Jakarta dianggap sudah murah.

“Kalau di negara berkembang, tiket paling murah satu dolar (Rp15 ribu),” ungkapnya.

Di Singapura, harga tiket MRT berkisar SG$2 atau setara Rp22 ribu. Sementara di Thailand, tarif untuk anak, pelajar, dan dewasa berbeda. Tarif untuk dewasa mulai dari 16-40 Baht atau Rp5.007 hingga Rp12.519. Pelajar dikenakan tarif 14-36 Baht (Rp4.381-Rp11.267) dan anak-anak 8-20 Baht (Rp2.503-Rp6.259).

Baca: Menanti MRT di Kota Penyangga

Di Hongkong, tarifnya berkisar antara HK$4-26 (Rp4.959-Rp32.239) sesuai jarak. Di Tiongkok, harga tiket MRT lebih murah, yakni sekitar 2 Yuan atau setara Rp5 ribu.

"Kalau di Cina memang lebih murah karena bisnisnya juga sudah maju," ungkap dia. 

Integrasi TransJakarta

Pemerintah memiliki target untuk meningkatkan jumlah pengguna transportasi hingga 40 persen di 2019. Untuk mewujudkan target ini, PT MRT Jakarta tak bisa berjalan sendiri. Integrasi dengan moda lainnya seperti bus TransJakarta diperlukan.

"Untuk itu integrasi harus terjadi dengan cara menghilangkan Koridor 1 karena rutenya berimpitan," ungkap Agung.

Ia khawatir, bila MRT dan TransJakarta berada di satu jalur yang sama, terjadi persaingan. Padahal, tujuan adanya transportasi publik bukan untuk berkompetisi, tapi untuk berintegrasi.

Baca: MRT dan Mimpi Merevolusi Transportasi Kaum Urban

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan Koridor 1 TransJakarta tak perlu dihilangkan. Pasalnya, masyarakat butuh pilihan selain MRT Jakarta. 

Lagi pula, impitan rute TransJakarta dengan MRT tak panjang. Selain itu, TransJakarta bisa menjadi pilihan transportasi yang tidak bisa dijangkau oleh masyarakat.

"Tidak perlu dihilangkan, biarkan saja. Biar masyarakat punya pilihan moda," kata dia.





(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id