Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). MI
Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). MI

Ali Fahmi Kembali Dipanggil KPK

Candra Yuri Nuralam • 08 Desember 2020 11:19
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Direktur Utama PT Viva Kreasindo Investindo Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi. Dia bakal dimintai keterangan terkait kasus dugaan suap pembahasan dan pengesahan RKA K/L dalam APBD tahun 2016 untuk Badan Keamanan Laut (Bakamla).
 
"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka korporasi PT Merial Esa," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Selasa, 8 Desember 2020.
 
KPK membutuhkan keterangan Ali Fahmi untuk mengonfirmasi beberapa temuan penyidik dalam rasuah ini. Keterangannya akan digunakan untuk penguatan bukti.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Penyuap Legislator Golkar Dituntut 3,5 Tahun Penjara
 
Ali Fahmi beberapa kali dipanggil KPK terkait kasus suap di Bakamla. Dia juga beberapa kali bersaksi untuk sejumlah tersangka kasus ini di persidangan. Ali Fahmi bahkan sempat dicari-cari penyidik pada 2018 karena keterangannya sangat diperlukan KPK.
 
Terpidana kasus suap pengadaan satelit monitoring dan drone Bakamla, Fayakhun Andriadi, disebut pernah berselisih dengan Ali Fahmi. Konflik terjadi saat Ali Fahmi dipercaya menjadi staf khusus Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla).
 
Keduanya saling klaim berjasa dalam mengawal anggaran Bakamla di DPR. Hal tersebut diungkap Karyawan PT Merial Esa, Muhammad Adami Okta, saat bersaksi untuk Fayakhun dalam sidang suap Bakamla di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada 27 Agustus 2018.
 
Baca: Dua Tersangka Korupsi di Bakamla Ditahan
 
Sementara itu, PT Merial Esa diduga memberikan serta menjanjikan sesuatu kepada penyelenggara negara. Suap tersebut terkait proses pembahasan dan pengesahan anggaran dalam APBN‎-P Tahun Anggaran 2016 untuk Bakamla.
 
Tersangka Komisaris PT Merial Esa, Erwin Sya'af Arief, diduga berkomunikasi dengan anggota Komisi I DPR RI‎, Fayakhun Andriadi. Komunikasi keduanya menyangkut pengupayaan proyek satelit monitoring di Bakamla masuk APBN-P 2016.
 
Erwin menjanjikan fee tambahan untuk Fayakhun jika meloloskan permintaannya. Total komitmen fee dalam proyek ini mencapai 7 persen, dan 1 persen di antaranya untuk Fayakhun.
 
Baca: Kabakamla Rekrut Politikus Fahmi Habsy untuk Rekomendasi Anggaran
 
Sebagai realisasi biaya komitmen, Direktur PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah, memberikan uang kepada Fayakhun Andriadi sebesar US$911.480 atau setara sekitar Rp12 miliar. Uang tersebut dikirim secara bertahap sebanyak empat kali melalui rekening di Singapura dan Guang Zhou China.
 
PT Merial Esa disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 ‎Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 KUHP.
 
(SUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif