Situasi sidang terkait anggaran pada Badan Keamanan Laut (Bakamla). Foto: Medcom.id/ Damar
Situasi sidang terkait anggaran pada Badan Keamanan Laut (Bakamla). Foto: Medcom.id/ Damar

Penyuap Legislator Golkar Dituntut 3,5 Tahun Penjara

Nasional suap di bakamla
Fachri Audhia Hafiez • 27 September 2019 06:17
Jakarta: Managing Director PT Rohde and Schwarz Indonesia, Erwin Syaaf Arief, dituntut hukuman tiga tahun enam bulan penjara. Erwin dinilai terbukti menyuap mantan anggota Komisi I DPR dari fraksi Partai Golkar Fayakhun Andriadi terkait pengaturan tambahan anggaran pada Badan Keamanan Laut (Bakamla).
 
"Menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dakwaan pertama. Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa selama tiga tahun dan enam bulan ditambah denda sebesar Rp250 juta subsider enam bulan kurungan," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kresno Anto Wibowo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta, dilansir Antara, Kamis, 27 September 2019.
 
Erwin dinilai terbukti menyuap Fayakhun senilai US911.480. Jaksa Kresno menjelaskan tujuan pemberian suap itu agar Fayakhun mengupayakan penambahan anggaran Bakamla untuk pengadaan proyek satelit monitoring dan drone dalam APBN-P 2016.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Erwin menyampaikan ke Fayakhun agar mengupayakan proyek satelit monitoring di Bakamla dapat dianggarkan dalam APBN-P 2016. Sebab, proyek itu akan mempergunakan barang atau produk dari PT Rohde and Schwarz Indonesia.    
 
Erwin juga menyampaikan bahwa proyek itu nanti akan dikerjakan oleh perusahaan milik Dirut PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah dan dijanjikan adanya comittment fee untuk pengurusan anggaran tersebut. Fahmi menyampaikan kepada Fayakhun akan disiapkan commitment fee sebesar enam persen dari pagu anggaran.
 
Namun, Fayakhun minta tambahan commitment fee sebesar satu persen untuk dirinya sendiri dari nilai fee yang sebelumnya dijanjikan. Sehingga total kesepakatan fee adalah tujuh persen. Fahmi selanjutnya memberikan uang senilai US911.480 kepada Fayakhun lewat sejumlah rekening luar negeri.
 
Uang tersebut diambil Fayakhun melalui stafnya, Agus Gunawan secara tunai. Fayakhun menggunakan uang rasuah itu untuk kepentingan politiknya.
 
Dalam perkara ini Fayakhun telah berstatus terpidana dan dihukum 8 tahun penjara serta denda Rp1 miliar dan hak politiknya dicabut selama 5 tahun. Fahmi Darmawansyah dihukum 2 tahun 8 bulan pidana penjara dan denda Rp150 juta. Sementara Adami Okta dihukum masing-masing 1 tahun 6 bulan pidana penjara dan denda Rp100 juta.
 
(NUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif