Petugas Inafis Mabes Polri bersiap mengolah tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran gedung utama Kejaksaan Agung di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2020. Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Petugas Inafis Mabes Polri bersiap mengolah tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran gedung utama Kejaksaan Agung di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2020. Foto: Antara/Muhammad Iqbal

Penjelasan Ahli Soal Rokok Picu Kebakaran Kejagung

Nasional kebakaran gedung kejaksaan agung Kebakaran di Kejaksaan Agung
Siti Yona Hukmana • 23 Oktober 2020 17:26
Jakarta: Ahli kebakaran Universitas Indonesia (UI) Yulianto Sulistyo Nugroho menjelaskan alasan mengapa rokok bisa menyebabkan kebakaran di Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung). Dia menyebut kebakaran selalu diawali oleh api kecil. 
 
"Karena bara bisa menyala di dalam proses. Kalau dia berasal dari rokok, maka dia akan melalui proses yang disebut smouldering atau proses membara. Ini cirinya menghasilkan asap yang banyak sekali berwarna putih," kata Yulianto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 23 Oktober 2020. 
 
Guru Besar Ilmu Teknik Keselamatan Kebakaran Fakultas Teknik UI itu menuturkan dalam proses membara, api bisa mengalami transisi menuju flaming (nyala api terbuka). Jika saat proses membara ada yang seseorang merokok, kondisi akan fatal. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Misalnya (api) itu kalau dimasukkan alat ukur temperatur kurang lebih 600 derajat Celsius, begitu dia bertransisi menjadi flaming combustion bisa di atas 1.000 derajat Celcius," ungkap Yulianto. 
 
Menurut dia, dalam kebakaran Gedung Utama Kejagung, Sabtu, 22 Agustus 2020, juga terjadi proses transisi. Di Lantai 6, Aula Biro Kepegawaian Kejagung, terjadi proses penyalaan api yang membesar.
 
"Kita lambat merespons, api cepat sekali tumbuh sampai ke temperatur sekitar 700-800, bahkan sampai 900 derajat Celsius. Kita bisa mengetahui temperaturnya berapa dari warna beton di ruang yang terbakar tersebut," tutur Yulianto. 
 
Yulianto menyebut api menjalar ke seluruh gedung karena ada kaca yang pecah. Kondisi itu terjadi pada suhu 120 derajat Celcius. Saat kaca pecah, kata dia, api menjilat keluar karena membutuhkan oksigen untuk terus tumbuh.
 
"Ketika kaca pecah maka dia akan mengenai objek yang ada di sekitarnya, mengikuti hukum perpindahan kalor, terjadi konduksi konveksi atau radiasi. Ketika dia mengenai objek yang ada di depannya dan objeknya mampu terbakar, maka terbakarlah objek tersebut," tutur dia. 
 
Pada Gedung Kejagung terdapat material panel aluminium komposit. Di bagian instalasi terdapat bahan yang mudah terbakar.
 
"Ketika dia terbakar terjadi tetesan ke bawah, tetesan inilah yang menyebabkan di sekitar lantai di bawah juga mengalami temperatur yang sangat tinggi," ujar Yulianto.
 
 

Di tempat yang sama, ahli kebakaran Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero menampilkan sebuah video. Rekaman itu memperlihatkan tempat sampah terbuka yang terbuat dari baja. 
 
Tempat sampah itu berisikan setumpuk 150 gram kertas yang dihancurkan, tisu, dan sejumlah bilah kayu. Dia membuat eksperimen kebakaran yang bisa disebabkan rokok. 
 
Baca: Polisi Sebut Kebakaran Kejagung Gara-gara Rokok
 
"Saya masukkan dua puntung rokok keretek. Saya biarkan, mulai dia mengalami smouldering dan berasap putih," kata Bambang. 
 
Bambang mengatakan percobaan ini sesuai dengan keterangan saksi mata yang melihat ada asap putih mengepul saat detik-detik kebakaran terjadi. Asap putih itu cukup banyak.
 
"Kalau ini (eksperimen) terjadi di sini (ruangan konferensi pers), dalam waktu singkat semuanya harus keluar dari ruangan ini. Asapnya banyak sekali," tutur Bambang. 
 
Percobaan itu untuk mengukur nyala api. Dia mengatakan ada transisi dari smouldering menjadi flaming.
 
"Untuk ukuran basket yang hanya kurang lebih 20 cm, tinggi nyala apinya 1 meter, jadi kalau yang terbakar lebih banyak tinggi apinya akan lebih tinggi lagi dan ini berpotensi mengenai objek yang lain," kata Bambang.
 
Polisi menetapkan delapan tersangka kebakaran Kejagung. Lima di antara tukang yang merokok: T, H, S, K, dan IS. Tiga tersangka lain, yakni mandor UAN, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kejagung, NH; dan Direktur Utama PT ARM, R.
 
UAN, NH, dan R dianggap bersalah karena adanya bahan berbahaya, yakni minyak bermerek Top Cleaner yang diproduksi PT ARM. Minyak yang digunakan petugas kebersihan itu tak memiliki izin edar. Minyak itu diduga ikut menyebabkan api menjalar dengan cepat ke seluruh gedung.
 
Kedelapan tersangka dikenakan Pasal 188 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Mereka terancam hukuman hingga lima tahun penjara.
 
(OGI)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif