Salah satu situs peninggalan zaman megalitikum di Lore Lindu, Sulawesi Tengah (Foto:Sulawesitourguide)
Salah satu situs peninggalan zaman megalitikum di Lore Lindu, Sulawesi Tengah (Foto:Sulawesitourguide)

Mengingat Sejarah & Melestarikan Budaya pada Pekan Budaya Indonesia III

Nasional
Anindya Legia Putri • 24 September 2017 09:17
medcom.id, Palu: "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah," ucapan yang lantang disuarakan oleh Presiden Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia 17 Agustus 1966. Hal tersebut menjadi pengingat generasi muda saat ini, agar tidak melupakan sejarah.
 
Sehubungan dengan upaya mengingatkan generasi muda akan sejarah, berbagai dialog Interaktif seputar sejarah Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah, menjadi agenda utama dalam rangkaian acara Pekan Budaya Indonesia (PBI) III dan Festival Pesona Palu Nomoni, Sabtu, 23 September 2017.
 
Dialog interaktif tersebut yaitu dialog interaktif Kesejarahan di Aula Museum Sulawesi Tengah, Focus Group Discussioin (FGD) Kawasan Megalitik Lore Lindu, serta FGD Pemajuan Kebijakan Kebudayaan Pusat dan Daerah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menyampaikan bahwa Palu memiliki tradisi yang panjang sebagai salah satu pusat perdagangan maritim pada masa lalu. Meski pada saat itu Donggala lebih terkenal, Teluk Palu memiliki sejarah panjang dan berkontribusi pada sejarah Sulawesi, dan Indonesia pada umumnya. Salah satunya, mengenai sejarah di kawasan Lore Lindu, Sulteng.
 
"Kita berharap, melalui dialog interaktif ini banyak hal yang bisa kita temukan. Juga tidak bisa dilupakan yaitu cagar budaya Lore Lindu, salah satu kawasan Megalitikum yang paling besar di Indonesia ini. Bahkan di dunia pun menjadi salah satu situs yang signifikan. Dan kalau kita lihat peninggalan di sana, banyak pahatan-pahatan megalitikum yang belum selesai. Diduga, di situ lah pusatnya, pusat megalitik kita yang luar biasa," ujar Hilmar.
 
Selain itu, terdapat juga dialog mengenai kesenian dan budaya, serta tata adat masyarakat adat yang terdapat di Sulawesi Tengah. Hilmar menilai, pemerintah provinsi dan pemerintah daerah menunjukkan komitmen untuk mendorong kebudayaan di Sulawesi Tengah.
 
"Ada perhatian besar untuk melestarikan kebudayaan ini. Pemerintah pusat kan sekadar memfasilitasi. Karena kebudayaan itu, ya ada di daerah. Jadi, daerah yang harus berdiri di depan. Kita bantu membangun ekosistemnya," ujar Hilmar.
 

(ROS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif