Prabumulih: Sebanyak 60 rumah di dua desa di Kelurahan Tanjung Rambang, Kecamatan Rambang Kapak Tengah, Kota Prabumulih, Sumatra Selatan, rusak diterjang angin puting beliung, Rabu, 23 September 2020. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
"Sebagian besar rumah warga mengalami kerusakan di bagian atap karena terangkat oleh angin puting beliung. Warga yang rumahnya rusak mengungsi ke rumah keluarga ataupun tetangga," kata Kabid Penanganan Kedaruratan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori, Kamis, 24 September 2020.
Ansori memastikan tidak ada korban luka maupun meninggal akibat peristiwa itu. BPBD bersama Dinas Sosial pun tengah meninjau ke lokasi kejadian.
"Untuk kerugian belum kita pastikan berapa. Petugas masih melakukan pendataan untuk proses mekanisme bantuan kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan," kata dia.
Baca juga: Korban Terakhir Banjir Bandang Sukabumi Ditemukan
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palembang, menyebut wilayah Sumatra Selatan mulai memasuki masa pancaroba menuju musim hujan pada pertengahan Oktober sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya bencana asap pada 2020.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Kenten Palembang, Nandang Pangaribowo, mengatakan masa peralihan musim di Sumsel dimulai pada akhir September hingga pertengahan Oktober.
"Untuk awal musim hujan 2020-2021 sebagian besar masuk di Oktober Dasarian I sampai III, namun di Sumsel bagian utara diprediksi akhir September sudah masuk musim hujan," ujarnya, melansir Antara.
Menurut dia dengan masuknya musim pancaroba, musim kemarau 2020 terhitung lebih singkat, yaitu selama 10-12 dasarian dimulai sejak Juni. Namun masih mendekati rata-rata normal musim kemarau yakni 12-14 dasarian.
Pendeknya masa kemarau ditambah kondisi yang lebih basah dari 2019 membuat tingkat kemunculan titik api serta kebakaran hutan dan lahan merosot pada 2020. Bahkan status sebagian besar lahan masih pada level tidak mudah terbakar karena kelembaban masih terjaga.
Baca juga: 4 Skema Sakti Pemprov Jatim Ciptakan UMKM Kebal Covid-19
Sementara selama peralihan musim hujan ia mengingatkan masyarakat agar waspada dengan perubahan cuaca yang signifikan dan terjadi dalam tempo cepat, sebab arah angin masih bervariasi serta berpindah-pindah.
Dampaknya hujan disertai angin kencang dan petir berpotensi menimbulkan kerusakan di wilayah bertopografi landai, seperti Kota Palembang, OKI, Muara Enim, Lahat, Musi Banyuasin, dan sebagian Banyuasin.
"Prediksi sifat hujan selama pancaroba levelnya sedang hingga tinggi, masyarakat perlu waspada," tambahnya.
Prabumulih: Sebanyak 60 rumah di dua desa di Kelurahan Tanjung Rambang, Kecamatan Rambang Kapak Tengah, Kota Prabumulih, Sumatra Selatan, rusak diterjang
angin puting beliung, Rabu, 23 September 2020. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
"Sebagian besar rumah warga mengalami kerusakan di bagian atap karena terangkat oleh angin puting beliung. Warga yang rumahnya rusak mengungsi ke rumah keluarga ataupun tetangga," kata Kabid Penanganan Kedaruratan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori, Kamis, 24 September 2020.
Ansori memastikan tidak ada korban luka maupun meninggal akibat peristiwa itu. BPBD bersama Dinas Sosial pun tengah meninjau ke lokasi kejadian.
"Untuk kerugian belum kita pastikan berapa. Petugas masih melakukan pendataan untuk proses mekanisme bantuan kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan," kata dia.
Baca juga:
Korban Terakhir Banjir Bandang Sukabumi Ditemukan
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palembang, menyebut wilayah Sumatra Selatan mulai memasuki masa pancaroba menuju musim hujan pada pertengahan Oktober sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya bencana asap pada 2020.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Kenten Palembang, Nandang Pangaribowo, mengatakan masa peralihan musim di Sumsel dimulai pada akhir September hingga pertengahan Oktober.
"Untuk awal musim hujan 2020-2021 sebagian besar masuk di Oktober Dasarian I sampai III, namun di Sumsel bagian utara diprediksi akhir September sudah masuk musim hujan," ujarnya, melansir Antara.
Menurut dia dengan masuknya musim pancaroba, musim kemarau 2020 terhitung lebih singkat, yaitu selama 10-12 dasarian dimulai sejak Juni. Namun masih mendekati rata-rata normal musim kemarau yakni 12-14 dasarian.
Pendeknya masa kemarau ditambah kondisi yang lebih basah dari 2019 membuat tingkat kemunculan titik api serta kebakaran hutan dan lahan merosot pada 2020. Bahkan status sebagian besar lahan masih pada level tidak mudah terbakar karena kelembaban masih terjaga.
Baca juga:
4 Skema Sakti Pemprov Jatim Ciptakan UMKM Kebal Covid-19
Sementara selama peralihan musim hujan ia mengingatkan masyarakat agar waspada dengan perubahan cuaca yang signifikan dan terjadi dalam tempo cepat, sebab arah angin masih bervariasi serta berpindah-pindah.
Dampaknya hujan disertai angin kencang dan petir berpotensi menimbulkan kerusakan di wilayah bertopografi landai, seperti Kota Palembang, OKI, Muara Enim, Lahat, Musi Banyuasin, dan sebagian Banyuasin.
"Prediksi sifat hujan selama pancaroba levelnya sedang hingga tinggi, masyarakat perlu waspada," tambahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MEL)