Empat siswi tuna rungu membawakan Tari Kakavu di ajang Pekan Budaya Indonesia III (Foto:Metrotvnews.com/Anindya Legia Putri)
Empat siswi tuna rungu membawakan Tari Kakavu di ajang Pekan Budaya Indonesia III (Foto:Metrotvnews.com/Anindya Legia Putri)

Siswi Tuna Rungu Bawakan Tari Kakavu di Pekan Budaya Indonesia di Palu

Nasional
Anindya Legia Putri • 25 September 2017 11:00
medcom.id, Palu: Ada yang menarik pada gelaran Pekan Budaya Indonesia III dan Festival Pesona Teluk Nomoni. Pentas seni di panggung Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah menampilkan kemampuan luar biasa dari anak-anak difabel.
 
Beberapa kesenian yang ditampilkan yakni tarian, pantomim, dan permainan musik yang dibawakan oleh murid Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Dalaka, serta story telling yang dibawakan SLB Bhakti Putra.
 
Tarian yang dibawakan yakni Tari Kakavu. Tarian ini berasal dari Desa Dalaka, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Tarian tersebut dibawakan secara apik oleh empat siswi tuna rungu yang mengenakan busana adat Kaili dengan sarung Donggala bercorak ungu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tari Kakavu bercerita tentang kehidupan masyarakat Desa Dalaka, tentang pembuatan kasur dan bantal," ujar guru SLBN Dalaka, Hikma, saat ditemui di lokasi acara di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu, 24 September 2017.
 
Hikma menjelaskan, ia hanya butuh waktu dua minggu untuk mengajari muridnya Tari Kakavu. Tarian tersebut belum terlalu dikenal khalayak. Melalui Pekan Budaya Indonesia, ia berharap Tari Kakavu bisa terus dilestarikan.
 
Siswi Tuna Rungu Bawakan Tari Kakavu di Pekan Budaya Indonesia di Palu
Empat siswi tuna rungu didampingi guru SLBN Dalaka, Hikma, usai membawakan Tari Kakavu di ajang Pekan Budaya Indonesia III (Foto:Metrotvnews.com/Anindya Legia Putri)
 
"Melestarikan budaya itu perlu, sehingga generasi bangsa tahu tarian daerahnya sendiri. Kami sangat mengapresiasi PBI. Kalau di Palu hanya dikenal Tari Pamonte saja. Jadi, PBI memberikan kesempatan untuk tarian daerah lainnya dikenal masyarakat," ujar Hikma.
 
Uniknya, proses pembuatan kasur diperlihatkan pada gerakan Tari Kakavu, sebagai berikut:
1. Moseka, mengupas kulit kapuk kemudian menjemurnya
2. Moboba, memukul-mukul untuk memisahkan kapuk dengan bijinya
3. Motale, menghambur dan meratakan kapuk di tempat penjemuran
4. Mokambi, menjahit dan mengikat pola petekan kasur
5. Mogoliaka, membolak balikan kapuk yang sedang dijemur
6. Modude, merontokkan kembali biji kapuk yang tersisa pada kapuk yang sudah kering
7. Mosore, mengumpulkan kapuk yang sudah kering kemudian dimasukkan ke dalam karung
8. Mokosini, mengisi kapuk dalam kain yang sudah dibuatkan pola petakan kasur
9. Moaso, menusuk-nusuk pingir kasur yang telah diisi kapuk
10. Modau, menjahit pinggir kasur yang telah diisi kapuk
11. Mobalulu, menggulung kasur yang telah selesai dibuat kemudian siap untuk dipasarkan.
 

(ROS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif