Pengrajin Batik Tulis di Sidoarjo, Nurul Huda, menunjukkan hasil desai batiknya (Foto: Medcom.id/Syaikhul Hadi).
Pengrajin Batik Tulis di Sidoarjo, Nurul Huda, menunjukkan hasil desai batiknya (Foto: Medcom.id/Syaikhul Hadi).

Upaya Batik Al Huda Sidoarjo Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Syaikhul Hadi • 02 Oktober 2020 17:06
Sidoarjo: Pandemi covid-19 menjadi masa-masa sulit bagi semua warga di Indonesia dan dunia, tak terkecuali para perajin batik. Pada peringatan Hari Batik Nasional tahun ini tak sedikit pembuat batik yang mencoba bertahan di tengah pandemi. Salah satunya batik Al Huda di Sidoarjo, Jawa Timur. 
 
Nurul Huda, perajin batik kenamaan di Sidoarjo ini bersyukur tak sampai gulung tikar dan merumahkan karyawannya. Hasil penjualan batik tahun lalu menjadi bekal keberlangsungan usahanya selama pandemi covid-19.
 
"Alhamdulillah, kami lebih dulu menerima order sebanyak 7.000-an batik sebelum pandemi. Sehingga kami masih bisa bertahan dan tetap beraktivitas selama pandemi," ujar Huda, Jumat, 2 Oktober 2020. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga: Sertifikasi Hak Cipta Dinilai Penting bagi Perajin Batik
 
Huda mengakui setiap perajin dihadapkan pada situasi sulit saat ini. Apalagi batik bukan kebutuhan primer masyarakat.
 
"Terus terang, kami bisa kembali menerima order setelah beberapa bulan pandemi. Ya, meskipun tak sebanyak sebelum pandemi, kami tetap melayani. Kadang 100, ada juga 50, dan bahkan ada yang hanya 20 potong," ungkapnya.
 
 

Meski dengan pesanan yang sedikit, Huda tetap menerimanya. Sebab ia masih harus menggaji sekitar 50 karyawan. Setiap hari ia berupaya memproduksi 50-100 batik.
 
"Syukur alhamdulilah, tidak ada satupun karyawan kami yang diberhentikan. Mereka tetap bekerja, memproduksi. Karena kami kan punya pesenan banyak sebelum pandemi. Jadi mereka membuat itu semua. Bahkan ada warga yang datang kesini agar bisa bekerja juga," terangnya. 

Asal-usul batik Al-Huda Sidoarjo. 


Batik tulis yang diberi nama Al-Huda merupakan manifestasi sebuah karya desain yang diciptakan Nurul Huda sejak 1982. Kala itu ia masih duduk di bangku sekolah dengan hobi mendesain batik.
 
Meski pada awalnya dipandang sebelah mata, Huda tetap mendesain batik dan menawarkan kepada para guru sebagai pasart pertamanya. Kegiatan itu ia teruskan sampai ke bangku kuliah.
 
"Di bangku kuliah pun saya juga tunjukkan karya saya ke dosen-dosen. Sambil kuliah, saya tetap usaha untuk membuat batik, menjahit, dan sebagainya," kata dosen di salah satu universitas di Surabaya itu. 
 
Huda menambahkan dalam karya desainnya, Batik Al-Huda Sidoarjo lebih banyak memasukkan ciri khas kabupaten. Salah satunya, beras utah atau beras tumpah, kembang tebu, dan udang bandeng. 

 
(MEL)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif