Shatha Hanaysha bersama Shireen Abu Akleh yang tersungkur ditembak pasukan Israel. Foto: Layar tangkap Al Jazeera
Shatha Hanaysha bersama Shireen Abu Akleh yang tersungkur ditembak pasukan Israel. Foto: Layar tangkap Al Jazeera

Saksi Mata Sebut Shireen Abu Akleh Diincar Prajurit Israel

Internasional Palestina israel palestina Israel Kekerasan terhadap Wartawan Shireen Abu Akleh
Fajar Nugraha • 12 Mei 2022 18:11
Jenin: Wartawan Palestina Shatha Hanaysha sedang bersama Shireen Abu Akleh ketika mereka diserang di Jenin. Dia menggambarkan kegembiraan bekerja dengan veteran dan ketakutannya ketika pasukan Israel mulai menembak.
 
“Sebelum saya pergi tidur tadi malam, saya terpaku pada ponsel saya memantau berita tentang tentara Israel yang meningkatkan pasukan di dekat pos pemeriksaan Jalame di luar Jenin, sebuah kota Palestina di Tepi Barat yang diduduki,” ujar Hanaysha, seperti dikutip dari Middle East Eye, Kamis 12 Mei 2022.
 
Baca: Jurnalis Veteran Al Jazeera Tewas Ditembak Pasukan Israel Saat Meliput di Jenin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Saya tahu ini berarti kemungkinan serangan di kamp pengungsi, seperti yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Saya meninggalkan ponsel saya dalam mode umum sehingga peringatan apa pun akan masuk, dan memutuskan untuk tidur beberapa jam agar siap di pagi hari,” imbuh Hanaysha.
 
“Dan tepat sebelum pukul enam pagi, saya menerima telepon yang saya tahu akan datang. Ada penggerebekan di kamp, ??apakah kamu ingin meliputnya? Rekan saya Mujahed al-Saadi bertanya,” tuturnya.
 
''Tentu saja,” Hanasyha menjawab.
 
“Saya bersiap-siap dan menuju Jenin dari rumah saya di kota Qabatya, 10 menit perjalanan dengan mobil,” imbuhnya.
 
Ketika tiba di dekat Return Roundabout, sebuah monumen besar di kota yang mengarah ke kamp, Hanasyha kemudian mengenakan helm pers dan pelindung tubuh. Seperti yang dilakukan para jurnalis lain yang berada bersamanya.
 
Di luar kamp, ????Jenin adalah kota yang tenang. Itu adalah pagi yang normal, dengan orang-orang berjalan dan mengemudi untuk bekerja dengan damai.
 
“Tidak ada yang perlu ditakuti,” seorang pejalan kaki yang datang dari kamp memberi tahu kami saat kami mengenakan rompi. "Hampir tidak ada yang terjadi di sana, tenang,” ucap Hanasyha.
 
Pasukan Israel telah menyerbu kamp dan mengepung rumah Abdallah al-Hosari, yang mereka bunuh pada 1 Maret, untuk menangkap saudaranya.
 
“Sebelum kami berjalan kaki menuju kamp untuk meliput serangan dan baku tembak berikutnya antara pasukan Israel dan pejuang Palestina, kami berhenti untuk menunggu wartawan Al Jazeera,” tambahnya.

Adegan kekacauan

Beberapa saat kemudian, Shireen Abu Akleh tiba dengan krunya.
 
“Inilah jurnalis yang laporannya saya tiru sejak kecil, dari nada suara hingga gerakan tangan, dan saya bermimpi melakukan apa yang selalu dia lakukan dengan sangat baik. Ini dia, menjalankan misi yang sama denganku,” tuturnya.
 
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif