Presiden AS Joe Biden bawa kembali negara ke Kesepakan Iklim Paris. Foto: AFP
Presiden AS Joe Biden bawa kembali negara ke Kesepakan Iklim Paris. Foto: AFP

Apa Itu Perjanjian Iklim Paris? Salah Satu Perintah Eksekutif Joe Biden setelah Dilantik

Internasional joe biden Kabinet Joe Biden Pelantikan Joe Biden Inagurasi Joe Biden
Muhammad Syahrul Ramadhan • 21 Januari 2021 11:14
Jakarta: Usai dilantik, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menandatangani sejumlah perintah eksekutif di Gedung Putih. Ada 17 perintah eksekutif yang ditandatangani Biden.
 
Salah satunya adalah kembalinya AS ke Perjanjian Iklim Paris 2015. Amerika Serikat secara resmi keluar dari perjanjian tersebut pada November 2020. Saat itu, mantan Presiden Donald Trump mengumumkan di Konferensi Tingkat Tinggi G20.
 
Berbeda dengan pendahulunya, mantan Presiden Donald Trump, Biden memutuskan kembali ke Perjanjian Iklim Paris. Kembalinya Amerika Serikat dalam kesepakatan itu merupakan tanda urgensi Biden untuk mengatasi krisis perubahan iklim.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dilansir dari laman United Nations Framework Convention on Climate Change, Perjanjian Iklim Paris adalah perjanjian internasional yang mengikat secara hukum tentang perubahan iklim. Perjanjian ini diadopsi oleh 196 negara pada COP (Conference of Parties) ke-21 di Paris, pada 12 Desember 2015 dan mulai berlaku pada 4 November 2016.
 
Tujuan dari perjanjian ini adalah untuk menahan laju peningkatan temperatur global hingga di bawah 2 derajat celcius yang diprediksi para ilmuwan (mengacu pada peningkatan rata-rata suhu global sejak Revolusi Industri).
 
Tujuan berikutnya adalah meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi terhadap dampak dari perubahan iklim. Kemudian meningkatkan ketahanan iklim, dan melaksanakan pembangunan yang bersifat rendah emisi gas rumah kaca tanpa mengancam produksi pangan.
 
Berdasarkan perjanjian tersebut, negara-negara diharapkan meningkatkan komitmen mereka untuk mengekang emisi gas rumah kaca setiap lima tahun. Dalam 30 hari, AS akan kembali menyetujui perjanjian tersebut. Dari sana, para ahli memperkirakan tekanan pada pemerintahan Biden akan meningkat.
 
Jalannya tidak akan mudah. Dengan perpecahan politik di Amerika Serikat, ditambah penolakan dari perusahaan bahan bakar fosil, dan kewaspadaan mitra internasional tentang perubahan kebijakan AS menjadi halangan.
 
"Kami keluar jalur sangat parah selama empat tahun terakhir dengan penyangkalan iklim di Ruang Oval," kata John Podesta, penasihat mantan Presiden Barack Obama yang membantu menyusun Kesepakatan Paris 2015.
 
"Kami memasuki arena internasional dengan defisit kredibilitas,” tutur Podesta.
 
(UWA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif